Setelah Hak Jawab Dimuat, Fakta Baru Terbongkar: Perbaikan Retak Proyek Rp12,8 Miliar Taccipi-Tokaseng
Foto Kiriman Penanggung Jawab Sendiri Jadi Bumerang, Ahli: Itu Kosmetik, Bukan Konstruksi – 2 Minggu Kena Hujan Pasti Rontok Lagi
Bone, DNID.co.id – Rabu(04/11/2026). Setelah sebelumnya pihak pelaksana Proyek Preservasi Jalan Taccipi-Tokaseng senilai Rp12,8 Miliar memberikan hak jawab yang telah dimuat utuh oleh redaksi pada edisi sebelumnya, fakta baru kembali ditemukan di lapangan yang justru memperkuat dugaan gagal mutu.
Fakta baru tersebut berasal dari foto bukti perbaikan yang dikirim langsung oleh Agus, Penanggung Jawab Lapangan, kepada redaksi sebagai bagian dari hak jawabnya. Namun setelah diteliti, foto tersebut bukan bukti perbaikan struktural, diduga melainkan bukti perbaikan ala kadarnya.
Dalam hak jawabnya, Agus mengklaim retakan yang terjadi hanya retak plesteran karena panas dan getaran vibro saat pemadatan timbunan, serta mengklaim yang berongga telah dipasang ulang.
“Kalo retakannya, kita cuma.lakukan seperti biasa retakan plasteran itu disela keretakannya kita kasibubuk semen lalu ditambal dengan cairan semen. Kalo yang retak tembus te tunya batu yang lepas dipasang ulang dengan campuran baru, ” Jelasnya.
Sebelumnya Agus mengakui metode perbaikannya memang menggunakan trik tukang biasa.
“Kalo soal tabur bubuk semen di sela retakan itu trik tukang biasa digunakan, lalu dikasih semen cair,” aku Agus.
Pengakuan tersebut memperkuat dugaan bahwa proyek dengan nilai miliaran rupiah ini diperbaiki bukan dengan SOP, melainkan dengan trik tukang bangunan rumah biasa.
Saat ditanya apakah batu yang berongga diganti dengan batu gunung keras atau tetap memakai batu kapur lama, Agus menjawab.
“Yang diperbaiki itu tidak ada yang keropos. Kecuali yang kita temukan beda dengan yang ditemukan tukangku, ” Ucapnya.
Namun foto yang ia kirim menunjukkan sebaliknya. Lubang besar yang sebelumnya berongga, hanya ditutup adukan semen encer di permukaan luar. Di dalam lubang, batu kapur putih berpori yang keropos masih terlihat jelas, tidak dibuang dan tidak diganti dengan batu gunung keras sesuai standar RAB.
Pondasi yang lain Retak vertikal tembus yang menganga, hanya dioles semen yang masih basah. Garis hitam retakan masih menganga jelas dari atas ke bawah, tidak dibongkar.
Metode ini dalam dunia konstruksi disebut perbaikan kosmetik atau sulam tempel, bukan perbaikan konstruksi. Seharusnya sesuai SOP Bina Marga, retak tembus dan pasangan berongga wajib dibongkar total minimal 1 meter kiri-kanan, batu lama dibuang, dan diganti batu gunung keras dengan adukan baru.
Seorang Ahli Konstruksi Jalan, Fakhrul yang dimintai pendapatnya terkait foto tersebut mengaku geleng kepala.
“Itu bukan perbaikan, itu sulap. Tabur bubuk semen ditambah siram cairan itu trik tukang untuk kamar mandi bocor, bukan untuk siring penahan jalan Kabupaten. Kalau retak tembus ditambal seperti itu, di dalam tetap bolong, tidak punya kekuatan ikat sama sekali. Dua kali hujan lebat pasti lepas karena semen tidak akan lengket di batu kapur bertepung yang menyerap air. Ini miris untuk proyek Rp12,8 miliar,” tegasnya.
Senada, tukang senior yang sudah lama bekerja di bagian kontruksi 40 tahun Tahere, menyebut metode tersebut bukan trik tukang yang benar.
“Jangan bawa-bawa nama tukang! Tukang yang jujur itu kalau retak tembus dibongkar, batunya dibuang, diganti batu gunung hitam yang keras. Kalau cuma ditempel seperti itu, kami saja malu. Itu trik irit semen, bukan trik tukang,” katanya.
Dalam hak jawabnya, pihak pelaksana juga tidak menyentuh substansi utama yang dipersoalkan warga, yakni dugaan penggunaan batu kapur putih berpori yang mudah hancur diremas, bukan batu gunung keras.
Agus sempat menyebut batu berasal dari tambang berizin, namun hingga kini tidak pernah menyebutkan nama tambang, alamat tambang, maupun menunjukkan surat jalan material atau DO.
Dia hanya mengirim bukti obrolan cheat dengan yang menyuplai batu, dengan percapakapan, ” Jangan kasih batu begini bosku, ” “Lebih banyak yang hancur dan,”“Timbunan ji ini”
Melihat perbaikan yang hanya ditempel semen itu, Warga meminta pengawasan turun tangan.
“Kami warga yang minta tolong, Pak. Kami yang setiap hari lewat jalan ini. Kami yang lihat batunya putih hancur jadi tepung. Tolong Inspektorat, BPK, Kejaksaan, Dewan, datanglah cek langsung ke lokasi. Ambil itu batunya, tes di lab. Jangan cuma percaya foto tempelan semen,” ujar salah seorang warga Taccipi yang enggan disebutkan namanya karena takut diintimidasi.
Ia menambahkan, mereka tidak ingin jalan yang dibangun dengan uang rakyat Rp12,8 miliar itu ambruk saat musim hujan.
“Kalau musim hujan nanti ini siring ambruk, siapa yang tanggung jawab? Kami yang jadi korban. Makanya kami minta APH turun sebelum PHO, jangan tunggu sudah serah terima baru ribut,” Tegasnya.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Setelah Hak Jawab Dimuat, Fakta Baru Terbongkar: Perbaikan Retak Proyek Rp12,8 Miliar Taccipi-Tokaseng
RABU, 4 NOVEMBER 2026
Foto Kiriman Penanggung Jawab Sendiri Jadi Bumerang, Ahli: Itu Kosmetik, Bukan Konstruksi - 2 Minggu Kena Hujan Pasti Rontok Lagi
Bone, DNID.co.id - Rabu(04/11/2026). Setelah sebelumnya pihak pelaksana Proyek Preservasi Jalan Taccipi-Tokaseng senilai Rp12,8 Miliar memberikan hak jawab yang telah dimuat utuh oleh redaksi pada edisi sebelumnya, fakta baru kembali ditemukan di lapangan yang justru memperkuat dugaan gagal mutu.
Fakta baru tersebut berasal dari foto bukti perbaikan yang dikirim langsung oleh Agus, Penanggung Jawab Lapangan, kepada redaksi sebagai bagian dari hak jawabnya. Namun setelah diteliti, foto tersebut bukan bukti perbaikan struktural, diduga melainkan bukti perbaikan ala kadarnya.
Dalam hak jawabnya, Agus mengklaim retakan yang terjadi hanya retak plesteran karena panas dan getaran vibro saat pemadatan timbunan, serta mengklaim yang berongga telah dipasang ulang.
"Kalo retakannya, kita cuma.lakukan seperti biasa retakan plasteran itu disela keretakannya kita kasibubuk semen lalu ditambal dengan cairan semen. Kalo yang retak tembus te tunya batu yang lepas dipasang ulang dengan campuran baru, " Jelasnya.
Sebelumnya Agus mengakui metode perbaikannya memang menggunakan trik tukang biasa.
"Kalo soal tabur bubuk semen di sela retakan itu trik tukang biasa digunakan, lalu dikasih semen cair," aku Agus.
Pengakuan tersebut memperkuat dugaan bahwa proyek dengan nilai miliaran rupiah ini diperbaiki bukan dengan SOP, melainkan dengan trik tukang bangunan rumah biasa.
Saat ditanya apakah batu yang berongga diganti dengan batu gunung keras atau tetap memakai batu kapur lama, Agus menjawab.
"Yang diperbaiki itu tidak ada yang keropos. Kecuali yang kita temukan beda dengan yang ditemukan tukangku, " Ucapnya.
Namun foto yang ia kirim menunjukkan sebaliknya. Lubang besar yang sebelumnya berongga, hanya ditutup adukan semen encer di permukaan luar. Di dalam lubang, batu kapur putih berpori yang keropos masih terlihat jelas, tidak dibuang dan tidak diganti dengan batu gunung keras sesuai standar RAB.
Pondasi yang lain Retak vertikal tembus yang menganga, hanya dioles semen yang masih basah. Garis hitam retakan masih menganga jelas dari atas ke bawah, tidak dibongkar.
Metode ini dalam dunia konstruksi disebut perbaikan kosmetik atau sulam tempel, bukan perbaikan konstruksi. Seharusnya sesuai SOP Bina Marga, retak tembus dan pasangan berongga wajib dibongkar total minimal 1 meter kiri-kanan, batu lama dibuang, dan diganti batu gunung keras dengan adukan baru.
Seorang Ahli Konstruksi Jalan, Fakhrul yang dimintai pendapatnya terkait foto tersebut mengaku geleng kepala.
"Itu bukan perbaikan, itu sulap. Tabur bubuk semen ditambah siram cairan itu trik tukang untuk kamar mandi bocor, bukan untuk siring penahan jalan Kabupaten. Kalau retak tembus ditambal seperti itu, di dalam tetap bolong, tidak punya kekuatan ikat sama sekali. Dua kali hujan lebat pasti lepas karena semen tidak akan lengket di batu kapur bertepung yang menyerap air. Ini miris untuk proyek Rp12,8 miliar," tegasnya.
Senada, tukang senior yang sudah lama bekerja di bagian kontruksi 40 tahun Tahere, menyebut metode tersebut bukan trik tukang yang benar.
"Jangan bawa-bawa nama tukang! Tukang yang jujur itu kalau retak tembus dibongkar, batunya dibuang, diganti batu gunung hitam yang keras. Kalau cuma ditempel seperti itu, kami saja malu. Itu trik irit semen, bukan trik tukang," katanya.
Dalam hak jawabnya, pihak pelaksana juga tidak menyentuh substansi utama yang dipersoalkan warga, yakni dugaan penggunaan batu kapur putih berpori yang mudah hancur diremas, bukan batu gunung keras.
Agus sempat menyebut batu berasal dari tambang berizin, namun hingga kini tidak pernah menyebutkan nama tambang, alamat tambang, maupun menunjukkan surat jalan material atau DO.
Dia hanya mengirim bukti obrolan cheat dengan yang menyuplai batu, dengan percapakapan, " Jangan kasih batu begini bosku, " "Lebih banyak yang hancur dan,""Timbunan ji ini"
Melihat perbaikan yang hanya ditempel semen itu, Warga meminta pengawasan turun tangan.
"Kami warga yang minta tolong, Pak. Kami yang setiap hari lewat jalan ini. Kami yang lihat batunya putih hancur jadi tepung. Tolong Inspektorat, BPK, Kejaksaan, Dewan, datanglah cek langsung ke lokasi. Ambil itu batunya, tes di lab. Jangan cuma percaya foto tempelan semen," ujar salah seorang warga Taccipi yang enggan disebutkan namanya karena takut diintimidasi.
Ia menambahkan, mereka tidak ingin jalan yang dibangun dengan uang rakyat Rp12,8 miliar itu ambruk saat musim hujan.
"Kalau musim hujan nanti ini siring ambruk, siapa yang tanggung jawab? Kami yang jadi korban. Makanya kami minta APH turun sebelum PHO, jangan tunggu sudah serah terima baru ribut," Tegasnya.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.