Jeneponto, DNID.co.id – Insiden kecelakaan lalu lintas di Desa Bontotiro, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel), berujung pada ketegangan serius.
Seorang oknum anggota DPRD Kabupaten Jeneponto dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) diduga mengerahkan massa bersenjata tajam (Bersajam) untuk mendatangi warga, sehingga situasi nyaris berujung bentrokan.
Peristiwa ini bermula dari kecelakaan antara sebuah mobil Mitsubishi Pajero berwarna hitam bernomor polisi DD 9 dengan sepeda motor yang dikendarai seorang perempuan bernama Maya, anak dari Taufan Gau (49).
Menurut keterangan Taufan, mobil Pajero tersebut awalnya melaju di depan anaknya di jalan poros Desa Bontotiro. Namun secara tiba-tiba kendaraan itu berhenti mendadak di tengah jalan tanpa memberikan tanda apa pun.
“Mobil Pajero tiba-tiba berhenti di tengah jalan tanpa ada tanda-tanda. Anak saya tidak sempat menghindar,” ungkap Taufan.
Akibat kejadian itu, korban terjatuh dan mengalami luka serius di bagian kepala. Bahkan disebut mengalami retak pada kepala akibat benturan keras.
“Anak saya luka di kepala, retak kepalanya. Sementara pengendara itu kabur,” tambahnya.
Alih-alih memberikan pertolongan, pengemudi mobil Pajero justru diduga melarikan diri dari lokasi kejadian. Melihat hal tersebut, sepupu korban yang berada di tempat kejadian langsung berinisiatif mengejar pelaku untuk meminta pertanggungjawaban.
Setelah berhasil ditemukan, keluarga korban meminta agar pelaku segera membantu membawa korban ke rumah sakit. Namun, pengemudi mobil yang diduga merupakan adik dari seorang anggota DPRD Jeneponto itu tidak terima dan justru marah, hingga memicu pertengkaran yang berujung perkelahian.
Situasi sempat mereda, namun kembali memanas ketika pengemudi mobil Pajero menghubungi kakaknya yang disebut bernama Humaira Ishad, seorang anggota DPRD Kabupaten Jeneponto.
Tak lama berselang, oknum anggota dewan tersebut diduga datang bersama sekelompok massa. Mereka disebut membawa senjata tajam seperti badik, sabit, dan lainnya, serta berteriak-teriak di lokasi kejadian.
“Mereka datang beramai-ramai, ada yang bawa badik dan sabit, teriak-teriak. Kami memilih menghindar,” jelas Taufan.
Kehadiran massa bersenjata tersebut membuat warga sekitar merasa terancam dan memilih menghindari konfrontasi untuk mencegah bentrokan yang lebih besar.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait insiden tersebut maupun klarifikasi dari pihak yang disebut-sebut terlibat. Warga berharap aparat penegak hukum segera mengambil tindakan tegas guna mengusut tuntas kasus ini serta memberikan rasa aman dan keadilan bagi korban.
Kasus ini menjadi perhatian publik karena tidak hanya menyangkut kecelakaan lalu lintas, tetapi juga dugaan keterlibatan oknum pejabat dalam pengerahan massa yang berpotensi menimbulkan konflik horizontal di tengah masyarakat.
























