Di Balik Ketakutan, Ada Suara Masyarakat Yang Akhirnya Menemukan Jalan Untuk Didengar

BANGKA TENGAH — Memasuki dunia jurnalistik tidak selalu dimulai dengan keberanian. Bagi sebagian orang, langkah pertama justru dibayangi keraguan, kecemasan, bahkan ketakutan ketika tulisan yang dibuat mulai menyentuh kepentingan masyarakat.

Itulah yang saya alami.

Saya pernah membuat berita tentang semak belukar yang menutup jalan aspal. Bagi sebagian orang, persoalan itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi masyarakat yang setiap hari menggunakan jalan tersebut, kondisi itu menjadi gangguan yang membutuhkan perhatian.

Saya kemudian menuliskannya.

Pada kesempatan lain, saya memberitakan persoalan berkurangnya kuota pengepul buah sawit. Pembatasan kuota berdampak pada harga buah sawit yang turun drastis. Bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari hasil perkebunan, persoalan tersebut bukan sekadar angka atau komoditas. Ada kebutuhan keluarga yang ikut dipertaruhkan.

Berita pun terbit.

Namun setelah itu, sesuatu yang tidak saya bayangkan terjadi.

Suatu malam, sekitar lima pesan WhatsApp masuk ke telepon saya. Pertanyaannya singkat, tetapi membuat pikiran saya tidak tenang.

“Kamu siapa? Tinggal di mana?”

Saya memilih tidak menjawab.

Tidak lama kemudian, beberapa panggilan telepon masuk. Saya akhirnya mengangkat salah satunya.

Suara di ujung telepon terdengar keras.

“Kamu wartawan dari mana? Di mana tinggal kamu? Rumah kamu di mana? Kami mau bertemu dengan kamu. Wartawan di mana?”

Tangan saya bergetar. Saya tidak menjawab. Telepon kemudian saya matikan.

Malam itu saya tidak bisa tidur.

Rasa takut datang begitu saja. Mata saya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, saya benar-benar merasakan bahwa tulisan yang dibuat seorang jurnalis dapat membawa konsekuensi yang tidak selalu terlihat ketika berita ditulis.

Dalam hati saya bertanya, apakah memang seperti ini perjalanan seorang wartawan ketika mencoba menyuarakan persoalan masyarakat?

Pagi berikutnya, telepon kembali berdering.

Namun kali ini suasananya berbeda.

Suara yang terdengar di ujung telepon jauh lebih rendah, sopan, dan penuh etika. Mereka tidak lagi terdengar marah. Justru ada ucapan terima kasih.

Mereka mengatakan, berita mengenai semak belukar yang menutup jalan telah mendapat perhatian. Jalan tersebut akhirnya dibersihkan sehingga masyarakat kembali dapat melaluinya dengan lebih baik.

Tidak lama kemudian, telepon lain masuk.

Persoalan kuota pengepul sawit yang sebelumnya mereka keluhkan juga mulai mendapat perhatian. Keadaan perlahan kembali berjalan.

Salah seorang dari mereka kemudian mengucapkan kalimat yang masih saya ingat hingga sekarang.

“Berapa banyak wartawan yang peduli kepada kami masyarakat?”

Kalimat itu sederhana. Tetapi bagi saya, maknanya sangat dalam.

Mereka kemudian mengajak saya bertemu untuk berbincang sambil ngopi.

Saya datang.

Bukan lagi dengan rasa takut seperti malam sebelumnya, tetapi dengan hati yang lebih tenang.

Pertemuan itu berlangsung dalam suasana hangat. Mereka menyambut saya dengan penuh keakraban. Kami berbincang, saling memahami, hingga suasana berubah menjadi haru. Kami bahkan saling berpelukan.

Sebelum saya pulang, mereka memberikan dua amplop kepada saya.

Saya mengucapkan terima kasih atas niat baik tersebut, tetapi saya memilih tidak menerimanya.

Saya menjelaskan bahwa saya menjadi jurnalis bukan untuk mencari keuntungan pribadi. Ada tanggung jawab yang lebih besar ketika seseorang memilih menggunakan tulisan untuk membawa suara masyarakat.

Bagi saya, berita bukan hanya tentang judul, paragraf, dan jumlah pembaca.

Di balik sebuah berita bisa ada masyarakat yang sedang menunggu pertolongan. Ada jalan yang membutuhkan perhatian. Ada petani yang menghadapi persoalan. Ada warga yang mungkin tidak memiliki akses untuk menyampaikan keluhan mereka kepada pihak yang berwenang.

Dan terkadang, satu-satunya jalan yang mereka miliki adalah suara yang disampaikan melalui pemberitaan.

Pengalaman tersebut perlahan mengubah cara saya memandang profesi ini.

Saya memahami bahwa menjadi jurnalis bukan hanya tentang keberanian mengangkat sebuah persoalan. Keberanian harus berjalan bersama kehati-hatian. Kebebasan menulis harus disertai tanggung jawab. Dan keberpihakan kepada kepentingan publik harus tetap berada dalam koridor fakta, keseimbangan, dan etika.

Saya masih belajar.

Saya sadar masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Masih banyak hal yang harus saya pahami dan masih panjang perjalanan yang harus saya tempuh.

Namun pengalaman itu memberikan satu pelajaran penting: sebuah berita mungkin hanya beberapa paragraf bagi pembaca, tetapi bisa memiliki arti besar bagi masyarakat yang sedang memperjuangkan kehidupannya.

Saya percaya, jalan yang saya jalani ini merupakan bagian dari kehendak Allah. Saya menganggap kesempatan menjadi jurnalis sebagai ruang untuk belajar, memperbaiki diri, dan berusaha memberikan manfaat kepada orang lain.

Karena pada akhirnya, nilai sebuah berita bukan hanya diukur dari seberapa ramai dibaca.

Nilainya juga dapat terlihat dari apakah berita itu mampu membuat sebuah persoalan diperhatikan, apakah suara masyarakat akhirnya didengar, dan apakah ada perubahan yang terjadi setelah fakta disampaikan kepada publik.

Itulah yang membuat saya tetap ingin belajar menjadi jurnalis.

Bukan karena profesi ini selalu mudah.

Bukan pula karena perjalanan ini tanpa rasa takut.

Tetapi karena saya percaya, ketika pena digunakan dengan hati, fakta disampaikan dengan tanggung jawab, dan kepentingan publik ditempatkan di atas kepentingan pribadi, sebuah tulisan dapat menjadi jembatan antara suara masyarakat dan mereka yang memiliki kewenangan untuk mendengar.

Menulis dengan hati. Menyampaikan fakta. Menjaga amanah profesi.

Simpan sebagai Kenangan

Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.

Simpan Gambar:

Jumat, 11 September 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Penulis: HERWANDI

Menghubungkan ke server...
Simpan Gambar:

Berita Terkait

Semarak HKG PKK ke-54, Ketua TP PKK Bantaeng Dorong Pemanfaatan Pangan Lokal melalui Lomba B2SA
Polisi Buru Koordinator Lapangan Setelah Delapan Ton Pasir Timah Ilegal Digagalkan
Oknum Honorer Pendidikan S1 di Bone Tertangkap Bawa Sabu di Jalan Merdeka, Dua Rekannya Ikut Diciduk
Rp140 Juta Dibayar ke Pemilik Alat, Bukan Kontraktor, Pengerukan Rp800 Juta Banjir Bone Kini Dipertanyakan Secara Hukum
Surat Kuasa 14 Juli 2026 Seret Lurah Mampotu ke Sengketa Sertifikat Nomor 222, Netralitas Dipertanyakan
Bupati Gowa Tegaskan Peran Satpol PP Jaga Wilayah dan Pengamanan Aset Daerah
Anggota DPR RI Apresiasi DPRD Karo Tanggap Menindaklanjuti Keracunan MBG
Krisis Air Bersih Akibat Kemarau, Polsek Tallo Salurkan 3.000 Liter Air ke Warga
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 19:03 WITA

Semarak HKG PKK ke-54, Ketua TP PKK Bantaeng Dorong Pemanfaatan Pangan Lokal melalui Lomba B2SA

Minggu, 20 September 2026 - 11:56 WITA

Polisi Buru Koordinator Lapangan Setelah Delapan Ton Pasir Timah Ilegal Digagalkan

Sabtu, 19 September 2026 - 20:11 WITA

Oknum Honorer Pendidikan S1 di Bone Tertangkap Bawa Sabu di Jalan Merdeka, Dua Rekannya Ikut Diciduk

Sabtu, 19 September 2026 - 15:51 WITA

Rp140 Juta Dibayar ke Pemilik Alat, Bukan Kontraktor, Pengerukan Rp800 Juta Banjir Bone Kini Dipertanyakan Secara Hukum

Sabtu, 19 September 2026 - 12:46 WITA

Surat Kuasa 14 Juli 2026 Seret Lurah Mampotu ke Sengketa Sertifikat Nomor 222, Netralitas Dipertanyakan

Sabtu, 19 September 2026 - 12:43 WITA

Bupati Gowa Tegaskan Peran Satpol PP Jaga Wilayah dan Pengamanan Aset Daerah

Sabtu, 19 September 2026 - 10:27 WITA

Anggota DPR RI Apresiasi DPRD Karo Tanggap Menindaklanjuti Keracunan MBG

Sabtu, 19 September 2026 - 08:59 WITA

Krisis Air Bersih Akibat Kemarau, Polsek Tallo Salurkan 3.000 Liter Air ke Warga

Berita Terbaru