Penggerebekan Senyap Bongkar Dugaan Jaringan Narkoba Muda di Mentok, Bangka Barat
MENTOK, DNID.CO.ID — Sunyi malam di Mentok pecah saat aparat Satuan Reserse Narkoba Polres Bangka Barat membongkar peredaran narkotika yang diduga melibatkan jaringan muda. Tiga pemuda diamankan dalam operasi senyap, Kamis (26/2/2026) malam hingga Jumat (27/2/2026) dini hari, dengan barang bukti 128 gram sabu dan 35 butir ekstasi dari sebuah rumah kontrakan yang nyaris tak mencurigakan.
Pengungkapan bermula dari patroli rutin di Kampung Sungai Baru, Kelurahan Sungai Baru, sekitar pukul 23.00 WIB. Di pinggir Jalan Gang Sukun, polisi menghentikan seorang remaja berinisial A (18). Dari interogasi singkat di lokasi, petugas mencium kejanggalan yang membuka pintu lebih besar.
“Dari pengakuan awal, pelaku mengarah ke satu kontrakan di Pait Jaya,” ujar Kasi Humas Polres Bangka Barat, Yos Sudarso, kepada wartawan.
Petugas bergerak cepat. Sekitar pukul 00.02 WIB, tim tiba di Dusun VI Pait Jaya, Desa Belo Laut, Kecamatan Mentok. Kontrakan sederhana yang tampak biasa itu ternyata menyimpan aktivitas gelap. Dua pria lain, R (21) dan Y (25), diamankan di dalam kamar sempit yang berantakan oleh plastik klip dan alat kemas.
Dari penggeledahan, polisi menemukan 15 paket sabu ukuran besar dan 103 paket ukuran kecil, seluruhnya kristal bening yang siap edar. Di sudut lain, 35 butir ekstasi berlogo mahkota warna cokelat turut disita. Barang bukti lain tak kalah mencolok: dua timbangan digital, empat telepon genggam, satu sepeda motor tanpa pelat nomor, dan tumpukan plastik klip kosong—indikasi aktivitas pengemasan skala kecil namun sistematis.
Total berat bruto sabu mencapai 128,34 gram, sementara ekstasi berbobot 14,47 gram. Jumlah itu, jika diedarkan, berpotensi menjangkau ratusan pengguna baru—sebuah fakta yang membuat pengungkapan ini lebih dari sekadar penangkapan rutin.
Yos menegaskan, kepolisian memandang kasus ini sebagai alarm keras bagi wilayah pesisir yang selama ini dikenal relatif tenang. “Kami tidak akan memberi ruang bagi pelaku penyalahgunaan maupun peredaran narkoba. Penindakan dilakukan tegas dan profesional untuk melindungi masyarakat, terutama generasi muda,” katanya.
Namun di balik angka dan barang bukti, tersisa pertanyaan yang kini sedang didalami penyidik: apakah kontrakan itu hanya titik simpul, atau bagian dari jaringan yang lebih luas? Polisi masih membedah peran masing-masing pelaku, termasuk kemungkinan aliran pasokan dan distribusi.
Sumber internal kepolisian menyebut pola pengemasan dan jumlah paket menunjukkan indikasi rantai distribusi berlapis, bukan konsumsi pribadi. Jika dugaan ini terbukti, maka penggerebekan di Mentok bisa menjadi pintu masuk membongkar jalur peredaran yang lebih panjang di Bangka Barat.
Sementara itu, warga sekitar mengaku tak pernah menyangka kontrakan tersebut menjadi tempat peracikan barang haram. “Orangnya jarang berbaur, datang malam, pintu sering tertutup,” kata seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Ketiga terduga pelaku kini ditahan di Mapolres Bangka Barat. Penyidik masih mengembangkan kasus, termasuk menelusuri komunikasi di ponsel yang disita. Polisi memastikan pengusutan tak berhenti pada tiga nama.
“Jika ada jaringan di atasnya, pasti kami kejar,” tegas Yos.
Di tengah geliat pariwisata dan geliat ekonomi pesisir, kasus ini menjadi pengingat bahwa peredaran narkotika terus mencari celah—menyusup diam-diam, bahkan ke ruang-ruang sunyi yang tak pernah disangka.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Penggerebekan Senyap Bongkar Dugaan Jaringan Narkoba Muda di Mentok, Bangka Barat
SABTU, 28 FEBRUARI 2026
MENTOK, DNID.CO.ID — Sunyi malam di Mentok pecah saat aparat Satuan Reserse Narkoba Polres Bangka Barat membongkar peredaran narkotika yang diduga melibatkan jaringan muda. Tiga pemuda diamankan dalam operasi senyap, Kamis (26/2/2026) malam hingga Jumat (27/2/2026) dini hari, dengan barang bukti 128 gram sabu dan 35 butir ekstasi dari sebuah rumah kontrakan yang nyaris tak mencurigakan.
Pengungkapan bermula dari patroli rutin di Kampung Sungai Baru, Kelurahan Sungai Baru, sekitar pukul 23.00 WIB. Di pinggir Jalan Gang Sukun, polisi menghentikan seorang remaja berinisial A (18). Dari interogasi singkat di lokasi, petugas mencium kejanggalan yang membuka pintu lebih besar.
“Dari pengakuan awal, pelaku mengarah ke satu kontrakan di Pait Jaya,” ujar Kasi Humas Polres Bangka Barat, Yos Sudarso, kepada wartawan.
Petugas bergerak cepat. Sekitar pukul 00.02 WIB, tim tiba di Dusun VI Pait Jaya, Desa Belo Laut, Kecamatan Mentok. Kontrakan sederhana yang tampak biasa itu ternyata menyimpan aktivitas gelap. Dua pria lain, R (21) dan Y (25), diamankan di dalam kamar sempit yang berantakan oleh plastik klip dan alat kemas.
Dari penggeledahan, polisi menemukan 15 paket sabu ukuran besar dan 103 paket ukuran kecil, seluruhnya kristal bening yang siap edar. Di sudut lain, 35 butir ekstasi berlogo mahkota warna cokelat turut disita. Barang bukti lain tak kalah mencolok: dua timbangan digital, empat telepon genggam, satu sepeda motor tanpa pelat nomor, dan tumpukan plastik klip kosong—indikasi aktivitas pengemasan skala kecil namun sistematis.
Total berat bruto sabu mencapai 128,34 gram, sementara ekstasi berbobot 14,47 gram. Jumlah itu, jika diedarkan, berpotensi menjangkau ratusan pengguna baru—sebuah fakta yang membuat pengungkapan ini lebih dari sekadar penangkapan rutin.
Yos menegaskan, kepolisian memandang kasus ini sebagai alarm keras bagi wilayah pesisir yang selama ini dikenal relatif tenang. “Kami tidak akan memberi ruang bagi pelaku penyalahgunaan maupun peredaran narkoba. Penindakan dilakukan tegas dan profesional untuk melindungi masyarakat, terutama generasi muda,” katanya.
Namun di balik angka dan barang bukti, tersisa pertanyaan yang kini sedang didalami penyidik: apakah kontrakan itu hanya titik simpul, atau bagian dari jaringan yang lebih luas? Polisi masih membedah peran masing-masing pelaku, termasuk kemungkinan aliran pasokan dan distribusi.
Sumber internal kepolisian menyebut pola pengemasan dan jumlah paket menunjukkan indikasi rantai distribusi berlapis, bukan konsumsi pribadi. Jika dugaan ini terbukti, maka penggerebekan di Mentok bisa menjadi pintu masuk membongkar jalur peredaran yang lebih panjang di Bangka Barat.
Sementara itu, warga sekitar mengaku tak pernah menyangka kontrakan tersebut menjadi tempat peracikan barang haram. “Orangnya jarang berbaur, datang malam, pintu sering tertutup,” kata seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Ketiga terduga pelaku kini ditahan di Mapolres Bangka Barat. Penyidik masih mengembangkan kasus, termasuk menelusuri komunikasi di ponsel yang disita. Polisi memastikan pengusutan tak berhenti pada tiga nama.
“Jika ada jaringan di atasnya, pasti kami kejar,” tegas Yos.
Di tengah geliat pariwisata dan geliat ekonomi pesisir, kasus ini menjadi pengingat bahwa peredaran narkotika terus mencari celah—menyusup diam-diam, bahkan ke ruang-ruang sunyi yang tak pernah disangka.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.