Kebutuhan Listrik Industri Data Center Terus Melonjak, Energi Nuklir Mulai Dilirik

Penulis : Sri Rezeki, S.Kom

Industri data center yang menjadi tulang punggung ekonomi digital kini dilirik sebagai salah satu alasan mengapa energi nuklir kembali mendapatkan perhatian serius dari sektor swasta. Operator global Equinix baru-baru ini mendanai sebuah studi tentang teknologi energi nuklir di Singapura, termasuk potensi floating nuclear plants dan small modular reactors (SMR), untuk mengeksplorasi cara memenuhi kebutuhan listrik yang semakin besar dengan emisi rendah, dilansir dari The Business Times.

Studi yang didukung Equinix itu dilakukan oleh Centre for Strategic Energy and Resources (CSER), yang akan menilai tidak hanya kelayakan penerapan teknologi nuklir canggih, tetapi juga implikasi industrinya terhadap keamanan energi dan daya saing industri digital. “Data center termasuk di antara sektor-sektor yang paling intensif energi dan bernilai tinggi,” kata CSER, menegaskan bahwa permintaan listrik yang terus meningkat dari sektor ini merupakan tantangan signifikan bagi kebijakan energi masa depan.

Menurut Equinix, akses ke energi yang andal dan rendah karbon kini menjadi faktor penting dalam membangun ketahanan digital jangka panjang. Permintaan untuk kapasitas data center terus bertambah seiring dengan pertumbuhan layanan cloud, kecerdasan buatan, serta aplikasi digital yang tidak mengenal jam operasi. Dengan demikian, kebutuhan listrik 24 jam 24/7 menjadi kunci bagi operasional spesifik industri ini.

Studi ini juga melihat potensi teknologi floating nuclear plants, yang bisa ditempatkan di perairan lepas untuk menyediakan listrik tanpa mengambil lahan darat yang terbatas, serta SMR yang cocok untuk wilayah kota padat atau negara kecil seperti Singapura. Pendekatan ini dianggap sesuai dengan karakteristik Singapura yang land-scarce tapi sangat bergantung pada infrastruktur digital.

Tren pendanaan dari sektor digital terhadap riset energi nuklir seperti ini mencerminkan tren global yang lebih luas. Laporan energi internasional juga menunjukkan bahwa kebutuhan listrik global diperkirakan tumbuh pesat dalam dekade mendatang, terutama dari industri yang energy intensive seperti data center, dan nuklir dipandang sebagai sumber listrik rendah emisi yang dapat menyediakan base load stabil.

Hal ini memberi konteks penting bagi Indonesia. Ketika negara-negara seperti Singapura mulai mengeksplorasi peran nuklir dalam mendukung infrastruktur digital mereka, Indonesia yang juga sedang menggulung strategi ketahanan energi terutama untuk mendukung ekonomi digital, bisa melihat peluang serupa. Permintaan listrik untuk data centre di Indonesia diproyeksikan meningkat seiring ekonomi digital, cloud adoption, dan investasi teknologi yang berkembang.

Di Indonesia sendiri, pendekatan yang tengah dijajaki adalah teknologi reaktor baru melalui PT Thorcon, yang mengusulkan pembangunan PLTN di Pulau Kelasa, Bangka Belitung dengan teknologi molten salt reactor. Model modular dan aman ini dinilai dapat menyediakan sumber energi rendah karbon yang andal untuk industri intensif energi, termasuk data center, bila direalisasikan secara bertahap dan dikombinasikan dengan pilihan energi terbarukan lain.

Keterlibatan sektor swasta dalam mengevaluasi potensi nuklir bagi kebutuhan seperti data center mempertegas bahwa pembicaraan tentang energi nuklir bukan hanya tentang listrik rumah tangga atau industri berat, tetapi juga tentang infrastruktur digital yang menjadi jantung ekonomi modern.

Simpan sebagai Kenangan

Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.

Simpan Gambar:

Sabtu, 24 Januari 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Menghubungkan ke server...
Simpan Gambar:

Berita Terkait

Menambang Emas Mendulang Bencana: SOS Sungai Suso Luwu
Puluhan Anggota DPRD Jeneponto Diduga Menginap Fiktif, Lebih Bayar Perjalanan Dinas Rp221 Juta
RUU Perampasan Aset dan Janji 15 Desember: Saat DPR Mempertaruhkan Marwahnya
Tin Slag Akan “Kabur” Saat 17 Agustus? Semoga Bukan Sekadar Ngerameng
Satgas Tricakti vs Polisi di Belitung: Ketika Negara Beradu Otoritas di Atas 52,5 Ton Pasir Timah
Beranikah Seluruh Penegak Hukum Periksa Harta Semua Pejabat? Uji Nyata Komitmen Pemberantasan Korupsi
Hukum Progresif: Ketika Terlalu Sibuk Mengutip Pasal, Tujuan Hukum Justru Terlupakan
ERA ON CALL SUDAH BERAKHIR? Pelayanan Gawat Darurat Modern Menuntut Kehadiran Dokter Spesialis di Rumah Sakit 
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 05:26 WITA

Menambang Emas Mendulang Bencana: SOS Sungai Suso Luwu

Minggu, 13 September 2026 - 10:46 WITA

Puluhan Anggota DPRD Jeneponto Diduga Menginap Fiktif, Lebih Bayar Perjalanan Dinas Rp221 Juta

Jumat, 28 Agustus 2026 - 13:14 WITA

RUU Perampasan Aset dan Janji 15 Desember: Saat DPR Mempertaruhkan Marwahnya

Minggu, 16 Agustus 2026 - 22:10 WITA

Tin Slag Akan “Kabur” Saat 17 Agustus? Semoga Bukan Sekadar Ngerameng

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:38 WITA

Satgas Tricakti vs Polisi di Belitung: Ketika Negara Beradu Otoritas di Atas 52,5 Ton Pasir Timah

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:03 WITA

Beranikah Seluruh Penegak Hukum Periksa Harta Semua Pejabat? Uji Nyata Komitmen Pemberantasan Korupsi

Senin, 15 Juni 2026 - 09:35 WITA

Hukum Progresif: Ketika Terlalu Sibuk Mengutip Pasal, Tujuan Hukum Justru Terlupakan

Rabu, 10 Juni 2026 - 14:19 WITA

ERA ON CALL SUDAH BERAKHIR? Pelayanan Gawat Darurat Modern Menuntut Kehadiran Dokter Spesialis di Rumah Sakit 

Berita Terbaru

Kriminal Hukum

Bongkar Judi Togel Online, Tim URC Resmob Polres Soppeng Amankan Dua Pria

Senin, 21 Sep 2026 - 19:24 WITA

Serba-Serbi

Wakil Bupati Gowa Buka Lomba Paskibra Tingkat SMP dan SMA se-Sulsel

Senin, 21 Sep 2026 - 15:15 WITA