Kesaksian Ahli Menegaskan Sistem Kesehatan Ikut Bertanggung Jawab Dalam Perkara Ini

Caption (kanan-kiri) : dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp.E.T.I.A(K), ahli PICU, dan  Dr. dr. Ari Prayitno, Sp.A, Subsp.Inf.P.T(K), ahli penyakit infeksi, Saksi Ahli dalam perkara dr Ratna Setia Asih

Caption (kanan-kiri) : dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp.E.T.I.A(K), ahli PICU, dan Dr. dr. Ari Prayitno, Sp.A, Subsp.Inf.P.T(K), ahli penyakit infeksi, Saksi Ahli dalam perkara dr Ratna Setia Asih

PANGKALPINANG ,Dnid.Co.Id  — Fakta mengejutkan kembali terungkap dalam sidang lanjutan perkara dr Ratna Setia Asih di Pengadilan Negeri Pangkalpinang, Kamis (23/4/2026). Dua saksi ahli secara tegas membongkar bahwa penanganan medis dalam kasus ini tidak bisa dibebankan kepada satu dokter saja, melainkan merupakan tanggung jawab sistem yang kompleks dan saling terhubung.

Persidangan yang digelar di ruang Tirta itu menghadirkan dr Yogi Prawira, Sp.A, ahli Pediatric Intensive Care Unit (PICU), serta dr Ari Prayetno, Sp.A, ahli penyakit infeksi. Keduanya kompak menolak narasi tunggal yang menyudutkan individu sebagai penyebab utama dalam perkara yang menyeret nama dr Ratna.

“Tidak bisa satu kasus dibebankan hanya kepada satu individu. Ini adalah sistem yang bekerja secara bersama,” tegas saksi ahli di hadapan majelis hakim.

Pernyataan ini menjadi titik balik penting dalam persidangan yang selama ini sarat polemik. Kasus kematian pasien yang menyeret dr Ratna sebelumnya memang telah memicu perdebatan luas, bahkan disebut sejumlah pihak sebagai potensi kriminalisasi profesi medis �.

PangkalpinangPost.com

Dalam kesaksiannya, para ahli memaparkan bahwa praktik medis tidak berdiri sendiri. Ada rantai panjang yang menentukan hasil akhir penanganan pasien, mulai dari kompetensi tenaga medis, ketersediaan fasilitas, manajemen rumah sakit, hingga sistem rujukan dan pembiayaan.

Menurut mereka, ketika salah satu komponen itu tidak optimal, maka dampaknya akan merambat ke seluruh proses pelayanan kesehatan.

Sorotan tajam juga diarahkan pada keterbatasan fasilitas medis yang disebut sebagai faktor krusial dalam kasus ini. Para ahli menilai, kondisi tersebut sangat memengaruhi kemampuan dokter dalam menegakkan diagnosis secara spesifik.

“Arah infeksi sudah ada, tetapi belum bisa dipastikan secara spesifik. Itu sangat bergantung pada fasilitas pemeriksaan yang dimiliki,” ungkap ahli.

Dari hasil telaah data medis di persidangan, langkah diagnostik yang dilakukan dr Ratna disebut telah sesuai prosedur awal. Pemeriksaan laboratorium, termasuk tes darah, telah dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi pasien.

Namun, hasil yang muncul belum mengarah pada satu diagnosis pasti. Situasi ini, menurut ahli, bukan bentuk kelalaian, melainkan konsekuensi logis dari keterbatasan alat dan penunjang medis.

Dalam aspek terapi, pengobatan yang diberikan juga dinilai masih dalam koridor rasionalitas medis. Keputusan klinis disebut diambil berdasarkan data objektif yang tersedia saat itu, bukan spekulasi.

Persidangan ini semakin mempertegas bahwa perkara dr Ratna bukan sekadar soal benar atau salah individu, tetapi menyentuh persoalan lebih luas tentang bagaimana sistem kesehatan bekerja di lapangan. Bahkan dalam beberapa sidang sebelumnya, sejumlah fakta lain juga memunculkan kejanggalan, mulai dari proses penyidikan hingga keterangan saksi yang memicu polemik �.

TitahNusa.com

Kini, bola panas berada di tangan majelis hakim. Putusan yang akan dijatuhkan tidak hanya menentukan nasib seorang dokter, tetapi juga berpotensi menjadi preseden penting bagi dunia medis dan penegakan hukum di Indonesia.

Apakah sistem akan ikut dimintai pertanggungjawaban, atau justru individu kembali menjadi “tumbal” dalam kompleksitas pelayanan kesehatan—jawabannya akan ditentukan di ruang sidang yang sama.

Simpan Gambar:

Minggu, 26 April 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Penulis: ALE

Editor: REDAKSI BABEL

Sumber Berita: KBO BABEL

Menghubungkan ke server...
Simpan Gambar:

Berita Terkait

Polemik Aset SD Panjang Memanas, Wabup Bantaeng ‘Bandel’ Tak Hadir RDP, DPRD Siapkan Panggil Paksa
TMMD Reguler ke-128 Hadirkan Penyuluhan Kesehatan di Desa Godo, Tingkatkan Kesadaran Masyarakat
Satgas TMMD ke-128 Kodim 0718/Pati Ratakan Badan Jalan Supaya Perhalus sebelum ke tahap pengecoran
Praka Septy: Sejatinya Ibu Kandung TNI adalah Rakyat
Rumah Senen Direhab Satgas TMMD Reguler ke-128, Dandim: Wujud Nyata Kepedulian untuk Kesejahteraan Warga
Tim Kesehatan Lapangan TMMD Reguler 128 Berikan Layanan Kesehatan Kepada Masyarakat
1 Mei Bajoe Ditutup, Fakta yang Selama Ini Tak Terlihat Mulai Terungkap
Makassar Raih Penghargaan EPPD 2025, Satu-satunya Daerah Luar Jawa di Peringkat Teratas
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 April 2026 - 17:36 WITA

Polemik Aset SD Panjang Memanas, Wabup Bantaeng ‘Bandel’ Tak Hadir RDP, DPRD Siapkan Panggil Paksa

Selasa, 28 April 2026 - 15:54 WITA

TMMD Reguler ke-128 Hadirkan Penyuluhan Kesehatan di Desa Godo, Tingkatkan Kesadaran Masyarakat

Selasa, 28 April 2026 - 15:48 WITA

Satgas TMMD ke-128 Kodim 0718/Pati Ratakan Badan Jalan Supaya Perhalus sebelum ke tahap pengecoran

Selasa, 28 April 2026 - 15:43 WITA

Praka Septy: Sejatinya Ibu Kandung TNI adalah Rakyat

Selasa, 28 April 2026 - 15:32 WITA

Tim Kesehatan Lapangan TMMD Reguler 128 Berikan Layanan Kesehatan Kepada Masyarakat

Selasa, 28 April 2026 - 13:53 WITA

1 Mei Bajoe Ditutup, Fakta yang Selama Ini Tak Terlihat Mulai Terungkap

Selasa, 28 April 2026 - 09:02 WITA

Makassar Raih Penghargaan EPPD 2025, Satu-satunya Daerah Luar Jawa di Peringkat Teratas

Selasa, 28 April 2026 - 07:31 WITA

Penyelewengan Solar Subsidi Nelayan Terbongkar, Polisi Dalami Dugaan Jaringan Pelaku Lebih Luas

Berita Terbaru

Serba-Serbi

Praka Septy: Sejatinya Ibu Kandung TNI adalah Rakyat

Selasa, 28 Apr 2026 - 15:43 WITA