Breaking News

Radio Player

Loading...

Polemik Alih Fungsi Lahan Di Pekon Taman Sari Jadi Polemik Polemik Warga Mengeluhkan Iuran Siluman

Minggu, 28 September 2025

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Tanggamus DNID MEDIALAMPUNG— Polemik alih fungsi lahan di Register 28, Pekon Taman Sari, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus, kian memanas. Sejumlah warga mengaku resah karena adanya pungutan iuran yang dikaitkan dengan proses permohonan pelepasan kawasan hutan seluas lebih dari 3.000 hektar.

 

Warga Diminta Iuran

ads

Informasi yang dihimpun, masyarakat dimintai iuran dengan nominal bervariasi mulai Rp50 ribu hingga Rp500 ribu. Alasannya, dana tersebut dipergunakan untuk biaya transportasi panitia ke Jakarta dalam rangka mengurus pelepasan kawasan hutan Register 28. Pungutan ini dilakukan oleh oknum perangkat dusun dan RT setempat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Namun hingga kini, keberadaan panitia yang disebut sebagai pengelola kegiatan masih menjadi tanda tanya. Ketua dan bendahara panitia saat dihubungi melalui telepon maupun WhatsApp tidak aktif.

 

Berdasarkan keterangan warga, panitia membuat program ini khusus bagi masyarakat yang memiliki kebun di dalam kawasan Register 28 dengan dalih lahan tersebut akan dialihfungsikan menjadi tanah negeri.

 

Kesaksian Warga

Seorang warga yang ditemui Media ini mengaku dimintai iuran oleh oknum aparat dusun.

“Iya, ada iuran terkait alih fungsi lahan kawasan jadi tanah negeri. Saya diminta seratus ribu rupiah oleh kadus. Kalau lahannya lebih luas, bisa sampai dua ratus ribu per hektar,” ungkap salah satu warga yang meminta namanya dirahasiakan.

 

Warga tersebut juga menegaskan agar identitasnya tidak dipublikasikan karena khawatir akan ada tekanan dari pihak tertentu.

 

Kakon Taman Sari Angkat Bicara

Kepala Pekon Taman Sari, Sahri, menegaskan bahwa aparatur pekon tidak terlibat langsung dalam pengumpulan iuran tersebut.

 

“Saya membangun desa, bukan kawasan. Kalau ada pembangunan fisik di dalam kawasan Register 28, itu karena kawasan tersebut memang berada di dalam wilayah Pekon Taman Sari,” tegas Sahri.

 

Tanggapan Camat Pugung

Camat Pugung saat ditemui di kantor kecamatan mengaku sudah mendengar laporan terkait pungutan tersebut.

 

“Kalau mau berjuang membantu warga, ya bantu betul-betul. Kalau hanya untuk ongkos, itu sifatnya sumbangan keikhlasan dari masyarakat. Di Pringsewu pernah juga terjadi, tapi tidak ada biaya. Kecuali kalau usulan berhasil, barulah ada biaya resmi untuk pengukuran lokasi dari pemerintah,” jelasnya.

 

Potensi Pelanggaran Hukum

Apabila benar pungutan dilakukan tanpa dasar hukum resmi, maka hal tersebut berpotensi masuk kategori pungutan liar (pungli) sesuai:

UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Pasal 12 huruf e, dengan ancaman pidana penjara hingga 20 tahun.

PP Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, yang mewajibkan semua pungutan disetorkan ke kas negara/daerah.

KUHP Pasal 368 tentang pemerasan, jika ada unsur paksaan.

 

Selain itu, jika terdapat pembangunan fisik di dalam kawasan Register 28 tanpa izin resmi pelepasan kawasan, maka dapat melanggar UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Pasal 50 ayat (3), dengan ancaman pidana 10 tahun penjara serta denda hingga Rp5 miliar.

 

Kesimpulan

Kasus dugaan iuran alih fungsi lahan di Register 28 Pekon Taman Sari masih menimbulkan keresahan masyarakat. Kepala Pekon menegaskan tidak ikut campur, sementara keberadaan panitia yang disebut sebagai penanggung jawab sulit dilacak. Transparansi dan legalitas penggunaan dana iuran pun masih menjadi tanda tanya besar.

 

Masyarakat berharap pemerintah daerah dan aparat penegak hukum segera turun tangan agar persoalan ini tidak semakin merugikan warga.(Team)

Simpan Gambar:

Penulis : MR

Editor : RA

Sumber Berita : Wawancara dengan Narasumber

Penanggung Jawab : Tim

Berita Terkait

Energi Stabil untuk Ekonomi Rendah Karbon
Transformasi Strategis Sektor Energi Nuklir dalam Era Artificial Intelligence
Sinergi Nuklir dan EBT: Menambal Celah Intermitensi demi Kedaulatan Energi
PLTN Untuk Generasi Muda: Peluang Karier Baru yang Jarang Dibahas
Asia Tenggara Masuki Era Nuklir Jangan Sampai Indonesia Hanya Jadi Penonton
Apa yang Akan Kita Wariskan? Asap, atau Cahaya?
Pemekaran Provinsi Luwu Raya: Antara Janji Sejarah dan Legitimasi Elit Politik Sulawesi Selatan
Relevansi Energi Nuklir bagi Konservasi Alam
Berita ini 56 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Januari 2026 - 13:29 WITA

Energi Stabil untuk Ekonomi Rendah Karbon

Selasa, 20 Januari 2026 - 13:25 WITA

Transformasi Strategis Sektor Energi Nuklir dalam Era Artificial Intelligence

Rabu, 14 Januari 2026 - 18:22 WITA

Sinergi Nuklir dan EBT: Menambal Celah Intermitensi demi Kedaulatan Energi

Rabu, 14 Januari 2026 - 18:15 WITA

PLTN Untuk Generasi Muda: Peluang Karier Baru yang Jarang Dibahas

Rabu, 7 Januari 2026 - 17:00 WITA

Asia Tenggara Masuki Era Nuklir Jangan Sampai Indonesia Hanya Jadi Penonton

Rabu, 7 Januari 2026 - 15:31 WITA

Apa yang Akan Kita Wariskan? Asap, atau Cahaya?

Senin, 5 Januari 2026 - 22:18 WITA

Pemekaran Provinsi Luwu Raya: Antara Janji Sejarah dan Legitimasi Elit Politik Sulawesi Selatan

Senin, 5 Januari 2026 - 16:36 WITA

Relevansi Energi Nuklir bagi Konservasi Alam

Berita Terbaru

Serba-Serbi

Bupati Takalar Komitmen Tingkatkan Kualitas Layanan Publik

Senin, 26 Jan 2026 - 20:41 WITA