Mendekonstruksi Mitologi Orde Baru: Perspektif Ilmu Politik atas Usulan Gelar Pahlawan untuk Soeharto

Wacana pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan administratif atau penghormatan atas jasa di masa lampau. Isu ini menyentuh ranah politik yang lebih dalam yakni bagaimana bangsa menafsirkan sejarah dan menentukan siapa yang layak menjadi simbol moral publik. Dalam perspektif ilmu politik, perdebatan semacam ini bukan sekadar tentang individu, melainkan tentang perebutan makna dan legitimasi dalam ingatan kolektif bangsa.

 

Memang benar, masa pemerintahan Soeharto diwarnai oleh kemajuan ekonomi dan pembangunan infrastruktur yang pesat. Namun, keberhasilan tersebut tidak dapat dilepaskan dari praktik politik yang memusatkan kekuasaan, membatasi kebebasan sipil, dan menyingkirkan kritik melalui mekanisme kontrol negara yang ketat. Dalam kerangka teori politik, fenomena ini dapat dibaca sebagai bentuk hegemoni otoritarian, di mana narasi pembangunan digunakan sebagai instrumen legitimasi kekuasaan sekaligus alat pembenaran terhadap pembatasan kebebasan.

 

Mitologi Pembangunan dan Politik Ingatan

 

Selama tiga dekade kekuasaannya, Orde Baru membentuk mitos “Bapak Pembangunan” yang melekat pada figur Soeharto. Melalui jalur pendidikan, media massa, dan birokrasi, citra tersebut ditanamkan secara sistematis sehingga membentuk persepsi publik bahwa stabilitas lebih penting daripada demokrasi.

 

Kini, ketika wacana pemberian gelar pahlawan kembali mencuat, mitos itu tampak dihidupkan ulang. Dari kacamata politics of memory, langkah ini bukan sekadar penghargaan historis, melainkan juga strategi simbolik untuk menata kembali memori publik dan merehabilitasi citra masa lalu. Dalam konteks ini, pemberian gelar pahlawan dapat dimaknai sebagai upaya meneguhkan kembali legitimasi politik yang pernah kehilangan dasar moralnya.

 

Rekonsiliasi yang Belum Tuntas

 

Sebagian pihak berargumen bahwa penghargaan ini merupakan bentuk rekonsiliasi nasional. Namun, rekonsiliasi tanpa pengakuan dan tanggung jawab sejarah hanya akan menjadi simbol tanpa substansi. Luka sosial akibat peristiwa 1965, pembungkaman kebebasan berpendapat, serta praktik korupsi sistemik belum sepenuhnya dihadapi secara terbuka.

 

Dalam teori legitimasi politik, rekonsiliasi yang sejati lahir dari akuntabilitas dan keberanian menghadapi masa lalu, bukan dari pelupaan kolektif. Menobatkan Soeharto sebagai pahlawan sebelum proses itu berlangsung sama saja dengan menormalkan pelanggaran masa lalu sebagai bagian dari kebesaran bangsa.

Demokrasi dan Tantangan Ingatan

Lebih dari dua puluh tahun setelah reformasi, demokrasi Indonesia menghadapi paradoks. Di satu sisi, kebebasan politik telah diperluas; di sisi lain, muncul nostalgia terhadap stabilitas Orde Baru. Dalam konteks krisis kepercayaan terhadap demokrasi, wacana penghargaan terhadap Soeharto dapat menjadi refleksi dari kemunduran kesadaran politik masyarakat.

Bangsa yang mudah memaafkan tanpa mengingat akan cenderung kehilangan daya kritis terhadap kekuasaan. Demokrasi tanpa ingatan berisiko melahirkan reproduksi kekuasaan lama dalam bentuk baru lebih halus, tetapi tidak kalah dominan.

Penutup: Antara Pahlawan dan Legitimasi Moral

Pahlawan, dalam arti politik, bukan sekadar tokoh yang memimpin atau membangun, melainkan figur yang menegakkan nilai keadilan dan kemanusiaan. Dalam ukuran tersebut, Soeharto belum memenuhi standar etika politik yang layak untuk disebut pahlawan.

 

Menolak pemberian gelar pahlawan bukan berarti menolak sejarah, tetapi menegaskan komitmen terhadap kejujuran dan tanggung jawab moral bangsa. Demokrasi yang matang hanya dapat tumbuh di atas keberanian menatap masa lalu secara jernih, bukan pada romantisme yang menutupi luka sejarah.

Simpan sebagai Kenangan

Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.

Simpan Gambar:

Senin, 3 November 2025

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Menghubungkan ke server...
Simpan Gambar:

Berita Terkait

Dandim 0502/JU Bersama Forkopimko Jakarta Utara Dampingi Kapolda Metro Jaya Tinjau Lokasi Pasca Penertiban di Kampung Bahari
PT. Mutiara Gunung Agung Klarifikasi Retak Proyek Rp12,8 Miliar Taccipi-Tokaseng: Hanya Plesteran Karena Panas
Operasi Patuh Pallawa 2026, Satlantas Polrestabes Makassar Edukasi Pelajar SMA
Pasca RSUD La Palaloi Disorot, Chaidir Syam Minta Pelayanan Diperbaiki: ASN Itu Pelayan, Bukan Bos
Masuk Tahap Verifikasi Lapangan PUG, Darmawangsyah Muin Harap Gowa kembali Raih APE 2026
KBPBI Seret Nama Presiden Direktur Epson di Kasus Staycation
4 Ultimatum FSPGI untuk Epson, Ancam Boikot Produk
Cegah Sejak Dini, Sosialisasi Bahaya Narkoba Sasar Pelajar SMP Wujudkan Generasi Bersih Narkoba
Berita ini 41 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 18:24 WITA

Dandim 0502/JU Bersama Forkopimko Jakarta Utara Dampingi Kapolda Metro Jaya Tinjau Lokasi Pasca Penertiban di Kampung Bahari

Selasa, 3 November 2026 - 17:17 WITA

PT. Mutiara Gunung Agung Klarifikasi Retak Proyek Rp12,8 Miliar Taccipi-Tokaseng: Hanya Plesteran Karena Panas

Selasa, 3 November 2026 - 11:30 WITA

Pasca RSUD La Palaloi Disorot, Chaidir Syam Minta Pelayanan Diperbaiki: ASN Itu Pelayan, Bukan Bos

Selasa, 3 November 2026 - 08:39 WITA

Masuk Tahap Verifikasi Lapangan PUG, Darmawangsyah Muin Harap Gowa kembali Raih APE 2026

Selasa, 3 November 2026 - 01:33 WITA

KBPBI Seret Nama Presiden Direktur Epson di Kasus Staycation

Selasa, 3 November 2026 - 00:52 WITA

4 Ultimatum FSPGI untuk Epson, Ancam Boikot Produk

Senin, 2 November 2026 - 19:14 WITA

Cegah Sejak Dini, Sosialisasi Bahaya Narkoba Sasar Pelajar SMP Wujudkan Generasi Bersih Narkoba

Senin, 2 November 2026 - 18:40 WITA

Tersembunyi di Kotak Rokok dan Kardus Lampu, Begini Cara Polisi Bongkar Kasus Sabu di Bangka Barat

Berita Terbaru