Skandal Solar Tokaseng Terbongkar, 90 Persen Jatah Rakyat Diduga Disedot Mafia
Solar subsidi di SPBU Tokaseng diduga dikuras lewat antrean jeriken, barcode, dan surat rekomendasi. Distribusinya disebut mengarah ke Siwa, Wajo; Satgas BBM Merah Putih dipertanyakan.
Bone, DNID.co.id – Jumat (9/10/2026). Di saat Nelayan Tellu Siattinge antre berjam-jam dan Petani menjerit kekurangan solar, sebuah dugaan skandal besar mencuat dari SPBU Tokaseng. Sekitar 90 persen pasokan solar bersubsidi yang seharusnya untuk rakyat kecil, diduga lenyap diserap jaringan mafia.
Informasi yang dihimpun yang dapat di pertanggungjawabkan DNID.co.id menyebutkan, aktor intelektualnya adalah seorang berinisial AT. Modusnya licik dan terstruktur: memanfaatkan celah barcode dan surat rekomendasi dari Dinas Pertanian dan Perikanan.
Surat yang seharusnya untuk membantu petani dan nelayan, diduga justru jadi senjata untuk menguras solar subsidi.
Pola yang dijalankan sangat rapi. Sejumlah pelangsir dengan mobil pickup dan motor yang sudah dimodifikasi, bergiliran masuk ke SPBU Tokaseng dari pagi hingga sore hari. Mereka mengisi jeriken, bukan tangki kendaraan.
Bahkan, solar juga diduga dikumpulkan dari kendaraan yang dikenal sebagai ‘pa’ sedot’ – mobil yang tangkinya sudah dimodifikasi untuk menyedot dalam jumlah besar.
Setelah terkumpul dalam jumlah ton, solar haram itu kemudian ditampung di satu lokasi rahasia sebelum diangkut keluar Bone.
“Para pelangsir itu bergiliran masuk ke SPBU dari pagi sampai sore. Tidak putus. Setelah dikumpulkan, solar diangkut pakai truk menuju Siwa, tempat bos besar AI. Biasanya truk berangkat sekitar pukul 15.00,” ungkap seorang sumber terpercaya yang mengetahui persis polanya, Senin (5/10/2026).
Rute yang ditempuh, Tokaseng, Bone – Siwa, Wajo. Solar subsidi untuk rakyat Bone, diduga dijual untuk keuntungan pribadi di kabupaten tetangga.
Skandal ini mencuat justru di saat Pemkab Bone baru saja membentuk Satgas Pengendalian BBM Bersubsidi Merah Putih pada Agustus 2026 lalu. Satgas ini dibentuk untuk mengawasi ketat 22 SPBU di Bone agar solar subsidi tepat sasaran.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, Mengapa praktik terang-terangan di SPBU Tokaseng ini bisa lolos dari radar Satgas, Apakah ada pembiaran? Ataukah jaringan ini terlalu kuat?
Hingga berita ini diturunkan, DNID.co.id masih terus menelusuri lokasi penampungan solar haram tersebut dan berupaya melakukan konfirmasi kepada manajemen SPBU Tokaseng, Dinas Pertanian dan Perikanan Bone, serta pihak berinisial AT dan AI yang namanya disebut dalam pusaran skandal ini.
Namun hingga berita ini dimuat, belum ada satupun yang memberikan keterangan resmi. Kasus ini jelas merugikan negara dan menyakiti rakyat kecil. DNID.co.id akan terus mengawal.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Skandal Solar Tokaseng Terbongkar, 90 Persen Jatah Rakyat Diduga Disedot Mafia
JUMAT, 9 OKTOBER 2026
Solar subsidi di SPBU Tokaseng diduga dikuras lewat antrean jeriken, barcode, dan surat rekomendasi. Distribusinya disebut mengarah ke Siwa, Wajo; Satgas BBM Merah Putih dipertanyakan.
Bone, DNID.co.id - Jumat (9/10/2026). Di saat nelayan Tellu Siattinge antre berjam-jam dan petani menjerit kekurangan solar, sebuah dugaan skandal besar mencuat dari SPBU Tokaseng. Sekitar 90 persen pasokan solar bersubsidi yang seharusnya untuk rakyat kecil, diduga lenyap diserap jaringan mafia.
Informasi yang dihimpun yang dapat di pertanggungjawabkan DNID.co.id menyebutkan, aktor intelektualnya adalah seorang berinisial AT. Modusnya licik dan terstruktur: memanfaatkan celah barcode dan surat rekomendasi dari Dinas Pertanian dan Perikanan.
Surat yang seharusnya untuk membantu petani dan nelayan, diduga justru jadi senjata untuk menguras solar subsidi.
Pola yang dijalankan sangat rapi. Sejumlah pelangsir dengan mobil pickup dan motor yang sudah dimodifikasi, bergiliran masuk ke SPBU Tokaseng dari pagi hingga sore hari. Mereka mengisi jeriken, bukan tangki kendaraan.
Bahkan, solar juga diduga dikumpulkan dari kendaraan yang dikenal sebagai 'pa' sedot' - mobil yang tangkinya sudah dimodifikasi untuk menyedot dalam jumlah besar.
Setelah terkumpul dalam jumlah ton, solar haram itu kemudian ditampung di satu lokasi rahasia sebelum diangkut keluar Bone.
"Para pelangsir itu bergiliran masuk ke SPBU dari pagi sampai sore. Tidak putus. Setelah dikumpulkan, solar diangkut pakai truk menuju Siwa, tempat bos besar AI. Biasanya truk berangkat sekitar pukul 15.00," ungkap seorang sumber terpercaya yang mengetahui persis polanya, Senin (5/10/2026).
Rute yang ditempuh, Tokaseng, Bone - Siwa, Wajo. Solar subsidi untuk rakyat Bone, diduga dijual untuk keuntungan pribadi di kabupaten tetangga.
Skandal ini mencuat justru di saat Pemkab Bone baru saja membentuk Satgas Pengendalian BBM Bersubsidi Merah Putih pada Agustus 2026 lalu. Satgas ini dibentuk untuk mengawasi ketat 22 SPBU di Bone agar solar subsidi tepat sasaran.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, Mengapa praktik terang-terangan di SPBU Tokaseng ini bisa lolos dari radar Satgas, Apakah ada pembiaran? Ataukah jaringan ini terlalu kuat?
Hingga berita ini diturunkan, DNID.co.id masih terus menelusuri lokasi penampungan solar haram tersebut dan berupaya melakukan konfirmasi kepada manajemen SPBU Tokaseng, Dinas Pertanian dan Perikanan Bone, serta pihak berinisial AT dan AI yang namanya disebut dalam pusaran skandal ini.
Namun hingga berita ini dimuat, belum ada satupun yang memberikan keterangan resmi. Kasus ini jelas merugikan negara dan menyakiti rakyat kecil. DNID.co.id akan terus mengawal.