Sorotan tajam mengarah ke Desa Tajong. Seorang warga berinisial NW diduga kuat menjadi pengepul atau penampung solar subsidi.
Modusnya, menerima pasokan dari mobil-mobil pelangsir untuk dikumpulkan di gudang rahasianya, lalu dijual kembali dengan harga tinggi di atas harga subsidi.
Informasi ini dibongkar oleh seorang sumber terpercaya yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.
Sumber menyebut, pasokan solar haram yang diduga masuk ke NW berasal dari mobil pelangsir yang setiap hari menjadi biang kerok antrean panjang di SPBU Akae, Desa Pallawa Rukka, Kecamatan Ulaweng.
Menurut sumber, armada yang digunakan para pelangsir atau yang dikenal dengan istilah lokal nyedot itu bukan lagi mobil pribadi, melainkan kendaraan niaga dari roda empat hingga roda enam yang memang disiapkan untuk menguras solar subsidi.
“Mobilnya NW, kalau tidak salah L300 sama dam truk warna merah,” ungkap sumber tersebut dengan tegas.
Lebih jauh, NW juga disebut diduga tidak hanya menerima dari satu mobil, tetapi menerima pasokan dari banyak pelangsir lain yang kebanyakan aktif mengantri di SPBU Akae tersebut. Diduga, NW adalah bandar besar di balik antrean solar yang tak pernah habis di Ulaweng.
Kegeraman warga pun meledak. Seorang warga bernama Nasir yang setiap hari melihat langsung praktik itu akhirnya angkat bicara.
Menurut Nasir, kelangkaan solar yang dirasakan petani dan nelayan selama ini adalah kelangkaan palsu, kelangkaan yang sengaja diciptakan oleh mobil pa’sedot.
“Sebetulnya itu mobil nyedot yang kasih antri panjang jadi seakan-akan solar itu langka,” ujar Nasir geram.
Ia mengungkapkan fakta di lapangan yang sangat miris. Mobil yang antre di SPBU itu-itu saja, hari ini antre, besok antre lagi.
“Saya liat banyak mobil yang antri di SPBU ini hari itu lagi yang antri besok, banyak juga mobil yang sudah tidak layak jalan masih isi full tangki BBM solar subsidi asal masih layak jalan ke SPBU,” beber Nasir.
Artinya, mobil-mobil rongsokan yang tidak layak jalan pun dipaksa jalan hanya untuk menguras jatah solar subsidi rakyat kecil.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak yang disebut dalam pemberitaan yakni NW maupun aparat penegak hukum setempat belum berhasil dikonfirmasi terkait dugaan tersebut.
Informasi ini masih merupakan dugaan awal yang memerlukan penelusuran dan verifikasi lebih lanjut dari pihak berwenang.
Tim media masih terus melakukan penelusuran untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap serta mengupayakan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Mafia Solar Tajong Terendus, NW Diduga Jadi Pengepul, Pasokan dari Mobil Nyedot
MINGGU, 11 OKTOBER 2026
Bone, DNID.co.id – Bau busuk dugaan mafia bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar kembali menyengat di Kabupaten Bone.
Kali ini, praktik haram itu mencuat di wilayah Kecamatan Tellu Siattinge, Minggu (11/10/2026).
Sorotan tajam mengarah ke Desa Tajong. Seorang warga berinisial NW diduga kuat menjadi pengepul atau penampung solar subsidi.
Modusnya, menerima pasokan dari mobil-mobil pelangsir untuk dikumpulkan di gudang rahasianya, lalu dijual kembali dengan harga tinggi di atas harga subsidi.
Informasi ini dibongkar oleh seorang sumber terpercaya yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.
Sumber menyebut, pasokan solar haram yang diduga masuk ke NW berasal dari mobil pelangsir yang setiap hari menjadi biang kerok antrean panjang di SPBU Akae, Desa Pallawa Rukka, Kecamatan Ulaweng.
Menurut sumber, armada yang digunakan para pelangsir atau yang dikenal dengan istilah lokal nyedot itu bukan lagi mobil pribadi, melainkan kendaraan niaga dari roda empat hingga roda enam yang memang disiapkan untuk menguras solar subsidi.
“Mobilnya NW, kalau tidak salah L300 sama dam truk warna merah,” ungkap sumber tersebut dengan tegas.
Lebih jauh, NW juga disebut diduga tidak hanya menerima dari satu mobil, tetapi menerima pasokan dari banyak pelangsir lain yang kebanyakan aktif mengantri di SPBU Akae tersebut. Diduga, NW adalah bandar besar di balik antrean solar yang tak pernah habis di Ulaweng.
Kegeraman warga pun meledak. Seorang warga bernama Nasir yang setiap hari melihat langsung praktik itu akhirnya angkat bicara.
Menurut Nasir, kelangkaan solar yang dirasakan petani dan nelayan selama ini adalah kelangkaan palsu, kelangkaan yang sengaja diciptakan oleh mobil pa'sedot.
“Sebetulnya itu mobil nyedot yang kasih antri panjang jadi seakan-akan solar itu langka,” ujar Nasir geram.
Ia mengungkapkan fakta di lapangan yang sangat miris. Mobil yang antre di SPBU itu-itu saja, hari ini antre, besok antre lagi.
“Saya liat banyak mobil yang antri di SPBU ini hari itu lagi yang antri besok, banyak juga mobil yang sudah tidak layak jalan masih isi full tangki BBM solar subsidi asal masih layak jalan ke SPBU,” beber Nasir.
Artinya, mobil-mobil rongsokan yang tidak layak jalan pun dipaksa jalan hanya untuk menguras jatah solar subsidi rakyat kecil.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak yang disebut dalam pemberitaan yakni NW maupun aparat penegak hukum setempat belum berhasil dikonfirmasi terkait dugaan tersebut.
Informasi ini masih merupakan dugaan awal yang memerlukan penelusuran dan verifikasi lebih lanjut dari pihak berwenang.
Tim media masih terus melakukan penelusuran untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap serta mengupayakan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait.