Momentum Ramadan, Pendamping PKH Gowa Ajak KPM Bangkit Menuju Sejahtera
Pendamping SDM PKH, Muhammad Fadhil. (Foto:Fadhil)
Gowa, DNID.co.id – Bulan suci Ramadan kembali hadir, membawa suasana yang tak hanya sarat ibadah, tetapi juga penuh perenungan dan harapan baru. Di tengah keberkahan bulan ini, semangat perubahan digaungkan kepada para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH), program bantuan sosial dari Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Pendamping SDM PKH, Muhammad Fadhil, mengajak para KPM menjadikan Ramadan sebagai momentum kebangkitan menuju kemandirian ekonomi dan kehidupan yang lebih bermartabat.
“Ramadan melatih kita menahan lapar dan dahaga. Tapi sejatinya, Ramadhan sedang melatih kita menjadi pribadi yang kuat dalam keterbatasan dan teguh dalam perjuangan,” ungkap Muhammad Fadhil.
Menurutnya, Ramadan adalah madrasah kehidupan. Di bulan ini, setiap pribadi ditempa untuk lebih sabar, lebih disiplin, dan lebih mampu mengendalikan diri—nilai-nilai yang juga sangat penting dalam perjuangan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.(QS. Ar-Ra’d: 11)
Bagi Fadhil, ayat tersebut menjadi pesan kuat bahwa bantuan sosial bukanlah tujuan akhir. PKH, katanya, adalah jembatan menuju perubahan yang lebih besar.
“Allah sudah menegaskan bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri. PKH adalah stimulus, tetapi tekad dan kerja keraslah yang akan membawa keluarga keluar dari garis kemiskinan dengan terhormat,” tegasnya.
Dalam suasana Ramadan yang hening dan penuh doa, ia juga mengingatkan sabda Rasulullah SAW :
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”.(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis itu, menurutnya, bukan sekadar ajakan untuk memberi, melainkan cita-cita mulia yang layak diperjuangkan setiap keluarga penerima manfaat. Harapannya, suatu hari nanti keluarga yang hari ini menerima bantuan dapat tumbuh menjadi keluarga yang mampu memberi manfaat bagi sesama.
Fadhil memahami betul bahwa di balik setiap data KPM terdapat kisah perjuangan yang nyata. Ada ibu yang bangun sebelum subuh menyiapkan sahur dengan bahan sederhana, ayah yang tetap bekerja keras meski penghasilan tak menentu, serta anak-anak yang menyimpan mimpi besar di tengah keterbatasan.
“Jangan pernah merasa rendah diri karena kondisi hari ini. Kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh hartanya, tetapi oleh kesungguhannya dalam berikhtiar dan bertawakal,” tuturnya penuh haru.
Ia juga menekankan bahwa Ramadhan mengajarkan pengelolaan diri, termasuk dalam mengatur keuangan keluarga. Menahan keinginan, mendahulukan kebutuhan, menabung walau sedikit, hingga mulai merintis usaha kecil dari rumah merupakan langkah nyata menuju kemandirian.
Fadhil kembali menguatkan dengan mengutip firman Allah dalam Surah Al-Insyirah ayat 5–6:
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.
“Ayat ini bukan sekadar penghibur. Ini adalah janji Allah. Dan janji Allah itu pasti. Selama kita mau berusaha dan tidak menyerah, kemudahan itu sedang Allah siapkan,” ujarnya.
Ia berharap, beberapa tahun ke depan akan lahir kisah-kisah inspiratif dari para KPM PKH—keluarga yang dulunya menerima bantuan, kini telah mandiri, memiliki usaha, anak-anaknya menyelesaikan pendidikan dengan baik, bahkan mampu membantu orang lain.
“Itulah kemenangan sejati. Bukan sekadar keluar dari kepesertaan, tetapi keluar dengan kepala tegak, penuh harga diri, dan menjadi inspirasi bagi yang lain”.
Ramadan kali ini diharapkan tak hanya meninggalkan jejak ibadah, tetapi juga tekad besar untuk bangkit dari keterbatasan, memutus rantai kemiskinan, dan melangkah menuju masa depan yang lebih cerah.
Sebab pada akhirnya, setiap air mata perjuangan akan diganti dengan kebahagiaan, setiap kesabaran akan berbuah keberkahan, dan setiap keluarga pejuang berhak atas masa depan yang lebih baik.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Momentum Ramadan, Pendamping PKH Gowa Ajak KPM Bangkit Menuju Sejahtera
KAMIS, 26 FEBRUARI 2026
Gowa, DNID.co.id – Bulan suci Ramadan kembali hadir, membawa suasana yang tak hanya sarat ibadah, tetapi juga penuh perenungan dan harapan baru. Di tengah keberkahan bulan ini, semangat perubahan digaungkan kepada para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH), program bantuan sosial dari Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Pendamping SDM PKH, Muhammad Fadhil, mengajak para KPM menjadikan Ramadan sebagai momentum kebangkitan menuju kemandirian ekonomi dan kehidupan yang lebih bermartabat.
"Ramadan melatih kita menahan lapar dan dahaga. Tapi sejatinya, Ramadhan sedang melatih kita menjadi pribadi yang kuat dalam keterbatasan dan teguh dalam perjuangan," ungkap Muhammad Fadhil.
Menurutnya, Ramadan adalah madrasah kehidupan. Di bulan ini, setiap pribadi ditempa untuk lebih sabar, lebih disiplin, dan lebih mampu mengendalikan diri—nilai-nilai yang juga sangat penting dalam perjuangan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri".(QS. Ar-Ra’d: 11)
Bagi Fadhil, ayat tersebut menjadi pesan kuat bahwa bantuan sosial bukanlah tujuan akhir. PKH, katanya, adalah jembatan menuju perubahan yang lebih besar.
"Allah sudah menegaskan bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri. PKH adalah stimulus, tetapi tekad dan kerja keraslah yang akan membawa keluarga keluar dari garis kemiskinan dengan terhormat," tegasnya.
Dalam suasana Ramadan yang hening dan penuh doa, ia juga mengingatkan sabda Rasulullah SAW :
"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah".(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis itu, menurutnya, bukan sekadar ajakan untuk memberi, melainkan cita-cita mulia yang layak diperjuangkan setiap keluarga penerima manfaat. Harapannya, suatu hari nanti keluarga yang hari ini menerima bantuan dapat tumbuh menjadi keluarga yang mampu memberi manfaat bagi sesama.
Fadhil memahami betul bahwa di balik setiap data KPM terdapat kisah perjuangan yang nyata. Ada ibu yang bangun sebelum subuh menyiapkan sahur dengan bahan sederhana, ayah yang tetap bekerja keras meski penghasilan tak menentu, serta anak-anak yang menyimpan mimpi besar di tengah keterbatasan.
"Jangan pernah merasa rendah diri karena kondisi hari ini. Kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh hartanya, tetapi oleh kesungguhannya dalam berikhtiar dan bertawakal," tuturnya penuh haru.
Ia juga menekankan bahwa Ramadhan mengajarkan pengelolaan diri, termasuk dalam mengatur keuangan keluarga. Menahan keinginan, mendahulukan kebutuhan, menabung walau sedikit, hingga mulai merintis usaha kecil dari rumah merupakan langkah nyata menuju kemandirian.
Fadhil kembali menguatkan dengan mengutip firman Allah dalam Surah Al-Insyirah ayat 5–6:
"Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan".
"Ayat ini bukan sekadar penghibur. Ini adalah janji Allah. Dan janji Allah itu pasti. Selama kita mau berusaha dan tidak menyerah, kemudahan itu sedang Allah siapkan," ujarnya.
Ia berharap, beberapa tahun ke depan akan lahir kisah-kisah inspiratif dari para KPM PKH—keluarga yang dulunya menerima bantuan, kini telah mandiri, memiliki usaha, anak-anaknya menyelesaikan pendidikan dengan baik, bahkan mampu membantu orang lain.
"Itulah kemenangan sejati. Bukan sekadar keluar dari kepesertaan, tetapi keluar dengan kepala tegak, penuh harga diri, dan menjadi inspirasi bagi yang lain".
Ramadan kali ini diharapkan tak hanya meninggalkan jejak ibadah, tetapi juga tekad besar untuk bangkit dari keterbatasan, memutus rantai kemiskinan, dan melangkah menuju masa depan yang lebih cerah.
Sebab pada akhirnya, setiap air mata perjuangan akan diganti dengan kebahagiaan, setiap kesabaran akan berbuah keberkahan, dan setiap keluarga pejuang berhak atas masa depan yang lebih baik.