Ubah Daun Terabaikan Jadi Tas Cantik, KKN Walisongo Posko 25 Ajak Siswa SD Berkreasi
Siswa kelas 4 SDN 03 Lemahireng mengikuti praktik pembuatan ecoprint yang digelar KKN MIT Walisongo Posko 25 di Desa Lemahireng, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Jumat (14/8/2026). Sebanyak 31 siswa terlibat dalam kegiatan yang memanfaatkan dedaunan sebagai bahan alami untuk menghasilkan motif pada tas kain.
BAWEN — Sebanyak 31 siswa kelas 4 SDN 03 Lemahireng, Desa Lemahireng, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, mengikuti praktik pembuatan ecoprint, Jumat (14/8/2026). Kegiatan yang digelar KKN MIT Walisongo Posko 25 itu berlangsung pukul 07.30 hingga 10.00 WIB sebagai bagian dari edukasi pemanfaatan bahan alami dan kepedulian terhadap lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa diajak membuat motif pada kain menggunakan dedaunan dan bagian tumbuhan yang berada di sekitar lingkungan sekolah. Praktik dilakukan secara berkelompok agar siswa dapat terlibat langsung dalam setiap tahapan pembuatan ecoprint.
Mahasiswa KKN MIT Walisongo Posko 25 menghadirkan Andrian, anggota bidang kesehatan lingkungan (Kesling), sebagai pemateri. Ia memberikan penjelasan mengenai ecoprint sekaligus mendampingi siswa selama proses praktik, mulai dari memilih daun hingga memindahkan motif alami ke kain.
Andrian mengatakan, ecoprint dipilih karena prosesnya relatif sederhana dan dapat menjadi media pengenalan lingkungan kepada siswa sekolah dasar.
“Teknik ecoprint ini tergolong simpel dan aman untuk anak-anak. Kami sengaja memilih materi ini supaya mereka tahu bahwa daun-daun di sekitar sekolah yang biasanya terabaikan ternyata bisa dimanfaatkan menjadi karya seni,” ujar Andrian.
Dalam praktiknya, siswa terlebih dahulu memilih daun yang akan digunakan sebagai motif. Daun kemudian ditata di atas kain putih sesuai dengan pola yang diinginkan sebelum dilakukan proses pemindahan pigmen alami.
Andrian menyebut pendampingan dilakukan agar setiap siswa dapat mencoba sendiri proses pembuatan ecoprint, bukan hanya melihat demonstrasi dari pemateri.
“Kami dampingi dari awal, mulai dari memilih daun, menata komposisinya di atas kain, sampai proses pemindahan motif. Kami ingin setiap kelompok bisa mencoba sendiri seluruh prosesnya,” katanya.
Kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk bekerja sama dengan teman satu kelompok. Mereka berdiskusi menentukan daun dan susunan motif sebelum menghasilkan karya masing-masing.
Salah seorang siswa kelas 4, Najma, mengaku senang mengikuti praktik ecoprint karena dapat membuat motif menggunakan bahan yang ditemukan di lingkungan sekitar.
“Seru karena bisa membuat motif dari daun. Sebelumnya saya tidak tahu kalau daun bisa digunakan untuk membuat gambar di kain,” ujar Najma.
Kepala SDN 03 Lemahireng, NIda, menyambut baik kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa KKN MIT Walisongo Posko 25 tersebut. Menurutnya, praktik secara langsung dapat menjadi variasi pembelajaran bagi siswa kelas 4.
“Kami dari pihak sekolah tentu sangat menyambut baik kegiatan ini. Praktik ecoprint menjadi variasi belajar yang menyenangkan sehingga anak-anak tidak hanya belajar teori di dalam kelas,” tutur Nida.
Ia menilai kegiatan tersebut juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih ketelitian, kreativitas, dan kerja sama selama proses pembuatan karya.
“Anak-anak kelas 4 biasanya lebih cepat memahami sesuatu kalau langsung praktik. Lewat kegiatan ini mereka belajar memilih bahan, menyusun motif, bekerja sama, dan berkreasi dengan bahan yang ada di sekitar,” jelasnya.
Setelah seluruh tahapan selesai, para siswa menunjukkan hasil karya ecoprint yang dibuat pada tas kain dengan motif dari dedaunan. Karya tersebut menjadi hasil praktik siswa selama mengikuti kegiatan dari pagi hingga menjelang siang.
Nida berharap pengalaman tersebut tidak berhenti pada kegiatan di sekolah, tetapi dapat mendorong siswa untuk lebih memperhatikan dan memanfaatkan bahan-bahan alami di lingkungan sekitar secara bijak.
“Harapan kami, pengalaman sederhana ini bisa membuat anak-anak lebih peka terhadap lingkungan. Mereka bisa belajar bahwa bahan yang ada di sekitar juga dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna,” pungkas Nida.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Ubah Daun Terabaikan Jadi Tas Cantik, KKN Walisongo Posko 25 Ajak Siswa SD Berkreasi
SABTU, 15 AGUSTUS 2026
BAWEN — Sebanyak 31 siswa kelas 4 SDN 03 Lemahireng, Desa Lemahireng, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, mengikuti praktik pembuatan ecoprint, Jumat (14/8/2026). Kegiatan yang digelar KKN MIT Walisongo Posko 25 itu berlangsung pukul 07.30 hingga 10.00 WIB sebagai bagian dari edukasi pemanfaatan bahan alami dan kepedulian terhadap lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa diajak membuat motif pada kain menggunakan dedaunan dan bagian tumbuhan yang berada di sekitar lingkungan sekolah. Praktik dilakukan secara berkelompok agar siswa dapat terlibat langsung dalam setiap tahapan pembuatan ecoprint.
Mahasiswa KKN MIT Walisongo Posko 25 menghadirkan Andrian, anggota bidang kesehatan lingkungan (Kesling), sebagai pemateri. Ia memberikan penjelasan mengenai ecoprint sekaligus mendampingi siswa selama proses praktik, mulai dari memilih daun hingga memindahkan motif alami ke kain.
Andrian mengatakan, ecoprint dipilih karena prosesnya relatif sederhana dan dapat menjadi media pengenalan lingkungan kepada siswa sekolah dasar.
“Teknik ecoprint ini tergolong simpel dan aman untuk anak-anak. Kami sengaja memilih materi ini supaya mereka tahu bahwa daun-daun di sekitar sekolah yang biasanya terabaikan ternyata bisa dimanfaatkan menjadi karya seni,” ujar Andrian.
Dalam praktiknya, siswa terlebih dahulu memilih daun yang akan digunakan sebagai motif. Daun kemudian ditata di atas kain putih sesuai dengan pola yang diinginkan sebelum dilakukan proses pemindahan pigmen alami.
Andrian menyebut pendampingan dilakukan agar setiap siswa dapat mencoba sendiri proses pembuatan ecoprint, bukan hanya melihat demonstrasi dari pemateri.
“Kami dampingi dari awal, mulai dari memilih daun, menata komposisinya di atas kain, sampai proses pemindahan motif. Kami ingin setiap kelompok bisa mencoba sendiri seluruh prosesnya,” katanya.
Kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk bekerja sama dengan teman satu kelompok. Mereka berdiskusi menentukan daun dan susunan motif sebelum menghasilkan karya masing-masing.
Salah seorang siswa kelas 4, Najma, mengaku senang mengikuti praktik ecoprint karena dapat membuat motif menggunakan bahan yang ditemukan di lingkungan sekitar.
“Seru karena bisa membuat motif dari daun. Sebelumnya saya tidak tahu kalau daun bisa digunakan untuk membuat gambar di kain,” ujar Najma.
Kepala SDN 03 Lemahireng, NIda, menyambut baik kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa KKN MIT Walisongo Posko 25 tersebut. Menurutnya, praktik secara langsung dapat menjadi variasi pembelajaran bagi siswa kelas 4.
“Kami dari pihak sekolah tentu sangat menyambut baik kegiatan ini. Praktik ecoprint menjadi variasi belajar yang menyenangkan sehingga anak-anak tidak hanya belajar teori di dalam kelas,” tutur Nida.
Ia menilai kegiatan tersebut juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih ketelitian, kreativitas, dan kerja sama selama proses pembuatan karya.
“Anak-anak kelas 4 biasanya lebih cepat memahami sesuatu kalau langsung praktik. Lewat kegiatan ini mereka belajar memilih bahan, menyusun motif, bekerja sama, dan berkreasi dengan bahan yang ada di sekitar,” jelasnya.
Setelah seluruh tahapan selesai, para siswa menunjukkan hasil karya ecoprint yang dibuat pada tas kain dengan motif dari dedaunan. Karya tersebut menjadi hasil praktik siswa selama mengikuti kegiatan dari pagi hingga menjelang siang.
Nida berharap pengalaman tersebut tidak berhenti pada kegiatan di sekolah, tetapi dapat mendorong siswa untuk lebih memperhatikan dan memanfaatkan bahan-bahan alami di lingkungan sekitar secara bijak.
“Harapan kami, pengalaman sederhana ini bisa membuat anak-anak lebih peka terhadap lingkungan. Mereka bisa belajar bahwa bahan yang ada di sekitar juga dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna,” pungkas Nida.