Jangan Tunggu Ambruk! Siring Proyek Rp12,8 Miliar Taccipi-Tokaseng Didesak Dibongkar, APH Diminta Bertindak Sebelum PHO

Retak tembus, pasangan batu diduga berongga hingga perbaikan yang hanya terlihat ditambal semen memicu kekhawatiran warga. Inspektorat, BPK, Kejaksaan dan konsultan pengawas didesak memeriksa langsung sebelum proyek masuk tahap serah terima.

 

Bone, DNID.co.id – Ini bukan lagi sekadar persoalan jalan yang kurang rapi. Ada persoalan yang jauh lebih serius. kondisi konstruksi penahan jalan yang diduga rapuh, sementara pekerjaan penimbunan dan persiapan pengaspalan terus berjalan.

Berdasarkan pantauan dan temuan di lapangan, Jumat (7/11/2026). Kondisi siring penahan jalan pada Proyek Preservasi Jalan Taccipi-Tokaseng senilai Rp12,8 miliar yang dikerjakan PT. Mutiara Gunung Agung memperlihatkan sejumlah kerusakan yang mengkhawatirkan. Padahal, jalan tersebut belum juga memasuki tahap pengaspalan.

Ironisnya, meski kondisi siring sudah memperlihatkan keretakan dan bagian pasangan batu yang dipersoalkan, pekerjaan penimbunan serta pengerasan badan jalan untuk persiapan pengaspalan tetap dilanjutkan. Seolah-olah tidak ada persoalan serius pada konstruksi penahan jalan tersebut.

Setelah redaksi memuat hak jawab pihak pelaksana pada edisi sebelumnya, fakta baru justru kembali mencuat. Kali ini, bukan semata berdasarkan keluhan warga, melainkan dari foto bukti perbaikan yang dikirim langsung oleh penanggung jawab lapangan proyek.

Foto tersebut setelah ditelaah justru memunculkan dugaan bahwa penanganan kerusakan bukan merupakan perbaikan struktural, melainkan sebatas penutupan bagian luar yang rusak.

Masyarakat Resaldi, yang dimintai pendapatnya, menilai foto tersebut memperlihatkan pasangan batu yang tidak saling mengunci. Celah antarbatu terlihat besar, kosong, dan tidak terisi adukan semen-pasir secara penuh.

“Kondisi seperti ini dalam istilah teknis disebut pasangan batu kering. Kekuatannya hanya mengandalkan berat batu sendiri, bukan ikatan adukan. Sekali kena getaran kendaraan atau tekanan air, konstruksi seperti ini sangat mudah ambyar,” katanya.

Jika kondisi tersebut benar terjadi dan dibiarkan, siring dikhawatirkan tidak mampu menahan beban timbunan jalan di atasnya.

Plesteran Retak, Masalah Diduga Bukan Sekadar Kulit Luar

Pihak pelaksana terlihat telah melakukan plesteran pada bagian atas siring. Namun, berdasarkan pantauan di lapangan, lapisan plesteran tersebut justru sudah memperlihatkan keretakan memanjang, patah-patah, bahkan terkelupas.

“Plesteran itu hanya kulit luar. Kalau kulitnya saja sudah patah seperti kerupuk, berarti masalahnya ada di badannya. Artinya pasangan batu di dalam sudah goyang dan adukan tidak mengikat. Diplester berapa kali pun, kalau badannya keropos, hasilnya akan tetap retak,” ujar Surahman, warga setempat.

Warga pun mempertanyakan alasan bagian konstruksi yang sudah memperlihatkan kerusakan tidak segera dibongkar dan diperbaiki secara menyeluruh. Mereka menilai, kerusakan justru hanya ditutup kembali menggunakan plesteran.

Temuan lain yang tidak kalah mengkhawatirkan terlihat pada dinding bagian belakang siring. Bagian yang tampak masih baru tersebut sudah mengalami retakan vertikal dari atas hingga ke bawah.

“Retak seperti itu bukan retak rambut biasa. Itu indikasi ada pergerakan atau penurunan di bawahnya. Dinding baru seharusnya tidak retak. Kalau baru saja sudah retak, bagaimana nasibnya kalau sudah dilewati ribuan kendaraan?” ungkap warga lainnya dengan nada kecewa sambil menunjukkan dinding yang retak di belakang pondasi yang pecah-pecah.

Berdasarkan pantauan, pada badan siring juga tidak terlihat adanya lubang pembuangan air atau weep hole.

Padahal, lubang tersebut berfungsi mengeluarkan tekanan air dari belakang dinding ketika hujan. Tanpa saluran pembuangan yang memadai, air berpotensi tertahan dan menumpuk di belakang konstruksi. Tekanan air yang terus meningkat dapat mendorong dinding hingga mengalami kerusakan, bahkan jebol.

Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena bagian pinggir siring terlihat rapuh. Tanah dasar di bawahnya tampak masih berupa material lepas yang bercampur kerikil, bukan tanah keras yang terlihat telah dipadatkan secara memadai.

Padahal, pondasi siring semestinya bertumpu pada dasar yang stabil dan memiliki daya dukung memadai, bukan pada timbunan lepas yang belum dipastikan tingkat kepadatannya.

Dalam hak jawabnya, Agus selaku Penanggung Jawab Lapangan mengklaim bahwa keretakan yang terjadi hanya merupakan retak plesteran akibat panas dan getaran vibro saat pemadatan timbunan. Ia juga mengklaim bagian yang berongga telah dipasang ulang.

“Kalo retakannya, kita cuma lakukan seperti biasa retakan plasteran itu disela keretakannya kita kasih bubuk semen lalu ditambal dengan cairan semen. Kalo yang retak tembus, batunya yang lepas dipasang ulang dengan campuran baru,” jelasnya.

Sebelumnya, Agus juga mengakui metode perbaikan yang digunakan memang memakai trik tukang biasa.

“Kalo soal tabur bubuk semen di sela retakan itu trik tukang biasa digunakan, lalu dikasih semen cair,” aku Agus.

Pernyataan tersebut justru memunculkan pertanyaan mengenai standar penanganan kerusakan konstruksi pada proyek bernilai miliaran rupiah ini. Apakah metode yang diterapkan telah sesuai dengan spesifikasi teknis dan prosedur perbaikan konstruksi yang disyaratkan dalam kontrak?

Pasalnya, perbaikan konstruksi penahan jalan tidak cukup hanya mengandalkan penutupan retakan di permukaan apabila kerusakan ternyata sudah menjalar ke bagian pasangan batu di dalamnya.

Saat ditanya apakah batu yang berongga diganti menggunakan batu gunung keras atau tetap memakai batu kapur lama, Agus menjawab:

“Yang diperbaiki itu tidak ada yang keropos. Kecuali yang kita temukan beda dengan yang ditemukan tukangku,” ucapnya.

Namun, foto yang dikirim Agus justru memperlihatkan kondisi yang memunculkan pertanyaan berbeda.

Lubang besar yang sebelumnya terlihat berongga, berdasarkan pengamatan terhadap foto tersebut, tampak hanya ditutup menggunakan adukan semen yang terlihat encer pada permukaan luar.

Sementara itu, di bagian dalam lubang masih terlihat batu kapur putih berpori yang diduga keropos, tanpa terlihat jelas adanya pembongkaran maupun penggantian dengan batu gunung keras.

Begitu pula pada retakan vertikal yang terlihat menembus. Bagian tersebut tampak hanya diolesi semen yang masih basah. Garis hitam pada celah retakan masih terlihat jelas dari atas hingga ke bawah.

Kondisi visual tersebut memunculkan dugaan bahwa penanganan yang dilakukan lebih menyerupai perbaikan permukaan atau sulam tempel, bukan pembongkaran dan pemulihan konstruksi secara menyeluruh.

Secara teknis, penanganan retakan tembus dan pasangan batu yang benar-benar berongga harus terlebih dahulu didasarkan pada pemeriksaan kondisi kerusakan.

Jika kerusakan struktural terbukti, bagian yang bermasalah perlu dibongkar hingga mencapai bagian konstruksi yang masih baik, kemudian dipasang kembali menggunakan material dan adukan sesuai spesifikasi teknis.

Bahkan, dalam standar pekerjaan konstruksi jalan, pembongkaran dan penggantian material harus mengikuti ketentuan teknis yang berlaku, bukan sekadar menutup bagian luar agar terlihat kembali rapi.

Seorang ahli konstruksi jalan yang dimintai pendapatnya terkait foto tersebut mengaku geleng kepala.

“Itu bukan perbaikan, itu sulap. Tabur bubuk semen ditambah siram cairan itu trik tukang untuk kamar mandi bocor, bukan untuk siring penahan jalan kabupaten. Kalau retak tembus ditambal seperti itu, di dalam tetap bolong, tidak punya kekuatan ikat sama sekali. Dua kali hujan lebat pasti lepas karena semen tidak akan lengket di batu kapur bertepung yang menyerap air. Ini miris untuk proyek Rp12,8 miliar,” tegasnya.

Senada dengan itu, tukang senior yang telah 40 tahun bekerja di bidang konstruksi, Tahere, menyebut metode tersebut bukanlah trik tukang yang benar.

“Jangan bawa-bawa nama tukang! Tukang yang jujur itu kalau retak tembus dibongkar, batunya dibuang, diganti batu gunung hitam yang keras. Kalau cuma ditempel seperti itu, kami saja malu. Itu trik irit semen, bukan trik tukang,” katanya.

Di luar persoalan retakan dan metode perbaikan, pihak pelaksana juga belum menjawab substansi utama yang sejak awal dipersoalkan warga, yakni dugaan penggunaan batu kapur putih berpori yang mudah hancur ketika diremas, bukan batu gunung keras sebagaimana yang dipersoalkan dalam kualitas material siring.

Agus sempat menyebut material batu berasal dari tambang berizin. Namun, hingga kini, ia belum menyebutkan nama tambang, alamat lokasi tambang, maupun memperlihatkan surat jalan material atau Delivery Order (DO) yang dapat menjelaskan asal-usul batu tersebut.

Agus hanya mengirimkan bukti percakapan melalui aplikasi pesan dengan pihak yang menyuplai batu. Dalam percakapan tersebut diduga terdapat kalimat, “Jangan kasih batu begini bosku,” “Lebih banyak yang hancur,” dan “Timbunan ji ini.”

Percakapan itu justru memunculkan pertanyaan baru di kalangan warga. Jika sejak awal sudah diketahui bahwa material batu yang dikirim banyak mengalami kerusakan atau hancur, mengapa material tersebut tetap dipasang?

Pertanyaan itu semakin menguatkan kekecewaan warga. Sebab, ketika kondisi siring masih dipersoalkan dan diduga rapuh, proses penimbunan serta pengerasan jalan menggunakan alat berat justru terus berlangsung.

Getaran vibro roller saat pemadatan dikhawatirkan semakin membebani konstruksi siring yang sebelumnya telah memperlihatkan keretakan.

Warga menilai, apabila kerusakan konstruksi tidak ditangani secara benar sebelum pengaspalan, persoalan tersebut berpotensi berkembang menjadi kerusakan yang lebih besar. Mereka mengkhawatirkan sedikitnya tiga tahapan risiko berikut:

Aspal memiliki suhu tinggi saat dihampar dan dipadatkan. Siring yang konstruksinya bermasalah dikhawatirkan tidak mampu menahan tekanan timbunan dari samping maupun beban pekerjaan pemadatan.

Jika pasangan batu terus mengalami kerusakan, material di bagian pinggir berpotensi terlepas. Setelah tertutup lapisan aspal, kerusakan tersebut bisa saja tidak lagi terlihat dari permukaan, meskipun persoalan pada konstruksi di bawahnya belum terselesaikan.

Dengan kata lain, pengaspalan berisiko hanya membuat permukaan jalan tampak rapi, sementara persoalan pada bagian penahannya masih tersimpan.

Aspal tidak memiliki kemampuan menopang dirinya sendiri tanpa dukungan lapisan dasar yang stabil. Konstruksi penahan dan badan jalan harus mampu menjaga kestabilan timbunan di atasnya.

Jika bagian penahan mengalami kerusakan atau pergerakan, lapisan aspal di atasnya berpotensi ikut mengalami penurunan. Retakan memanjang dapat muncul di sekitar garis siring, kemudian air masuk melalui celah tersebut dan membuat timbunan semakin lembek.

“Percuma aspal dihampar sekarang. Aspal itu hanya ikut apa yang ada di bawahnya. Kalau penahannya rapuh, aspal baru itu paling lama 1 sampai 3 bulan akan ikut retak, amblas, dan bergelombang. Nanti begitu musim hujan pertama datang, siring ini yang dikhawatirkan akan jebol total,” kata warga bernama Tuge.

Ketiadaan lubang pembuangan air atau weep hole yang terlihat pada badan siring menjadi persoalan lain yang disoroti warga.

Air hujan yang masuk dan tertahan di belakang dinding berpotensi menimbulkan tekanan terhadap konstruksi. Jika pasangan batu tidak memiliki ikatan adukan yang memadai, tekanan air tersebut dikhawatirkan memperparah kerusakan hingga siring jebol.

Jika itu terjadi, dampaknya bukan hanya kerusakan lapisan aspal. Badan jalan berpotensi ikut terbelah, bahkan kendaraan yang melintas dapat terperosok apabila kerusakan berkembang hingga ke struktur jalan.

Warga menilai, apabila pekerjaan pada titik-titik yang rusak tidak dibongkar dan tetap dipaksakan hingga pengaspalan, persoalan tersebut tidak akan selesai. Aspal baru dikhawatirkan hanya menutupi kerusakan sementara, sebelum akhirnya kembali rusak dan berujung pada pemborosan uang negara.

Warga di sekitar lokasi mendesak agar pekerjaan pada titik yang mengalami kerusakan dihentikan sementara. Mereka meminta bagian yang bermasalah dibongkar dan diperbaiki secara menyeluruh, bukan sekadar ditutup menggunakan plesteran baru.

“Kami tidak minta proyek ini berhenti. Kami minta dibongkar yang rusaknya saja. Bongkar 2-3 meter yang sudah retak itu, pasang ulang dengan adukan yang penuh, kasih lubang airnya. Itu lebih murah daripada harus bangun ulang total tahun depan. Jangan tunggu aspal naik baru ketahuan rusak, saat itu sudah terlambat,” desak warga.

Menurut warga, biaya pembongkaran dan perbaikan pada titik yang rusak diperkirakan hanya sekitar 5-10 persen dari nilai proyek. Namun, apabila kerusakan dibiarkan hingga berkembang, potensi kerugian justru bisa jauh lebih besar karena lapisan aspal dan siring berisiko harus dibangun ulang.

Melihat metode perbaikan yang dinilai hanya sebatas penempelan semen, warga juga meminta aparat pengawasan dan lembaga pemeriksa turun tangan sebelum pekerjaan dinyatakan selesai.

“Kami warga yang minta tolong, Pak. Kami yang setiap hari lewat jalan ini. Kami yang lihat batunya putih hancur jadi tepung. Tolong Inspektorat Sulsel, BPK, Kejaksaan, Dewan, datanglah cek langsung ke lokasi. Ambil itu batunya, tes di lab. Jangan cuma percaya foto tempelan semen,” ujar salah seorang warga Taccipi yang enggan disebutkan namanya karena takut diintimidasi.

Ia menambahkan, warga tidak ingin jalan yang dibangun menggunakan uang rakyat senilai Rp12,8 miliar tersebut justru mengalami kerusakan serius ketika musim hujan tiba.

“Kalau musim hujan nanti ini siring ambruk, siapa yang tanggung jawab? Kami yang jadi korban. Makanya kami minta APH turun sebelum PHO, jangan tunggu sudah serah terima baru ribut,” tegasnya.

Warga juga meminta dinas terkait dan konsultan pengawas turun langsung ke lokasi. Pemeriksaan diharapkan tidak hanya dilakukan secara visual, tetapi juga melalui pengecekan kondisi konstruksi, termasuk mengetok bagian plesteran, mengukur lebar retakan, serta memastikan kondisi pasangan batu di balik lapisan plesteran sebelum pekerjaan pengaspalan dilanjutkan.

Mereka juga meminta agar kualitas material batu diperiksa melalui pengujian laboratorium sehingga dugaan penggunaan batu kapur putih yang mudah hancur dapat dibuktikan secara teknis, bukan sekadar menjadi perdebatan antara warga dan pelaksana.

Hingga berita ini diturunkan, DNID.co.id masih membuka ruang hak jawab lanjutan kepada pihak pelaksana dan dinas terkait untuk memberikan penjelasan, termasuk mengenai metode perbaikan, spesifikasi material, asal-usul batu, serta hasil pemeriksaan konsultan pengawas terhadap kondisi siring di lapangan.

Jika dalam waktu dekat tidak ada pembongkaran dan perbaikan yang dapat dipertanggungjawabkan secara teknis, warga meminta agar pekerjaan pengaspalan tidak dipaksakan.

Simpan sebagai Kenangan

Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.

Simpan Gambar:

Minggu, 8 November 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Penulis: Ricky

Editor: Kingzhie

Sumber Berita: Investigasi Tim

Penanggung Jawab: Ir Herman Maddaung

Menghubungkan ke server...
Simpan Gambar:

Berita Terkait

Porprov XVIII Resmi Dibuka, 5.000 Atlet dari 24 Daerah Serbu Bone, Gubernur Bawa Kejutan
Polresta Pangkalpinang Ajak Warga Perangi Narkoba, Masyarakat Diminta Aktif Laporkan Kejahatan
Jangan Sampai Nyasar dan Kena Macet di Pembukaan Porprov Hari Ini, Ini Jalur Rahasia yang Disiapkan
Jumat Berkah Rumpi Cafe: Sinergi TNI-Polri, Jurnalis dan Pemuda Jaga Makassar Tetap Aman
Hijaukan Wilayah Gowa, TMMD ke-130 Kodim 1409/Gowa Tanam 500 Pohon di Kalaserena
Sinergi Tanpa Batas! Rumpi Cafe Gandeng TNI/Polri dan Jurnalis serta pemuda masyarakat Jaga Makassar Tetap Aman Sekaligus Gelar Jumat Berkah
Resmikan Sekretariat “Rumah Besar”, IMO-Indonesia Uji Coba Aplikasi AdS Media Online
Hidupkan Green Policing, IPDA Agus Fardiansyah Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 8 November 2026 - 09:51 WITA

Jangan Tunggu Ambruk! Siring Proyek Rp12,8 Miliar Taccipi-Tokaseng Didesak Dibongkar, APH Diminta Bertindak Sebelum PHO

Sabtu, 7 November 2026 - 22:32 WITA

Porprov XVIII Resmi Dibuka, 5.000 Atlet dari 24 Daerah Serbu Bone, Gubernur Bawa Kejutan

Sabtu, 7 November 2026 - 13:45 WITA

Polresta Pangkalpinang Ajak Warga Perangi Narkoba, Masyarakat Diminta Aktif Laporkan Kejahatan

Sabtu, 7 November 2026 - 08:13 WITA

Jangan Sampai Nyasar dan Kena Macet di Pembukaan Porprov Hari Ini, Ini Jalur Rahasia yang Disiapkan

Sabtu, 7 November 2026 - 01:43 WITA

Jumat Berkah Rumpi Cafe: Sinergi TNI-Polri, Jurnalis dan Pemuda Jaga Makassar Tetap Aman

Jumat, 6 November 2026 - 22:11 WITA

Hijaukan Wilayah Gowa, TMMD ke-130 Kodim 1409/Gowa Tanam 500 Pohon di Kalaserena

Jumat, 6 November 2026 - 22:02 WITA

Sinergi Tanpa Batas! Rumpi Cafe Gandeng TNI/Polri dan Jurnalis serta pemuda masyarakat Jaga Makassar Tetap Aman Sekaligus Gelar Jumat Berkah

Jumat, 6 November 2026 - 21:19 WITA

Resmikan Sekretariat “Rumah Besar”, IMO-Indonesia Uji Coba Aplikasi AdS Media Online

Berita Terbaru