Dua Bendungan Mengalir, Sawah Libureng Kering: Petani Bone Teriak Terancam Gagal Panen Lagi
Kondisi saluran irigasi di kawasan Bendungan Ponre-Ponre, Desa Mario, Dusun Bulu Bulue, Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone, tampak kering dan tidak mengalirkan air ke areal persawahan. Warga menyebut banyak saluran bocor dan tidak berfungsi optimal, sehingga air bendungan terbuang dan puluhan hektare sawah terancam gagal panen.
Keluhan warga Desa Mario viral di media sosial, petani mengaku tak pernah menerima bantuan pompa air, irigasi bocor, dan terancam gagal panen untuk kedua kalinya.
DNID.CO.ID, BONE — Keluhan petani kembali mencuat dari Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone. Sebuah unggahan warga di media sosial Facebook menjadi sorotan setelah mengungkap kondisi sawah yang kekeringan di Desa Mario, Dusun Bulu Bulue, meski wilayah tersebut memiliki dua bendungan, Bendungan Ponre-Ponre.
Dalam unggahan pemilik akun Kardianti itu, menyampaikan jeritan yang ditujukan langsung kepada pemerintah daerah hingga pusat.
“Kami butuh air. Bendungan Ponre-Ponre ada dua, tapi airnya ke mana? Pak Menteri Pertanian, Pak Bupati Bone, kami terancam gagal panen untuk kedua kalinya,” tulisnya.
Keluhan itu bukan tanpa dasar. Saat dikonfirmasi, petani setempat membenarkan bahwa kelompok tani di wilayah tersebut tidak mendapatkan bantuan pompa air, padahal kondisi sawah sangat bergantung pada pompanisasi karena lokasinya cukup jauh dari sumber sungai.
“Lokasi sawah kami jauh dari sungai. Untuk bisa mengairi sawah secara maksimal, dibutuhkan dua unit pompa air. Kalau hanya satu, itu tidak mampu mengangkat air secara optimal,” ungkap Kardianti.
Tanaman padi tampak tumbuh tidak merata dengan tanah mulai retak akibat kekurangan air, mencerminkan ancaman gagal panen yang dikeluhkan petani karena aliran irigasi dari Bendungan Ponre-Ponre tidak berfungsi optimal.
Ironisnya, hingga kini tidak ada bantuan pompa air yang diterima kelompok tani di wilayah tersebut. Para petani mengaku pernah mengajukan permohonan bantuan, termasuk geo-bor, namun realisasinya tak kunjung ada.
“Pernah mengajukan geo-bor, itu tahun lalu, 2025. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Yang kami lakukan hanya sebatas mengajukan proposal,” Katanya kepada Dnid.co.id Senin (2/2/2026).
Kondisi ini memperparah situasi pertanian yang sebelumnya juga telah mengalami gagal panen akibat kekurangan air, ditambah serangan hama tikus. Alhasil, ancaman gagal panen kembali menghantui musim tanam kali ini.
Masalah tak berhenti di situ. Petani juga menyoroti saluran irigasi bendungan lama yang dinilai tidak berfungsi maksimal. Banyak saluran dilaporkan bocor, sehingga air terbuang percuma kembali ke sungai.
“Saluran itu bocor di banyak titik. Airnya terbuang sia-sia. Seharusnya dilakukan pengerjaan total, bukan hanya tambal sulam atau sepotong-sepotong,” keluhnya
Petani bahkan menyebut adanya kejanggalan ketika terjadi kerusakan saluran secara mendadak. Alih-alih ditangani pemerintah, malah petanilah yang justru patungan untuk memperbaiki kerusakan darurat tersebut.
“Ini yang paling ironis. Kalau ada kerusakan tiba-tiba, kami para petani yang patungan. Padahal kami dengar Pak Gubernur menyampaikan ada anggaran Rp210 miliar untuk sektor pertanian,” ujarnya.
Hamparan persawahan di Desa Mario, Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone, terlihat menghijau namun tidak merata. Petani menyebut sebagian petak sawah mulai kekurangan pasokan air akibat aliran irigasi yang tidak optimal, sehingga puluhan hektare lahan terancam gagal panen.
Akibat persoalan berlarut ini, petani memperkirakan sekitar 30 hektare lebih lahan sawah di Desa Mario, Dusun Bulu Bulue, terancam gagal panen jika tidak segera ada solusi konkret.
Selain itu, Para petani berharap Bupati Bone bersama Dinas Pertanian dapat turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi sebenarnya.
“Kami berharap Pak Bupati bisa datang langsung ke lokasi. Supaya bisa melihat dan mendengar sendiri keluhan kami, bukan hanya laporan di atas kertas,” pungkas petani.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Dua Bendungan Mengalir, Sawah Libureng Kering: Petani Bone Teriak Terancam Gagal Panen Lagi
JUMAT, 2 JANUARI 2026
Keluhan warga Desa Mario viral di media sosial, petani mengaku tak pernah menerima bantuan pompa air, irigasi bocor, dan terancam gagal panen untuk kedua kalinya.
DNID.CO.ID, BONE — Keluhan petani kembali mencuat dari Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone. Sebuah unggahan warga di media sosial Facebook menjadi sorotan setelah mengungkap kondisi sawah yang kekeringan di Desa Mario, Dusun Bulu Bulue, meski wilayah tersebut memiliki dua bendungan, Bendungan Ponre-Ponre.
Dalam unggahan pemilik akun Kardianti itu, menyampaikan jeritan yang ditujukan langsung kepada pemerintah daerah hingga pusat.
“Kami butuh air. Bendungan Ponre-Ponre ada dua, tapi airnya ke mana? Pak Menteri Pertanian, Pak Bupati Bone, kami terancam gagal panen untuk kedua kalinya,” tulisnya.
Keluhan itu bukan tanpa dasar. Saat dikonfirmasi, petani setempat membenarkan bahwa kelompok tani di wilayah tersebut tidak mendapatkan bantuan pompa air, padahal kondisi sawah sangat bergantung pada pompanisasi karena lokasinya cukup jauh dari sumber sungai.
“Lokasi sawah kami jauh dari sungai. Untuk bisa mengairi sawah secara maksimal, dibutuhkan dua unit pompa air. Kalau hanya satu, itu tidak mampu mengangkat air secara optimal,” ungkap Kardianti.
Ironisnya, hingga kini tidak ada bantuan pompa air yang diterima kelompok tani di wilayah tersebut. Para petani mengaku pernah mengajukan permohonan bantuan, termasuk geo-bor, namun realisasinya tak kunjung ada.
“Pernah mengajukan geo-bor, itu tahun lalu, 2025. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Yang kami lakukan hanya sebatas mengajukan proposal,” Katanya kepada Dnid.co.id Senin (2/2/2026).
Kondisi ini memperparah situasi pertanian yang sebelumnya juga telah mengalami gagal panen akibat kekurangan air, ditambah serangan hama tikus. Alhasil, ancaman gagal panen kembali menghantui musim tanam kali ini.
Masalah tak berhenti di situ. Petani juga menyoroti saluran irigasi bendungan lama yang dinilai tidak berfungsi maksimal. Banyak saluran dilaporkan bocor, sehingga air terbuang percuma kembali ke sungai.
“Saluran itu bocor di banyak titik. Airnya terbuang sia-sia. Seharusnya dilakukan pengerjaan total, bukan hanya tambal sulam atau sepotong-sepotong,” keluhnya
Petani bahkan menyebut adanya kejanggalan ketika terjadi kerusakan saluran secara mendadak. Alih-alih ditangani pemerintah, malah petanilah yang justru patungan untuk memperbaiki kerusakan darurat tersebut.
“Ini yang paling ironis. Kalau ada kerusakan tiba-tiba, kami para petani yang patungan. Padahal kami dengar Pak Gubernur menyampaikan ada anggaran Rp210 miliar untuk sektor pertanian,” ujarnya.
Akibat persoalan berlarut ini, petani memperkirakan sekitar 30 hektare lebih lahan sawah di Desa Mario, Dusun Bulu Bulue, terancam gagal panen jika tidak segera ada solusi konkret.
Selain itu, Para petani berharap Bupati Bone bersama Dinas Pertanian dapat turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi sebenarnya.
“Kami berharap Pak Bupati bisa datang langsung ke lokasi. Supaya bisa melihat dan mendengar sendiri keluhan kami, bukan hanya laporan di atas kertas,” pungkas petani.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.