Breaking News

Radio Player

Loading...

Mengenal Adat Wewona To Rampi

Sabtu, 31 Oktober 2020

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Bagian III: Yustus Bunga, SP

SULSEL, ARTIKEL BERITAQ.COM – Masyarakat adat Rampi Kabupaten Luwu Utara (Lutra) Sulawesi Selatan (Sulsel), secara kelembagaan adat, wilayah komunitas adat Rampi terbagi tujuh (7) dan enam (6) Desa. Diantaranya, Leboni, Sulaku, Onondowa, Dodolo, Bangko, Mohale dan Tedeboe. Penduduk asli Rampi berdiam di Bangko, dengan bahasa Rampi.

Secara geografis wilayah adat Rampi berbatasan Bada’ (Kabupaten Poso) Sulawesi Tengah (Sulteng) di Utara, Kecamatan Masamba di Selatan, Kecamatan Seko di Barat, dan Kecamatan Mangkutana (Luwu Timur) di bagian Timur.

ads

Secara administratif Kecamatan Rampi terdiri atas enam desa, yakni Leboni, Sulaku, Onondowa, Dodolo, Bangko dan desa Tedeboe.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal itu diungkapkan Tokey Tonitongko (Ketua Adat wilayah Tana To Rampi), Paulus Sigi, belum lama ini.

Dikatakannya, wilayah adat Rampi merupakan daerah dataran tinggi terisolir di Luwu Utara yang berjuluk Bumi Lamaranginang.

Wilayahnya memiliki pegunungan dan Coverage hutan yang padat belantara, berbukit-bukit dengan padang rumput dan sabana yang luas. Mengalir sungai besar dengan air jernih. Diantaranya, Sungai Mabu, Mallubu, Mui, Tobon, Petompon, Makoka, Totahi dan Sungai Ratu.

Tokey Tonitongko, Paulus Sigi menuturkan, adat Tana To Rampi juga masih kental seperti adat Perkawinan/Mewona.

Diantaranya mengantar pengantin laki-laki pada malam pengantin dan diantar oleh Dewan Adat dan orang tua ke rumah pengantin perempuan pada malam pengantin. Jumlah rombongan inti lima (5) orang.

Itu terdiri, kalau adat Dodolo Wute Leboni, yakni Tomoholempa Piho (yang membawa pedang), Tomangkomi Goa’ (yang membawa pengantin laki-laki),” tuturnya.

Kemudian Toa’na (pengantin laki-laki), Tomangkomi Podiha’ Kotorua (yang membawa barang untuk memasuki kamar pengantin perempuan), Tomoholempa Hepu’ (yang membawa tempat siri) dan Tomeromboi (keluarga yang meramaikan).

Sedang adat Bangko dan Tede’Boe’ yakni Tope’uba Podiha’ Kotorua, Topololita, Toa’na/Tonipohamoko, Tomeromboi (keluarga pihak laki-laki).

Rombongan pengantin laki-laki berjalan menuju rumah pengantin perempuan sesuai urutan diatas. Setelah rombongan pengantin laki-laki tiba dirumah pengantin perempuan, maka yang mengetuk pintu adalah, Tomoholempa Piho dan apabila pintu telah dibuka Mehorimo Mahura Ipahuraa Tono Tidokitomotodina Towowe’o.

Acara Mewona didahului dengan Doa, setelah itu Modiha’ Kotorua dan Tomoholempa Piho Mohoda Piho. Selanjutnya keluarga atau orang tua pihak pengantin perempuan menanyakan maksud kedatangan rombongan pengantin laki-laki.

Ketua adat rombongan pengantin laki-laki pun mengutarakan maksud kedatangan mereka, setelah pembicaraan selesai, dilanjutkan rencana Meloti dan Mampopehori besok paginya. (bersambung). (yus)

Simpan Gambar:

Berita Terkait

Energi Stabil untuk Ekonomi Rendah Karbon
Transformasi Strategis Sektor Energi Nuklir dalam Era Artificial Intelligence
Sinergi Nuklir dan EBT: Menambal Celah Intermitensi demi Kedaulatan Energi
PLTN Untuk Generasi Muda: Peluang Karier Baru yang Jarang Dibahas
Asia Tenggara Masuki Era Nuklir Jangan Sampai Indonesia Hanya Jadi Penonton
Apa yang Akan Kita Wariskan? Asap, atau Cahaya?
Pemekaran Provinsi Luwu Raya: Antara Janji Sejarah dan Legitimasi Elit Politik Sulawesi Selatan
Relevansi Energi Nuklir bagi Konservasi Alam
Berita ini 10 kali dibaca
Tags:

Berita Terkait

Selasa, 20 Januari 2026 - 13:29 WITA

Energi Stabil untuk Ekonomi Rendah Karbon

Selasa, 20 Januari 2026 - 13:25 WITA

Transformasi Strategis Sektor Energi Nuklir dalam Era Artificial Intelligence

Rabu, 14 Januari 2026 - 18:22 WITA

Sinergi Nuklir dan EBT: Menambal Celah Intermitensi demi Kedaulatan Energi

Rabu, 14 Januari 2026 - 18:15 WITA

PLTN Untuk Generasi Muda: Peluang Karier Baru yang Jarang Dibahas

Rabu, 7 Januari 2026 - 17:00 WITA

Asia Tenggara Masuki Era Nuklir Jangan Sampai Indonesia Hanya Jadi Penonton

Rabu, 7 Januari 2026 - 15:31 WITA

Apa yang Akan Kita Wariskan? Asap, atau Cahaya?

Senin, 5 Januari 2026 - 22:18 WITA

Pemekaran Provinsi Luwu Raya: Antara Janji Sejarah dan Legitimasi Elit Politik Sulawesi Selatan

Senin, 5 Januari 2026 - 16:36 WITA

Relevansi Energi Nuklir bagi Konservasi Alam

Berita Terbaru

Kriminal Hukum

Resmob Polsek Tamalate Ringkus Pelaku Curat di Warung

Rabu, 21 Jan 2026 - 17:19 WITA