Blue Ray Cargo Kolaps ,Kasus Suap Buka Luka PHK Massal dan Anak Kehilangan Biaya Sekolah

Jakarta,DNID.co.id – Ruang sidang Tipikor Jakarta Pusat Jumat 12/6/2026 dipenuhi isak yang tak terdengar. Di balik bongkar-pasang fakta suap Bea Cukai, ada luka yang lebih dalam ribuan karyawan Blue Ray Cargo kehilangan pekerjaan . Perkara No. 19/Pid.Sus-TPK/2026/PN /Jkt.Pst dengan Hakim Brelly Yuniar Dien dan JPU M. Takdir ini bukan sekadar soal uang, tapi soal hidup orang banyak yang runtuh.

Perusahaan Terjepit Kekuasaan Pejabat Bea Cukai

Kesaksian Andri Sukmolo , Ketua Tim Dokumen Blue Ray Cargo, membuka tabir praktik amplop bantuan . Ia mengaku pernah mengantarkan amplop berisi uang dolar Singapura/SGD kepada pejabat BPOM bernama Tubagus. Uang sudah disiapkan Andrea, Andri tinggal ambil, dan paraf, lalu bertemu di kafe sesuai arahan penerima.

“Yang sebelumnya saya tidak tahu, Pak. Saya hanya melakukan pada saat saya disuruh,” ucap Andri.

Andri juga membenarkan menerima data PIB dari pegawai Bea Cukai bernama Vilar via email. Data komoditi dan nominal itu dipakai perusahaan untuk memetakan biaya impor di tengah tingginya jalur merah.

Di persidangan terungkap, Blue Ray Cargo dicekik jalur merah 95% , jauh di atas batas normal 70%. Kontainer menumpuk 9.000 unit di Priok , dwelling time jebol, planggan lari sementara itu Manajer Operasional ” Dedy Kurniawan menyebut perusahaan stres di semua divisi.

John Field, pimpinan perusahaan, di hadapan hakim mengakui jadi inisiator pemberian uang ke Orlando sebagai perantara Bea Cukai.

“Tahu, Yang Mulia,” jawab John saat ditanya risiko hukum. “Karena terpaksa, Yang Mulia.”

“Karena saya perintah, Yang Mulia… “saya perintah Andri dan Dedy untuk membantu saya.”

Pukulan paling menyakitkan muncul di closing statement pengacara. Mereka menyebut Blue Ray Cargo punya 1.300 pekerja, kini tersisa kurang dari 200

” Di balik angka-angka tersebut, terdapat ribuan keluarga yang kehilangan sumber penghidupan, terdapat anak-anak yang kehilangan biaya pendidikan, terdapat orang tua yang kehilangan sumber nafkah, terdapat keluarga yang kehilangan harapan akan masa depannya,” ujar tim pembela.

Pengacara menegaskan perusahaan mengalami targeting , tidak proporsional dibanding pelaku usaha sejenis. Karyawan seperti Andri dan Dedy disebut hanya menerima gaji, tidak dapat bagian uang suap, tapi merekalah yang pertama kehilangan nafkah.

Majlis Hakim menyampaikan pesan moral bahwa kekuasaan tanpa akal sehat, korbannya adalah rakyat kecil .

Sidang ini menyisakan pesan yang menampar. Ketika sistem dan kekuasaan pejabat membuat perusahaan impor terjepit, “jalan pintas” jadi pilihan yang terasa terpaksa. Tapi konsekuensinya tidak berhenti di ruang sidang. Satu keputusan pimpinan untuk memberi pelumas akhirnya menghancurkan mata pencaharian ribuan orang. Karyawan yang hanya menjalankan perintah kini menyesal.

“Menyesal, Yang Mulia, dan tidak akan mengulanginya lagi,” kata Andri.

“Sangat menyesal,” jawab John Field.

Majlis Hakim menutup dengan nasihat yang menggantung: “Baik Terdakwa John Field, Terdakwa Dedy, maupun Terdakwa Andri, renungkan baik-baik.” Tutup Majlis .

Kasus ini mengingatkan , tidak ada suap yang korbannya hanya pelaku . Saat perusahaan terjebak antara aturan yang mencekik dan kekuasaan yang meminta, yang paling dulu tumbang adalah buruh, anak, dan keluarga yang tak pernah duduk di meja keputusan.

Putusan hakim akan segera dibacakan. Tapi tangis PHK 1.100 plus keluarga sudah terlanjur jadi bagian dari berkas perkara ini.

Simpan sebagai Kenangan

Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.

Simpan Gambar:

Sabtu, 13 Juni 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Menghubungkan ke server...
Simpan Gambar:

Berita Terkait

Polres Bangka Barat Hentikan Tambang di DAS Kampak, Penambang Diminta Tunggu Legalitas
Diduga Kebal Hukum! Aktivitas AW alias BES Pengumpul Solar Subsidi Masih Lancar, Polres Bone Dinilai Tutup Mata, Berlindung di A serta Dimodali Bombong Pemilik Tangki PT. Katana Wajo
Resmob Polres Sinjai Ringkus Pelaku Pencurian Emas Rp80 Juta
Korban Desak Kapolda Sulsel Tahan Kades di Bulukumba, Sudah Tersangka 3 Tahun lalu
Aktivis Berkedok Wartawan Diamankan Polisi, ini Kasusnya
Keributan Pecah di Borong Jambu, Pemuda Bawa Busur Diamankan Polisi
Dana BKK Rp800 Juta Pengerukan Sungai Bone Disorot, LMR-RI Siap Lapor Inspektorat hingga APH
Penganiayaan Berujung Kematian, Polisi Ringkus Geng Motor di Biringkanaya
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:40 WITA

Polres Bangka Barat Hentikan Tambang di DAS Kampak, Penambang Diminta Tunggu Legalitas

Rabu, 7 Oktober 2026 - 07:30 WITA

Diduga Kebal Hukum! Aktivitas AW alias BES Pengumpul Solar Subsidi Masih Lancar, Polres Bone Dinilai Tutup Mata, Berlindung di A serta Dimodali Bombong Pemilik Tangki PT. Katana Wajo

Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:00 WITA

Resmob Polres Sinjai Ringkus Pelaku Pencurian Emas Rp80 Juta

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:35 WITA

Korban Desak Kapolda Sulsel Tahan Kades di Bulukumba, Sudah Tersangka 3 Tahun lalu

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:25 WITA

Aktivis Berkedok Wartawan Diamankan Polisi, ini Kasusnya

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:37 WITA

Keributan Pecah di Borong Jambu, Pemuda Bawa Busur Diamankan Polisi

Selasa, 6 Oktober 2026 - 09:47 WITA

Dana BKK Rp800 Juta Pengerukan Sungai Bone Disorot, LMR-RI Siap Lapor Inspektorat hingga APH

Senin, 5 Oktober 2026 - 18:00 WITA

Penganiayaan Berujung Kematian, Polisi Ringkus Geng Motor di Biringkanaya

Berita Terbaru