PLTN di Bangka Belitung: Di Antara Krisis Energi, Klaim Keselamatan, dan Keraguan Publik

Pangkalpinang ,Dnid.Co.Id — Wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kembali mencuat. Namun di balik narasi transisi energi bersih dan target Indonesia Emas 2045, tersimpan pertanyaan mendasar: *sejauh mana kesiapan negara dan seberapa besar ruang masyarakat dilibatkan dalam keputusan strategis ini?* Sabtu (7/2/2026).

Pertanyaan itu mengemuka dalam Diskusi Publik bertajuk *“Memahami Rencana PLTN di Bangka Belitung: Diskusi dan Fakta”* yang digelar Kantor Berita Online Bangka Belitung (KBO Babel) dan Forum Unit Kinerja Sarjana Bangka Belitung (Fokus Babel), Sabtu (7/2/2026), di Pangkalpinang.

Forum ini menghadirkan pemerintah, akademisi, pelaku industri, tokoh masyarakat, media, hingga masyarakat umum—sekaligus membuka tabir bahwa PLTN di Bangka Belitung *masih berada pada tahap kajian, bukan pembangunan*.

*Energi Terdesak, PLTN Didorong*

Pakar energi nuklir, anggota Dewan Energi Nasional periode 2021-2025

Chairman Global Institute for Nuclear Energy and Sustainable Development, PLN Institute of Technology,

*Dr. Ir. Agus Puji Prasetyo* memaparkan realitas krisis energi nasional.

Konsumsi energi per kapita Indonesia masih tertinggal, sektor industri belum tumbuh optimal, dan rasio elektrifikasi belum sepenuhnya menjangkau masyarakat di wilayah terpencil.

Di sisi lain, pertumbuhan pembangkit listrik nasional hanya berkisar 3–3,5 GW per tahun.

“Untuk mengejar kebutuhan nasional dan target dekarbonisasi, pertumbuhan pembangkit harus melonjak hingga 6–7 GW per tahun,” ujarnya.

Perubahan arah kebijakan melalui *PP Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional* menjadi landasan kuat bagi nuklir.

Jika sebelumnya nuklir ditempatkan sebagai opsi terakhir, kini ia diposisikan sebagai penyeimbang dalam bauran energi bersih.

Klaimnya, PLTN juga berpotensi membuka ribuan lapangan kerja, dengan estimasi kebutuhan hingga 6.850 tenaga kerja.

Namun, di balik urgensi tersebut, pertanyaan publik belum sepenuhnya terjawab: *apakah kejar target energi boleh mengabaikan keraguan masyarakat?*

*Lingkungan dan Kesiapan Nasional Dipertanyakan*

Isu kesiapan nasional menjadi sorotan *Dr. Ahmad Nahwani*. Dari 19 aspek kesiapan pembangunan PLTN, tiga aspek dinilai belum siap, yakni posisi nasional, manajemen, dan keterlibatan pemangku kepentingan.

Yang paling krusial adalah keterlibatan publik. Menurutnya, aspek ini bersifat dinamis karena dipengaruhi oleh persepsi, trauma historis, dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap proyek berisiko tinggi.

“Tanpa komunikasi yang transparan dan berkelanjutan, resistensi sosial akan menjadi penghambat utama,” tegasnya.

Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa problem PLTN bukan sekadar teknis atau lingkungan, melainkan *soal legitimasi sosial*.

*Teknologi Canggih, Tapi Masih Uji Coba*

Dari sisi industri, *Andri Yanto* menjelaskan bahwa teknologi yang diperkenalkan—reaktor modular berbasis garam cair atau thorium—diklaim lebih aman dibandingkan PLTN konvensional.

Reaktor berkapasitas total 500 MW ini dirancang dengan sistem keselamatan pasif yang dapat menstabilkan reaktor secara otomatis tanpa campur tangan operator.

Namun, pengembangan teknologi ini masih berada pada tahap pelisensian dan penelitian melalui pembangunan *demonstration plant*. Bahkan, lokasi uji coba direkomendasikan berada di pulau tidak berpenghuni dan jauh dari pemukiman.

Fakta ini penting dicatat: *yang dibicarakan hari ini bukan pembangunan PLTN komersial*, melainkan uji teknologi. Tetapi pengalaman masa lalu menunjukkan, proyek “uji coba” kerap menjadi pintu masuk menuju keputusan besar yang minim partisipasi publik.

*Bangka Belitung: Aman Gempa, Aman Sosial?*

Nama Bangka Belitung mencuat sebagai wilayah kajian karena dinilai relatif aman dari ancaman gempa bumi—syarat mutlak bagi fasilitas nuklir.

Namun, *aman secara geologis belum tentu aman secara sosial*.

Aktivis sosial kemasyarakatan Bangka Belitung, *Ir. M. Natsir* mengingatkan bahwa pembangunan PLTN tidak bisa dilepaskan dari persoalan sosial yang kompleks: kemiskinan, pengangguran, ketimpangan akses pendidikan, hingga kekhawatiran kesehatan jangka panjang seperti paparan radiasi dan risiko kanker.

Ia menegaskan, pelibatan masyarakat tidak boleh berhenti pada sosialisasi satu arah.

“Publik harus dilibatkan sejak awal, terutama di wilayah calon lokasi,” katanya.

*Di Persimpangan Kebijakan dan Kepercayaan

Diskusi ini menyimpulkan satu hal krusial: *PLTN adalah opsi strategis jangka panjang, tetapi belum menjadi keputusan final*. Kebutuhan energi nasional memang mendesak, ketergantungan pada fosil harus dikurangi, dan teknologi terus berkembang. Namun, kepercayaan publik adalah variabel yang tak bisa diabaikan.

Bangka Belitung hari ini berada di persimpangan. Di satu sisi, ada janji energi bersih, investasi, dan lapangan kerja.

Di sisi lain, ada trauma Fukushima, stigma nuklir, kekhawatiran limbah, hingga ancaman keamanan dan terorisme terhadap fasilitas vital.

Tanpa keterbukaan, akuntabilitas, dan pelibatan publik yang nyata, PLTN berpotensi menjadi proyek elitis yang jauh dari aspirasi masyarakat.

Diskusi publik ini menjadi pengingat: *energi masa depan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh sejauh mana negara mau mendengar rakyatnya.

Simpan sebagai Kenangan

Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.

Simpan Gambar:

Minggu, 8 Februari 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Penulis: ALE

Editor: REDAKSI DNID BABEL

Sumber Berita: KBO BABEL

Menghubungkan ke server...
Simpan Gambar:

Berita Terkait

Jumat Berkah Rumpi Cafe: Sinergi TNI-Polri, Jurnalis dan Pemuda Jaga Makassar Tetap Aman
Hijaukan Wilayah Gowa, TMMD ke-130 Kodim 1409/Gowa Tanam 500 Pohon di Kalaserena
Sinergi Tanpa Batas! Rumpi Cafe Gandeng TNI/Polri dan Jurnalis serta pemuda masyarakat Jaga Makassar Tetap Aman Sekaligus Gelar Jumat Berkah
Resmikan Sekretariat “Rumah Besar”, IMO-Indonesia Uji Coba Aplikasi AdS Media Online
Andi Waris Halid: Mengenal Lembaga MPR bukan Hanya Mengenai Sebuah Lembaga Negara.
Hidupkan Green Policing, IPDA Agus Fardiansyah Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Green Policing, Kapolres Bangka Barat Ajak Personel Jaga Kebersihan Potensi Wisata Air Terjun Pait
KBPBI Terima Salinan Undang-Undang Perlindungan Ketenagakerjaan ! Apresiasi Presiden Prabowo
Berita ini 38 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 01:43 WITA

Jumat Berkah Rumpi Cafe: Sinergi TNI-Polri, Jurnalis dan Pemuda Jaga Makassar Tetap Aman

Jumat, 6 November 2026 - 22:11 WITA

Hijaukan Wilayah Gowa, TMMD ke-130 Kodim 1409/Gowa Tanam 500 Pohon di Kalaserena

Jumat, 6 November 2026 - 22:02 WITA

Sinergi Tanpa Batas! Rumpi Cafe Gandeng TNI/Polri dan Jurnalis serta pemuda masyarakat Jaga Makassar Tetap Aman Sekaligus Gelar Jumat Berkah

Jumat, 6 November 2026 - 20:52 WITA

Andi Waris Halid: Mengenal Lembaga MPR bukan Hanya Mengenai Sebuah Lembaga Negara.

Jumat, 6 November 2026 - 13:18 WITA

Hidupkan Green Policing, IPDA Agus Fardiansyah Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan

Jumat, 6 November 2026 - 13:06 WITA

Green Policing, Kapolres Bangka Barat Ajak Personel Jaga Kebersihan Potensi Wisata Air Terjun Pait

Jumat, 6 November 2026 - 13:01 WITA

KBPBI Terima Salinan Undang-Undang Perlindungan Ketenagakerjaan ! Apresiasi Presiden Prabowo

Jumat, 6 November 2026 - 12:58 WITA

Green Policing, Polresta Pangkalpinang Ajak Personel Peduli Lingkungan demi Masa Depan yang Lebih Hijau

Berita Terbaru