Tangis Istri dan Anak Korban Warnai Sidang Pembunuhan Sopir Angkot di Bulukumba
Gambar ilustrasi (AI) ibu dan anak menangis.
Bulukumba, DNID.co.id – Marlina, istri almarhum Sarman tak kuasa menahan tangis saat hadir menjadi saksi di sidang kasus pembunuhan suaminya, sopir angkot yang tewas dianiaya pada 22 September 2025.
Didampingi sanak keluarga, Marlina datang ke ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan pada Kamis (26/2/2026). Marlina menjadi saksi dalam sidang dengan terdakwa Sukmawati.
Pada sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan delapan orang saksi yaitu, Marlina, Aprilia Nafiza anak korban, Rudi, Harian Azwar Anas, Nasir, Bulan, dan Rahmat.
Dalam keterangannya, Marlina menceritakan bahwa pada hari kejadian, yaitu Minggu (21/9/2025), Sarman bersama Marlina dan anaknya Aprilia Nafiza sedang berada di rumah kerabatnya yang akan melangsungkan pesta pernikahan di Dusun Butalolo, Desa Bonto Matene, Kecamatan Rilau Ale, Bulukumba.
Saat itu, menurut Marlina, Sarman berpamitan sembari mengajak Marlina untuk pulang, namun Marlina menolak karena ingin menginap di rumah tersebut.
Sarman dan Aprilia Nafiza pun meninggalkan lokasi menggunakan dua sepeda motor
“Sekitar pukul 21.30 Wita, almarhum pulang ke rumah bersama anak kami, Aprilia Nafiza,” kata Marlina.
Marlina mengatakan selama berada di pesta tersebut Sarman tidak pernah berselisih paham dengan seseorang. Bahkan, Sarman sempat makan sebelum pulang ke rumah.
“Selama di tempat pesta almarhum tidak pernah berselisih paham dengan siapapun orang, tidak,” jelas Marlina.
Sementara itu, anak korban, Aprilia Nafiza mengungkapkan bahwa Sarman saat itu langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat setibanya di rumah.
“Langsung ji tidur,” ungkapnya.
Aprilia mengaku bahwa dirinya saat itu tidak bermalam di rumah karena Sarman menyuruhnya pergi menginap ke rumah sepupunya.
“Saya duluan keluar dari rumah,” bebernya.
Tangis ibu-anak itu pecah saat menceritakan momen pertama kali mereka mendapatkan kabar bahwa Sarman telah meninggal dunia.
Dia mengaku tak menyangka jika sang ayah akan meregang nyawa secara sadis.
“Sepupu secara langsung datang ke rumah,” pintanya.
Tak hanya itu, ketika JPU menunjukkan gambar pakaian yang digunakan korban terakhir kalinya, keduanya pun tak kuasa menahan tangis.
“Benar pak, itu baju yang digunakan almarhum sebelum kejadian,” tegasnya sambil menagis.
Diketahui, Sarman yang berprofesi sebagai sopir angkot ditemukan meregang nyawa usai mengalami kekerasan fisik pada tubuhnya di Desa Bonto Matene, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan pada Senin (22/9/2025).
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Tangis Istri dan Anak Korban Warnai Sidang Pembunuhan Sopir Angkot di Bulukumba
SABTU, 28 FEBRUARI 2026
Bulukumba, DNID.co.id - Marlina, istri almarhum Sarman tak kuasa menahan tangis saat hadir menjadi saksi di sidang kasus pembunuhan suaminya, sopir angkot yang tewas dianiaya pada 22 September 2025.
Didampingi sanak keluarga, Marlina datang ke ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan pada Kamis (26/2/2026). Marlina menjadi saksi dalam sidang dengan terdakwa Sukmawati.
Pada sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan delapan orang saksi yaitu, Marlina, Aprilia Nafiza anak korban, Rudi, Harian Azwar Anas, Nasir, Bulan, dan Rahmat.
Dalam keterangannya, Marlina menceritakan bahwa pada hari kejadian, yaitu Minggu (21/9/2025), Sarman bersama Marlina dan anaknya Aprilia Nafiza sedang berada di rumah kerabatnya yang akan melangsungkan pesta pernikahan di Dusun Butalolo, Desa Bonto Matene, Kecamatan Rilau Ale, Bulukumba.
Saat itu, menurut Marlina, Sarman berpamitan sembari mengajak Marlina untuk pulang, namun Marlina menolak karena ingin menginap di rumah tersebut.
Sarman dan Aprilia Nafiza pun meninggalkan lokasi menggunakan dua sepeda motor
"Sekitar pukul 21.30 Wita, almarhum pulang ke rumah bersama anak kami, Aprilia Nafiza," kata Marlina.
Marlina mengatakan selama berada di pesta tersebut Sarman tidak pernah berselisih paham dengan seseorang. Bahkan, Sarman sempat makan sebelum pulang ke rumah.
"Selama di tempat pesta almarhum tidak pernah berselisih paham dengan siapapun orang, tidak," jelas Marlina.
Sementara itu, anak korban, Aprilia Nafiza mengungkapkan bahwa Sarman saat itu langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat setibanya di rumah.
"Langsung ji tidur," ungkapnya.
Aprilia mengaku bahwa dirinya saat itu tidak bermalam di rumah karena Sarman menyuruhnya pergi menginap ke rumah sepupunya.
"Saya duluan keluar dari rumah," bebernya.
Tangis ibu-anak itu pecah saat menceritakan momen pertama kali mereka mendapatkan kabar bahwa Sarman telah meninggal dunia.
Dia mengaku tak menyangka jika sang ayah akan meregang nyawa secara sadis.
"Sepupu secara langsung datang ke rumah," pintanya.
Tak hanya itu, ketika JPU menunjukkan gambar pakaian yang digunakan korban terakhir kalinya, keduanya pun tak kuasa menahan tangis.
"Benar pak, itu baju yang digunakan almarhum sebelum kejadian," tegasnya sambil menagis.
Diketahui, Sarman yang berprofesi sebagai sopir angkot ditemukan meregang nyawa usai mengalami kekerasan fisik pada tubuhnya di Desa Bonto Matene, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan pada Senin (22/9/2025).