Lapas Kelas IIA Pangkalpinang Turun Tangan Dongkrak Ekonomi Warga Tuatunu
PANGKALPINANG ,DNID.co.id — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pangkalpinang mulai memperluas program pemberdayaan ekonomi berbasis komoditas lokal dengan menggelar pelatihan pengolahan nanas bagi warga Kelurahan Tuatunu Indah, santri Pondok Pesantren Manba’ul Ulum, dan kader PKK, Rabu (10/6).
Kegiatan yang berlangsung di Balai Kelurahan Tuatunu Indah tersebut menjadi langkah konkret untuk meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus membuka peluang usaha baru dari salah satu komoditas unggulan daerah. Pelatihan menghadirkan narasumber Hidayat yang memberikan materi teknis pengolahan nanas menjadi produk bernilai jual lebih tinggi, termasuk dodol nanas.
Program ini merupakan pengembangan dari pembinaan kemandirian yang selama ini dijalankan Lapas Pangkalpinang kepada warga binaan. Kini, manfaat program tersebut diperluas ke masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi kerakyatan berbasis potensi lokal.
Kepala Lapas Kelas IIA Pangkalpinang, Sugeng Indrawan, mengatakan pihaknya melihat potensi besar komoditas nanas di Tuatunu Indah yang selama ini belum dimaksimalkan secara optimal menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi.
“Kami memperluas manfaat program ini kepada masyarakat sebagai upaya mengembangkan potensi ekonomi berbasis komoditas unggulan sekaligus membuka peluang usaha yang produktif dan bernilai tambah,” kata Sugeng.
Menurutnya, peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengolah hasil pertanian menjadi produk siap jual merupakan salah satu kunci untuk memperkuat perekonomian lokal. Karena itu, Lapas Pangkalpinang bersama Pemerintah Kelurahan Tuatunu Indah mendorong lahirnya produk dodol nanas dengan standar pengolahan yang baik agar mampu bersaing di pasar.
Sugeng menegaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari pelaksanaan pelatihan, tetapi juga dari munculnya pelaku usaha baru yang mampu mengembangkan produk lokal menjadi sumber pendapatan berkelanjutan.
“Kami berharap sinergi yang terjalin dapat mendorong tumbuhnya UMKM berbasis olahan nanas sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, pesantren, serta mendukung kemajuan Kelurahan Tuatunu Indah,” ujarnya.
Sementara itu, Lurah Tuatunu Indah, Iwan Bernadi, menyambut positif langkah Lapas Pangkalpinang yang dinilai turut membantu memperkuat sektor usaha mikro di wilayahnya. Ia mengakui sebagian besar UMKM di Tuatunu masih berada pada skala kecil dan membutuhkan pendampingan berkelanjutan agar mampu berkembang.
“Sebagian besar UMKM di Tuatunu masih berskala kecil. Kami berharap pelatihan ini memberikan pengetahuan yang dapat diterapkan secara langsung sehingga mampu meningkatkan daya saing dan mendorong perkembangan usaha masyarakat,” ungkap Iwan.
Pelatihan ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa pengembangan ekonomi masyarakat tidak hanya bergantung pada bantuan modal, tetapi juga pada peningkatan keterampilan, inovasi produk, serta kemampuan pemasaran. Melalui kolaborasi antara Lapas, pemerintah kelurahan, pesantren, dan masyarakat, komoditas nanas yang selama ini melimpah di Tuatunu diharapkan mampu menjadi produk unggulan yang memberi nilai tambah ekonomi secara berkelanjutan.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Lapas Kelas IIA Pangkalpinang Turun Tangan Dongkrak Ekonomi Warga Tuatunu
RABU, 10 JUNI 2026
PANGKALPINANG ,DNID.co.id — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pangkalpinang mulai memperluas program pemberdayaan ekonomi berbasis komoditas lokal dengan menggelar pelatihan pengolahan nanas bagi warga Kelurahan Tuatunu Indah, santri Pondok Pesantren Manba'ul Ulum, dan kader PKK, Rabu (10/6).
Kegiatan yang berlangsung di Balai Kelurahan Tuatunu Indah tersebut menjadi langkah konkret untuk meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus membuka peluang usaha baru dari salah satu komoditas unggulan daerah. Pelatihan menghadirkan narasumber Hidayat yang memberikan materi teknis pengolahan nanas menjadi produk bernilai jual lebih tinggi, termasuk dodol nanas.
Program ini merupakan pengembangan dari pembinaan kemandirian yang selama ini dijalankan Lapas Pangkalpinang kepada warga binaan. Kini, manfaat program tersebut diperluas ke masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi kerakyatan berbasis potensi lokal.
Kepala Lapas Kelas IIA Pangkalpinang, Sugeng Indrawan, mengatakan pihaknya melihat potensi besar komoditas nanas di Tuatunu Indah yang selama ini belum dimaksimalkan secara optimal menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi.
"Kami memperluas manfaat program ini kepada masyarakat sebagai upaya mengembangkan potensi ekonomi berbasis komoditas unggulan sekaligus membuka peluang usaha yang produktif dan bernilai tambah," kata Sugeng.
Menurutnya, peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengolah hasil pertanian menjadi produk siap jual merupakan salah satu kunci untuk memperkuat perekonomian lokal. Karena itu, Lapas Pangkalpinang bersama Pemerintah Kelurahan Tuatunu Indah mendorong lahirnya produk dodol nanas dengan standar pengolahan yang baik agar mampu bersaing di pasar.
Sugeng menegaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari pelaksanaan pelatihan, tetapi juga dari munculnya pelaku usaha baru yang mampu mengembangkan produk lokal menjadi sumber pendapatan berkelanjutan.
"Kami berharap sinergi yang terjalin dapat mendorong tumbuhnya UMKM berbasis olahan nanas sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, pesantren, serta mendukung kemajuan Kelurahan Tuatunu Indah," ujarnya.
Sementara itu, Lurah Tuatunu Indah, Iwan Bernadi, menyambut positif langkah Lapas Pangkalpinang yang dinilai turut membantu memperkuat sektor usaha mikro di wilayahnya. Ia mengakui sebagian besar UMKM di Tuatunu masih berada pada skala kecil dan membutuhkan pendampingan berkelanjutan agar mampu berkembang.
"Sebagian besar UMKM di Tuatunu masih berskala kecil. Kami berharap pelatihan ini memberikan pengetahuan yang dapat diterapkan secara langsung sehingga mampu meningkatkan daya saing dan mendorong perkembangan usaha masyarakat," ungkap Iwan.
Pelatihan ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa pengembangan ekonomi masyarakat tidak hanya bergantung pada bantuan modal, tetapi juga pada peningkatan keterampilan, inovasi produk, serta kemampuan pemasaran. Melalui kolaborasi antara Lapas, pemerintah kelurahan, pesantren, dan masyarakat, komoditas nanas yang selama ini melimpah di Tuatunu diharapkan mampu menjadi produk unggulan yang memberi nilai tambah ekonomi secara berkelanjutan.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.