Makassar,DNID.co.id — Aksi tawuran yang melibatkan pelajar gabungan dari empat SMP di Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, dibubarkan polisi pada Kamis (6/5/2026). Sebanyak 19 siswa diamankan dalam peristiwa tersebut.
Kapolsek Tallo, AKP Asfada, mengatakan tawuran terjadi sekitar pukul 11.00 Wita di wilayah hukum Polsek Tallo. Polisi bergerak cepat setelah menerima informasi adanya penyerangan yang dilakukan kelompok pelajar.
“Terjadi penyerangan yang dilakukan oleh beberapa sekolah gabungan. Kemudian oleh tim opsnal bersama patroli melakukan penindakan dan diamankan kurang lebih 19 orang anak,” ujar Asfada kepada wartawan, Kamis (6/5/2026).
Dari 19 pelajar yang diamankan, dua di antaranya merupakan perempuan. Polisi kemudian membawa seluruh siswa ke Mapolsek Tallo untuk menjalani pembinaan dengan menghadirkan pihak sekolah dan orang tua masing-masing.
Menurut Asfada, pembinaan dilakukan sejak pagi hingga malam hari. Para siswa diberi edukasi serta diminta membuat surat pernyataan agar tidak kembali terlibat tawuran.
“Apabila masih melakukan untuk kedua kalinya, maka kita akan melakukan proses hukum sesuai dengan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.
Dalam proses pembinaan tersebut, para siswa akhirnya mengakui dan menyerahkan sejumlah senjata tajam yang sebelumnya disembunyikan, yakni dua busur dan satu ketapel.
“Pada saat kita memberikan imbauan dan mereka dengan sadar yang dihadiri oleh orang tua maupun dari pihak sekolah, menyerahkan dua busur dan satu ketapel yang disembunyikan,” ungkapnya.
Polisi juga memberikan perlakuan khusus kepada siswa yang kedapatan membawa senjata tajam dengan membuat surat pernyataan tersendiri.
“Yang salah satu siswa yang membawa senjata, kita melakukan pembedaan sendiri untuk surat pernyataannya, mengingat mereka menyembunyikan senjata tajam,” katanya.
Dapat Hadiah dari Polisi
Menariknya, usai pembinaan, polisi tidak hanya memberikan peringatan kepada para siswa. Polsek Tallo juga memberikan hadiah berupa tas dan perlengkapan sekolah kepada siswa yang dinilai jujur serta masih memiliki niat untuk belajar.
“Kita memberikan mereka peralatan sekolah. Orang tuanya rata-rata pekerjaannya buruh kemudian penjual kue,” ujar Asfada.
Selain alat tulis dan perlengkapan sekolah, polisi juga menyerahkan bantuan beras kepada orang tua siswa untuk dibawa pulang.
Asfada menegaskan pembinaan terhadap anak bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah, melainkan juga peran orang tua di rumah.
“Pihak sekolah hanya mengetahui pada saat anak berada di lingkungan sekolah. Setelah mereka keluar, itu adalah kewajiban orang tua untuk mengawasi, khususnya pembinaan dari segi etika maupun sopan santun,” tuturnya.
























