Breaking News

Radio Player

Loading...

Risma, Terbaring Sakit Selama 10 Bulan, Keluarga Harap Bantuan Pemerintah dan Dermawan

Rabu, 11 Juni 2025

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Oplus_16908288

Oplus_16908288

Tanggamus DNID MEDIALAMPUNG — Sudah sepuluh bulan lamanya Risma (10), siswi kelas 4 SD Al-Khairiyah di Pekon Sinar Banten, Kecamatan Talangpadang, hanya bisa terbaring lemah di rumah. Kondisi kesehatan Risma memburuk secara perlahan sejak mengalami kecelakaan di kamar mandi saat hendak mengambil wudu untuk menunaikan salat.

 

Sejak insiden tersebut, tubuh kecil Risma kian hari makin melemah. Hingga saat ini, ia belum pernah mendapatkan perawatan medis yang memadai karena keterbatasan biaya dan administrasi. Kartu BPJS Kesehatan milik keluarga telah lama tidak aktif, membuat akses terhadap layanan kesehatan formal menjadi tertutup.

ads

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kedua orang tua Risma, Sape’i dan Mariam, menyampaikan harapan mereka agar putri mereka bisa segera memperoleh penanganan medis. “Kami benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Kami hanya bisa berharap kepada pemerintah, terutama Bapak Bupati Tanggamus, H. Moh. Saleh Asnawi, agar dapat membantu anak kami berobat,” ujar Mariam dengan suara lirih, menahan tangis.

 

 

Mendengar kondisi tersebut, Kepala Pekon Sinar Banten, M. Amin Djasuta—yang akrab disapa Gus Amin—langsung mendatangi rumah keluarga Risma. Dalam kunjungan tersebut, Gus Amin menyampaikan komitmennya untuk membantu proses administrasi kesehatan yang diperlukan.

 

“Saya sudah melihat langsung kondisi ananda Risma. Pemerintah pekon akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu, terutama dalam pengaktifan kembali BPJS-nya. Ini adalah wujud kepedulian kami terhadap seluruh warga,” tegasnya.

 

Gus Amin juga menyerukan agar dinas terkait, seperti Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, segera turun tangan. Ia menegaskan bahwa kondisi kesehatan Risma yang telah memburuk selama hampir satu tahun memerlukan penanganan cepat dan tepat dari tenaga medis profesional.

 

Menurut penuturan keluarga, Risma semula hanya mengeluhkan rasa lelah dan nyeri ringan setelah terjatuh. Namun, keluhan tersebut berkembang menjadi kondisi tubuh yang semakin lemah dari hari ke hari. Kini, ia nyaris tidak mampu bergerak secara mandiri dan mengandalkan bantuan penuh dari orang tuanya.

 

Hingga kini, belum ada diagnosis medis pasti terkait penyakit yang diderita Risma karena belum adanya pemeriksaan menyeluruh dari tenaga medis. Hal ini memperbesar kekhawatiran keluarga, mengingat kondisi anak mereka yang terus menurun.

 

 

Di tengah keterbatasan ekonomi, keluarga Risma menggantungkan harapan besar pada uluran tangan pemerintah dan masyarakat. Mereka percaya bahwa dengan kepedulian bersama, Risma masih memiliki peluang untuk mendapatkan perawatan dan kembali pulih seperti sedia kala.

 

“Kami hanya ingin anak kami bisa ditangani oleh dokter. Kami mohon bantuan dari siapa saja yang terketuk hatinya,” ujar Sape’i dengan penuh harap.

 

Warga sekitar juga menunjukkan solidaritas dengan memberikan dukungan moral dan kebutuhan sehari-hari sebisanya. Namun, untuk mendapatkan akses rumah sakit dan pengobatan intensif, bantuan lebih besar masih sangat diperlukan.

 

Bagi pihak-pihak yang ingin membantu, baik melalui dukungan administratif, biaya pengobatan, maupun bentuk solidaritas lainnya, dapat menghubungi langsung Pemerintah Pekon Sinar Banten atau pihak keluarga.

 

Kesehatan adalah hak setiap warga negara. Sudah selayaknya semua pihak bergandengan tangan untuk memastikan anak-anak seperti Risma mendapatkan haknya untuk hidup sehat dan bahagia. (MT)

Simpan Gambar:

Penulis : MT

Editor : RA

Sumber Berita : Tim

Berita Terkait

Energi Stabil untuk Ekonomi Rendah Karbon
Transformasi Strategis Sektor Energi Nuklir dalam Era Artificial Intelligence
Sinergi Nuklir dan EBT: Menambal Celah Intermitensi demi Kedaulatan Energi
PLTN Untuk Generasi Muda: Peluang Karier Baru yang Jarang Dibahas
Asia Tenggara Masuki Era Nuklir Jangan Sampai Indonesia Hanya Jadi Penonton
Apa yang Akan Kita Wariskan? Asap, atau Cahaya?
Pemekaran Provinsi Luwu Raya: Antara Janji Sejarah dan Legitimasi Elit Politik Sulawesi Selatan
Relevansi Energi Nuklir bagi Konservasi Alam
Berita ini 70 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Januari 2026 - 13:29 WITA

Energi Stabil untuk Ekonomi Rendah Karbon

Selasa, 20 Januari 2026 - 13:25 WITA

Transformasi Strategis Sektor Energi Nuklir dalam Era Artificial Intelligence

Rabu, 14 Januari 2026 - 18:22 WITA

Sinergi Nuklir dan EBT: Menambal Celah Intermitensi demi Kedaulatan Energi

Rabu, 14 Januari 2026 - 18:15 WITA

PLTN Untuk Generasi Muda: Peluang Karier Baru yang Jarang Dibahas

Rabu, 7 Januari 2026 - 17:00 WITA

Asia Tenggara Masuki Era Nuklir Jangan Sampai Indonesia Hanya Jadi Penonton

Rabu, 7 Januari 2026 - 15:31 WITA

Apa yang Akan Kita Wariskan? Asap, atau Cahaya?

Senin, 5 Januari 2026 - 22:18 WITA

Pemekaran Provinsi Luwu Raya: Antara Janji Sejarah dan Legitimasi Elit Politik Sulawesi Selatan

Senin, 5 Januari 2026 - 16:36 WITA

Relevansi Energi Nuklir bagi Konservasi Alam

Berita Terbaru

Serba-Serbi

Presiden Prabowo Siap Hadir di HPN 2026

Sabtu, 24 Jan 2026 - 16:05 WITA