Manfaatkan Limbah Organik, KKN MIT UIN Walisongo Posko 213 Ajak Warga Banyuurip Hasilkan Kompos
KENDAL – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Insiatif Terprogram (KKN MIT) ke-22 posko 213 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mengadakan kegiatan sosialisasi sekaligus praktik pembuatan pupuk kompos di Dusun Pedalangan, Desa Banyuurip, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, Minggu (16/8/2026).
Kegiatan yang menekankan slogan “Pilah, Olah, Manfaatkan” ini mengajak warga sekitar agar dapat memilah, mengolah, dan memanfaatkan sampah rumah tangga atau organik sebagai pupuk kompos yang kemudian dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman.
Langkah ini diambil oleh divisi sosial dan ekonomi (Sosek) mahasiswa KKN MIT Posko 213 karena ingin warga mampu membuat pupuk kompos dari bahan-bahan sederhana seperti sisa sayuran yang dihasilkan sehari-hari menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Kegiatan ini diawali dengan adanya senam bersama yang lalu dilanjutkan dengan sosialisasi mengenai pupuk kompos, dan diakhiri dengan praktek bersama pembuatannya.
Menurut Koordinator Divisi Sosek, Angga Khoiril Anwar, rangkaian acara yang diawali senam ini untuk meningkatkan antusiasme warga sebelum mendengarkan sosialisasi dan praktik langsung membuat pupuk kompos.
“Kegiatan ini diawali dengan senam bersama untuk meningkatkan rasa antusiasme warga sehingga mereka akan aktif dalam mengikuti sosialisasi dan praktek pembuatan kompos,” ucapnya.
Ia juga menyebutkan alasannya memilih target audiensnya yang merupakan ibu-ibu desa adalah karena urusan sampah makanan atau organik dan juga pengelolaan sampah biasanya sangat berkaitan erat dengan ibu-ibu.
“Karena ibu-ibu yang berhubungan erat dengan dapur dan pengelolaan sampah, maka kami mengajak ibu-ibu sebagai audiens kegiatan ini,” ungkapnya.
Anwar juga mengatakan jika setelah diadakannya kegiatan ini,ia berharap masyarakat Banyuurip akan selalu mengembangkan pembuatan kompos untuk mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan.
“Saya berharap setelah ini, masyarakat Banyuurip selalu mengembangkan pembuatan kompos ini untuk mengurangi membuang sampah sembarangan Ketika minim tempat pembuangan,” ujarnya.
Warga Dusun Pedalangan Telah Membuat Pupuk Kompos
Ibu kepala desa Banyuurip, Ita, menanggapi antusiasme warga yang hadir pada acara ini. Ia mengatakan karena sedang musim panen tembakau, tak banyak warga yang datang, tetapi masih banyak yang tetap antusias dan semangat.
“Karena sedang musim tembakau, jadi tidak terlalu banyak yang datang, tetapi tetap pada semangat,” ungkapnya.
Sementara itu, warga dusun padalangan, Rukayah, mengaku senang mengikuti kegiatan sosialisasi ini dan merasa terbantu akan penjelasan pemateri mengenai kompos.
“Saya senang karena sebelumnya hanya mengetahui apa itu kompos, tetapi setelah ini menjadi tahu lebih detail tentang kompos dan sampah organik, saya merasa terbantu,” ujarnya.
Ia berharap dengan pemanfaatan limbah organik ini mampu membuat tanamannya lebih subur sekaligus mampu mengurangi sampah yang berpotensi menyebabkan banjir di Banyuurip.
“Harapannya saya bisa mempraktekan sehingga membuat tanaman saya menjadi subur. tidak harus dibuang ke sungai lagi yang bisa menyebabkan banjir,” tutupnya.
Kegiatan ini selain dimaksudkan agar masyarakat mampu memanfaatkan limbah organik yang kemudian dapat dijadikan pupuk kompos yang bisa menyuburkan tanaman, tim anggota KKN MIT ke-22 posko 213 juga berharap adanya pemanfaatan limbah organik ini mampu menjadi upaya untuk membuat desa Banyuurip khususnya dusun Padalangan menjadi lebih bersih dan mengurangi resiko terjadinya banjir karena luapan air sungai.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Manfaatkan Limbah Organik, KKN MIT UIN Walisongo Posko 213 Ajak Warga Banyuurip Hasilkan Kompos
SELASA, 18 AGUSTUS 2026
KENDAL - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Insiatif Terprogram (KKN MIT) ke-22 posko 213 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mengadakan kegiatan sosialisasi sekaligus praktik pembuatan pupuk kompos di Dusun Pedalangan, Desa Banyuurip, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, Minggu (16/8/2026).
Kegiatan yang menekankan slogan “Pilah, Olah, Manfaatkan” ini mengajak warga sekitar agar dapat memilah, mengolah, dan memanfaatkan sampah rumah tangga atau organik sebagai pupuk kompos yang kemudian dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman.
Langkah ini diambil oleh divisi sosial dan ekonomi (Sosek) mahasiswa KKN MIT Posko 213 karena ingin warga mampu membuat pupuk kompos dari bahan-bahan sederhana seperti sisa sayuran yang dihasilkan sehari-hari menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Kegiatan ini diawali dengan adanya senam bersama yang lalu dilanjutkan dengan sosialisasi mengenai pupuk kompos, dan diakhiri dengan praktek bersama pembuatannya.
Menurut Koordinator Divisi Sosek, Angga Khoiril Anwar, rangkaian acara yang diawali senam ini untuk meningkatkan antusiasme warga sebelum mendengarkan sosialisasi dan praktik langsung membuat pupuk kompos.
“Kegiatan ini diawali dengan senam bersama untuk meningkatkan rasa antusiasme warga sehingga mereka akan aktif dalam mengikuti sosialisasi dan praktek pembuatan kompos,” ucapnya.
Ia juga menyebutkan alasannya memilih target audiensnya yang merupakan ibu-ibu desa adalah karena urusan sampah makanan atau organik dan juga pengelolaan sampah biasanya sangat berkaitan erat dengan ibu-ibu.
“Karena ibu-ibu yang berhubungan erat dengan dapur dan pengelolaan sampah, maka kami mengajak ibu-ibu sebagai audiens kegiatan ini,” ungkapnya.
Anwar juga mengatakan jika setelah diadakannya kegiatan ini,ia berharap masyarakat Banyuurip akan selalu mengembangkan pembuatan kompos untuk mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan.
“Saya berharap setelah ini, masyarakat Banyuurip selalu mengembangkan pembuatan kompos ini untuk mengurangi membuang sampah sembarangan Ketika minim tempat pembuangan,” ujarnya.
Ibu kepala desa Banyuurip, Ita, menanggapi antusiasme warga yang hadir pada acara ini. Ia mengatakan karena sedang musim panen tembakau, tak banyak warga yang datang, tetapi masih banyak yang tetap antusias dan semangat.
“Karena sedang musim tembakau, jadi tidak terlalu banyak yang datang, tetapi tetap pada semangat,” ungkapnya.
Sementara itu, warga dusun padalangan, Rukayah, mengaku senang mengikuti kegiatan sosialisasi ini dan merasa terbantu akan penjelasan pemateri mengenai kompos.
“Saya senang karena sebelumnya hanya mengetahui apa itu kompos, tetapi setelah ini menjadi tahu lebih detail tentang kompos dan sampah organik, saya merasa terbantu,” ujarnya.
Ia berharap dengan pemanfaatan limbah organik ini mampu membuat tanamannya lebih subur sekaligus mampu mengurangi sampah yang berpotensi menyebabkan banjir di Banyuurip.
“Harapannya saya bisa mempraktekan sehingga membuat tanaman saya menjadi subur. tidak harus dibuang ke sungai lagi yang bisa menyebabkan banjir,” tutupnya.
Kegiatan ini selain dimaksudkan agar masyarakat mampu memanfaatkan limbah organik yang kemudian dapat dijadikan pupuk kompos yang bisa menyuburkan tanaman, tim anggota KKN MIT ke-22 posko 213 juga berharap adanya pemanfaatan limbah organik ini mampu menjadi upaya untuk membuat desa Banyuurip khususnya dusun Padalangan menjadi lebih bersih dan mengurangi resiko terjadinya banjir karena luapan air sungai.
Penulis: Anindya Nazmi Khumaira
Sumber: Tim KKN MIT Posko 213 UIN Walisongo Semarang
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.