PJS Babel Mendorong Kepemimpinan Baru Mempertahankan Keterbukaan Informasi dan Kemitraan Profesional
SUNGAILIAT, DNID.co.id —Pergantian pucuk pimpinan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sungailiat atau Lapas Bukit Semut resmi menandai berakhirnya masa kepemimpinan Dadang Rais Saputro dan dimulainya tugas Jayadi Kusumah, Rabu (19/8/2026). Momentum serah terima jabatan dan pisah sambut itu sekaligus memunculkan satu tuntutan penting dari insan pers: pergantian pejabat jangan sampai memutus akses komunikasi dan keterbukaan informasi publik.
Dadang diketahui memimpin Lapas Sungailiat selama kurang lebih 11 bulan sejak Oktober 2025. Setelah pergantian tersebut, kepemimpinan Lapas Sungailiat dipercayakan kepada Jayadi Kusumah, yang sebelumnya bertugas di Rumah Tahanan Kelas I.
Di tengah agenda seremoni, Ketua Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Bangka Belitung, Agus Eko, menegaskan bahwa hubungan antara lembaga pemasyarakatan dan media bukan sekadar hubungan publikasi. Menurutnya, komunikasi terbuka dibutuhkan agar masyarakat memperoleh informasi yang jelas sekaligus memberi ruang bagi pers menjalankan fungsi kontrol sosial.
PJS Babel bersama jajaran DPD dan DPC PJS memberikan piagam penghargaan kepada Dadang sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi, keterbukaan informasi, dan komunikasi yang dibangun selama menjabat.
“Pak Dadang telah meninggalkan catatan yang baik selama bertugas di Lapas Sungailiat. Salah satunya adalah komunikasi yang terbuka dengan insan pers. Bagi kami, hubungan seperti ini patut diapresiasi dan menjadi contoh bagaimana lembaga publik membangun komunikasi dengan media,” ujar Agus Eko.
Ia menegaskan, kemitraan pers dengan lembaga pemasyarakatan harus tetap berada dalam koridor profesional. Media, kata dia, memiliki fungsi kontrol sosial, sementara lembaga publik berkewajiban memberikan informasi secara proporsional.
“Pers tetap menjalankan fungsi kontrol sosial, sementara lembaga pemasyarakatan memiliki kewajiban memberikan informasi publik secara proporsional. Kalau komunikasi keduanya berjalan baik, masyarakat yang akan mendapatkan manfaat,” katanya.
Agus juga mengingatkan agar media tidak hanya dilibatkan ketika sebuah lembaga membutuhkan pemberitaan positif. Sebaliknya, wartawan harus memperoleh akses informasi ketika masyarakat membutuhkan penjelasan mengenai berbagai persoalan publik.
“Kami tidak mencari hubungan yang hanya manis-manis saja, tetapi kemitraan yang profesional, terbuka dan tetap kritis ketika memang ada persoalan yang harus disampaikan,” tegasnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi Jayadi Kusumah sebagai pejabat baru. PJS Babel menyatakan siap membangun komunikasi, namun tetap mempertahankan sikap kritis sebagai bagian dari fungsi jurnalistik.
Sementara itu, Sekretaris PJS DPD Babel, Muhamad Zen, mencairkan suasana dengan candaan terkait pergantian pejabat dan keberlanjutan komunikasi.
“Pindah tugas bukan berarti pindah kontak WhatsApp. Nomornya jangan ikut dipindahkan ya, Pak,” kelakarnya.
Kepada Jayadi, Zen juga menyampaikan pesan agar tidak alergi terhadap wartawan. “Jangan takut dengan wartawan, Pak. Wartawan itu sebenarnya tidak galak. Cuma kalau sudah pegang kamera dan buku catatan, mukanya memang kelihatan seperti mau memeriksa APBD,” ujarnya disambut tawa.
Dadang Rais Saputro kemudian menyampaikan terima kasih atas dukungan selama bertugas di Kabupaten Bangka dan meminta doa untuk menjalankan amanah di tempat tugas barunya di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Sementara Jayadi menegaskan kesiapan melanjutkan program yang telah dirintis pendahulunya.
“Saya siap melanjutkan apa yang sudah dikerjakan Pak Dadang. Mohon dukungan dan arahan agar kami dapat menjalankan tugas dengan baik,” ujarnya.
Pergantian kepemimpinan tersebut pada akhirnya bukan hanya soal pergantian nama di pucuk pimpinan. Tantangan berikutnya adalah membuktikan apakah keterbukaan komunikasi yang selama ini diapresiasi dapat terus dipertahankan.
“Jabatan boleh berganti, tempat tugas boleh berpindah, tetapi silaturahmi dan sinergitas jangan pernah mati,” tutup Agus Eko.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
PJS Babel Mendorong Kepemimpinan Baru Mempertahankan Keterbukaan Informasi dan Kemitraan Profesional
KAMIS, 20 AGUSTUS 2026
SUNGAILIAT, DNID.co.id —Pergantian pucuk pimpinan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sungailiat atau Lapas Bukit Semut resmi menandai berakhirnya masa kepemimpinan Dadang Rais Saputro dan dimulainya tugas Jayadi Kusumah, Rabu (19/8/2026). Momentum serah terima jabatan dan pisah sambut itu sekaligus memunculkan satu tuntutan penting dari insan pers: pergantian pejabat jangan sampai memutus akses komunikasi dan keterbukaan informasi publik.
Dadang diketahui memimpin Lapas Sungailiat selama kurang lebih 11 bulan sejak Oktober 2025. Setelah pergantian tersebut, kepemimpinan Lapas Sungailiat dipercayakan kepada Jayadi Kusumah, yang sebelumnya bertugas di Rumah Tahanan Kelas I.
Di tengah agenda seremoni, Ketua Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Bangka Belitung, Agus Eko, menegaskan bahwa hubungan antara lembaga pemasyarakatan dan media bukan sekadar hubungan publikasi. Menurutnya, komunikasi terbuka dibutuhkan agar masyarakat memperoleh informasi yang jelas sekaligus memberi ruang bagi pers menjalankan fungsi kontrol sosial.
PJS Babel bersama jajaran DPD dan DPC PJS memberikan piagam penghargaan kepada Dadang sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi, keterbukaan informasi, dan komunikasi yang dibangun selama menjabat.
“Pak Dadang telah meninggalkan catatan yang baik selama bertugas di Lapas Sungailiat. Salah satunya adalah komunikasi yang terbuka dengan insan pers. Bagi kami, hubungan seperti ini patut diapresiasi dan menjadi contoh bagaimana lembaga publik membangun komunikasi dengan media,” ujar Agus Eko.
Ia menegaskan, kemitraan pers dengan lembaga pemasyarakatan harus tetap berada dalam koridor profesional. Media, kata dia, memiliki fungsi kontrol sosial, sementara lembaga publik berkewajiban memberikan informasi secara proporsional.
“Pers tetap menjalankan fungsi kontrol sosial, sementara lembaga pemasyarakatan memiliki kewajiban memberikan informasi publik secara proporsional. Kalau komunikasi keduanya berjalan baik, masyarakat yang akan mendapatkan manfaat,” katanya.
Agus juga mengingatkan agar media tidak hanya dilibatkan ketika sebuah lembaga membutuhkan pemberitaan positif. Sebaliknya, wartawan harus memperoleh akses informasi ketika masyarakat membutuhkan penjelasan mengenai berbagai persoalan publik.
“Kami tidak mencari hubungan yang hanya manis-manis saja, tetapi kemitraan yang profesional, terbuka dan tetap kritis ketika memang ada persoalan yang harus disampaikan,” tegasnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi Jayadi Kusumah sebagai pejabat baru. PJS Babel menyatakan siap membangun komunikasi, namun tetap mempertahankan sikap kritis sebagai bagian dari fungsi jurnalistik.
Sementara itu, Sekretaris PJS DPD Babel, Muhamad Zen, mencairkan suasana dengan candaan terkait pergantian pejabat dan keberlanjutan komunikasi.
“Pindah tugas bukan berarti pindah kontak WhatsApp. Nomornya jangan ikut dipindahkan ya, Pak,” kelakarnya.
Kepada Jayadi, Zen juga menyampaikan pesan agar tidak alergi terhadap wartawan. “Jangan takut dengan wartawan, Pak. Wartawan itu sebenarnya tidak galak. Cuma kalau sudah pegang kamera dan buku catatan, mukanya memang kelihatan seperti mau memeriksa APBD,” ujarnya disambut tawa.
Dadang Rais Saputro kemudian menyampaikan terima kasih atas dukungan selama bertugas di Kabupaten Bangka dan meminta doa untuk menjalankan amanah di tempat tugas barunya di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Sementara Jayadi menegaskan kesiapan melanjutkan program yang telah dirintis pendahulunya.
“Saya siap melanjutkan apa yang sudah dikerjakan Pak Dadang. Mohon dukungan dan arahan agar kami dapat menjalankan tugas dengan baik,” ujarnya.
Pergantian kepemimpinan tersebut pada akhirnya bukan hanya soal pergantian nama di pucuk pimpinan. Tantangan berikutnya adalah membuktikan apakah keterbukaan komunikasi yang selama ini diapresiasi dapat terus dipertahankan.
“Jabatan boleh berganti, tempat tugas boleh berpindah, tetapi silaturahmi dan sinergitas jangan pernah mati,” tutup Agus Eko.