Kematian Aiptu Beny Sarupang Dinilai Janggal, Keluarga Mengaku Dilarang Lihat Jenazah di RS Bhayangkara Makassar

Makassar –Dnid.co.id Keluarga Aiptu Beny Sarupang (42), anggota Samapta Polrestabes Makassar yang ditemukan meninggal dunia di kawasan Flyover Urip Sumoharjo, Kota Makassar, mengaku kecewa dengan perlakuan yang mereka terima saat hendak melihat jenazah korban di RS Bhayangkara Makassar.

Keluarga menyebut pihak RS Bhayangkara tidak memberikan kesempatan kepada keluarga untuk melihat kondisi jenazah secara utuh setelah Aiptu Beny dibawa ke rumah sakit.

Menurut salah seorang keluarga korban, saat tiba di RS Bhayangkara, keluarga hanya diperbolehkan melihat bagian kepala dan kaki jenazah, sementara bagian tubuh lainnya tidak diperlihatkan.

“Kami sampai di Bhayangkara, memang benar ada jenazah. Tapi kami dibatasi untuk melihat. Hanya dikasih lihat kaki dan kepala, badan tidak,” ungkap keluarga korban berinisial Y.

Keluarga kemudian meminta agar dapat melihat jenazah setelah proses pemandian. Permintaan tersebut dilakukan karena keluarga mengaku melihat adanya kondisi yang menimbulkan pertanyaan pada bagian tubuh korban.

Keluarga menyebut terdapat darah pada bagian kanan tubuh korban, tepatnya di sekitar bawah ketiak.

“Kami keluarga ingin lihat setelah mandi, karena ada kecurigaan di sebelah kanan, darah keluar di bawah ketiak,” katanya.

Keluarga juga mengaku tidak diperbolehkan mengambil foto maupun video kondisi jenazah.

Bahkan ketika jenazah kemudian diperlihatkan dalam kondisi telah mengenakan pakaian dinas, keluarga menyebut tetap tidak diperbolehkan melakukan dokumentasi.

Kondisi tersebut membuat keluarga semakin mempertanyakan penyebab kematian Aiptu Beny. Terlebih, korban sejak awal disebut meninggal dalam peristiwa kecelakaan lalu lintas di Jalan Urip Sumoharjo, Minggu, 16 Agustus 2026 sekitar pukul 04.00 WITA.

Keluarga mengaku mendapatkan foto kondisi korban ketika pertama kali ditemukan di lokasi. Dari foto tersebut, keluarga menilai terdapat sejumlah hal yang perlu dijelaskan lebih lanjut, termasuk posisi tubuh korban dan luka yang ditemukan.

“Kami bukan mau menuduh siapa-siapa. Kami hanya ingin melihat jenazah keluarga kami dan mengetahui kondisi sebenarnya. Kalau memang kecelakaan, kami ingin semuanya dijelaskan berdasarkan hasil pemeriksaan,” ujarnya.

Keluarga menilai seharusnya mereka diberikan ruang yang cukup untuk memastikan kondisi terakhir korban sebelum proses pemakaman.

Keluarga juga meminta pihak terkait menjelaskan prosedur yang diterapkan terhadap jenazah Aiptu Beny di RS Bhayangkara, termasuk alasan keluarga tidak diperbolehkan melihat maupun mendokumentasikan kondisi jenazah secara utuh.

Selain persoalan di rumah sakit, keluarga juga masih mempertanyakan kronologi kematian Aiptu Beny serta keberadaan rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian.

Atas berbagai pertanyaan tersebut, keluarga berencana melaporkan kasus kematian Aiptu Beny ke Polda Sulawesi Selatan.

Mereka berharap Kapolda Sulsel memberikan perhatian dan memastikan penyelidikan terhadap kematian anggota Samapta Polrestabes Makassar tersebut dilakukan secara menyeluruh dan transparan.

“Kami berharap Bapak Kapolda Sulsel mengusut tuntas. Kalau memang laka lantas, harus dibuka dan dijelaskan. Kami sebagai keluarga hanya ingin mengetahui penyebab sebenarnya ponakan kami meninggal,” tegasnya.

Hingga kini, keluarga masih menunggu kejelasan mengenai hasil penyelidikan terkait kematian Aiptu Beny Sarupang.

Keterangan mengenai alasan dan prosedur pembatasan akses keluarga terhadap jenazah tersebut juga perlu dikonfirmasi kepada pihak RS Bhayangkara Makassar agar pemberitaan tetap berimbang.

Simpan sebagai Kenangan

Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.

Simpan Gambar:

Jumat, 28 Agustus 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Penulis: Arief Rahman

Editor: Kingze

Sumber Berita: Keluarga Korban

Penanggung Jawab: ir. Herman Maddaung

Menghubungkan ke server...
Simpan Gambar:

Berita Terkait

Beredar Kabar Penangkapan Pelaku Pemerkosaan Adik Ipar di Bantaeng, Identitas Korban-Pelaku Masih Rahasia
Dari Pers, Pemerintahan hingga Bisnis, Alias Wello Beri Suntikan Motivasi untuk PJS
Pemuda Rumbia Soroti Kualitas Proyek Talud dan Drainase, DPRD Sulsel Diminta Turun Mengawasi
Modus Barcode Ganda dan Pelat Palsu Terungkap, Polisi Telusuri Jaringan Penyelewengan.
Aliansi Mahasiswa Anti Mafia Hukum Tegas: Kawal Bibit Nanas dan Reklamasi Tanjung Bunga hingga Kejagung
Mesin Kapal Mati dan Kabut Tebal, Begini Perjuangan Tiga Pemancing Pulang Selamat
Setelah Hak Jawab Dimuat, Fakta Baru Terbongkar: Perbaikan Retak Proyek Rp12,8 Miliar Taccipi-Tokaseng
Dari Batam untuk Pers Indonesia, Zulkifli Hasan Lantik Pengurus DPP PJS 2026–2027
Berita ini 378 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 00:08 WITA

Beredar Kabar Penangkapan Pelaku Pemerkosaan Adik Ipar di Bantaeng, Identitas Korban-Pelaku Masih Rahasia

Rabu, 4 November 2026 - 23:48 WITA

Dari Pers, Pemerintahan hingga Bisnis, Alias Wello Beri Suntikan Motivasi untuk PJS

Rabu, 4 November 2026 - 22:00 WITA

Pemuda Rumbia Soroti Kualitas Proyek Talud dan Drainase, DPRD Sulsel Diminta Turun Mengawasi

Rabu, 4 November 2026 - 20:06 WITA

Modus Barcode Ganda dan Pelat Palsu Terungkap, Polisi Telusuri Jaringan Penyelewengan.

Rabu, 4 November 2026 - 20:00 WITA

Aliansi Mahasiswa Anti Mafia Hukum Tegas: Kawal Bibit Nanas dan Reklamasi Tanjung Bunga hingga Kejagung

Rabu, 4 November 2026 - 19:19 WITA

Mesin Kapal Mati dan Kabut Tebal, Begini Perjuangan Tiga Pemancing Pulang Selamat

Rabu, 4 November 2026 - 18:44 WITA

Setelah Hak Jawab Dimuat, Fakta Baru Terbongkar: Perbaikan Retak Proyek Rp12,8 Miliar Taccipi-Tokaseng

Rabu, 4 November 2026 - 12:52 WITA

Dari Batam untuk Pers Indonesia, Zulkifli Hasan Lantik Pengurus DPP PJS 2026–2027

Berita Terbaru