Supir Wakapolres Jeneponto Disorot Dugaan Kasus Pemukulan Warga
Jeneponto,DNID.co.id – Sulhaji, korban dugaan pengeroyokan yang terjadi di Kampung Ganrang Batu, Desa Kayuloe Timur, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, mengaku tidak hanya menjadi sasaran pemukulan oleh sekelompok warga, tetapi juga oleh seorang oknum anggota Polres Jeneponto.
Menurut Sulhaji, peristiwa tersebut terjadi saat dirinya dalam perjalanan dari rumah neneknya di wilayah Pannara menuju To’lo. Saat melintas di ujung Kampung Ganrang Batu, ia mengaku tiba-tiba dicegat dan langsung dikeroyok.
“Pas di ujung Ganrang Batu saya tiba-tiba dicegat. Begitu dicegat saya langsung dipukul ramai-ramai,” ungkap Sulhaji.
Di tengah insiden itu, Sulhaji mengaku melihat seorang anggota Polres Jeneponto bernama Briptu Wildan berada di lokasi. Ia menegaskan Wildan bukan orang pertama yang memukulnya, namun disebut turut melakukan kekerasan.
“Saat kejadian ada aparat kepolisian yang ikut memukul saya. Dia salah satu anggota Polres Jeneponto bernama Wildan. Dia pukul kepala saya. Setelah itu dia menarik baju saya seolah-olah mau melindungi, tetapi justru saat saya ditarik saya tidak bisa bergerak dan warga terus bebas memukul saya,” katanya.
Sulhaji kembali menegaskan bahwa Wildan ikut melakukan pemukulan terhadap dirinya.
“Bukan dia yang pertama memukul, tapi yang jelas dia ikut memukul saya,” ujarnya.
Disebut Sudah Diperiksa Penyidik
Sulhaji mengaku mengetahui bahwa Wildan telah dimintai keterangan oleh penyidik terkait kasus tersebut. Namun berdasarkan informasi yang diterimanya, oknum polisi itu membantah tudingan pemukulan dan mengaku hanya berupaya melindungi korban.
“Katanya sudah diperiksa penyidik. Jawabannya dia hanya melindungi saya,” tutur Sulhaji.
Korban juga mengaku mendapat informasi bahwa penyidik sempat meminta keterangan kepada Wildan mengenai identitas para pelaku pengeroyokan.
“Bahkan penyidik tanya pelaku lain kepada Wildan. Dia menyebut sekitar lima orang, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan bagaimana perkembangan kasusnya,” katanya.
Alami Luka di Kepala dan Wajah
Akibat pengeroyokan tersebut, Sulhaji mengaku mengalami sejumlah luka di bagian kepala dan wajah. Hingga kini, ia mengaku masih merasakan dampak dari luka yang dideritanya.
“Saya mengalami luka serius di kepala. Kepala sebelah kiri seperti mati rasa. Kepala sebelah kanan sobek, alis juga mengalami luka dan masih ada bekasnya sampai sekarang,” ungkapnya.
Meski laporan telah disampaikan ke Polres Jeneponto, Sulhaji mengaku belum melihat perkembangan signifikan dalam penanganan perkara tersebut.
“Dulu polisi bilang sudah ada lima orang yang diamankan, tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan bagaimana kelanjutannya,” ujarnya.
Korban Singgung Dugaan Permintaan Uang Operasional
Sulhaji juga mengungkapkan bahwa komunikasi terakhir dengan penyidik berkaitan dengan permintaan uang operasional.
“Dulu terakhir penyidik menghubungi saya minta uang operasional. Waktu itu dia chat saya, lalu saya suruh hubungi bapak saya,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber internal kepolisian, Briptu Wildan disebut merupakan sopir pribadi Wakapolres Jeneponto, Kompol Sahabuddin. Namun informasi tersebut belum mendapat konfirmasi resmi dari pihak Polres Jeneponto.
Hingga berita ini diterbitkan, Polres Jeneponto belum memberikan keterangan terkait tudingan korban mengenai dugaan keterlibatan oknum anggotanya dalam peristiwa pengeroyokan tersebut. Pihak kepolisian juga belum memberikan penjelasan mengenai perkembangan penanganan kasus maupun tudingan adanya permintaan uang operasional oleh penyidik.
Plt Kasi Humas Polres Jeneponto, Sjamsul Bachri, belum merespons permintaan konfirmasi yang telah disampaikan.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Supir Wakapolres Jeneponto Disorot Dugaan Kasus Pemukulan Warga
RABU, 24 JUNI 2026
Jeneponto,DNID.co.id – Sulhaji, korban dugaan pengeroyokan yang terjadi di Kampung Ganrang Batu, Desa Kayuloe Timur, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, mengaku tidak hanya menjadi sasaran pemukulan oleh sekelompok warga, tetapi juga oleh seorang oknum anggota Polres Jeneponto.
Menurut Sulhaji, peristiwa tersebut terjadi saat dirinya dalam perjalanan dari rumah neneknya di wilayah Pannara menuju To'lo. Saat melintas di ujung Kampung Ganrang Batu, ia mengaku tiba-tiba dicegat dan langsung dikeroyok.
“Pas di ujung Ganrang Batu saya tiba-tiba dicegat. Begitu dicegat saya langsung dipukul ramai-ramai,” ungkap Sulhaji.
Di tengah insiden itu, Sulhaji mengaku melihat seorang anggota Polres Jeneponto bernama Briptu Wildan berada di lokasi. Ia menegaskan Wildan bukan orang pertama yang memukulnya, namun disebut turut melakukan kekerasan.
“Saat kejadian ada aparat kepolisian yang ikut memukul saya. Dia salah satu anggota Polres Jeneponto bernama Wildan. Dia pukul kepala saya. Setelah itu dia menarik baju saya seolah-olah mau melindungi, tetapi justru saat saya ditarik saya tidak bisa bergerak dan warga terus bebas memukul saya,” katanya.
Sulhaji kembali menegaskan bahwa Wildan ikut melakukan pemukulan terhadap dirinya.
“Bukan dia yang pertama memukul, tapi yang jelas dia ikut memukul saya,” ujarnya.
Disebut Sudah Diperiksa Penyidik
Sulhaji mengaku mengetahui bahwa Wildan telah dimintai keterangan oleh penyidik terkait kasus tersebut. Namun berdasarkan informasi yang diterimanya, oknum polisi itu membantah tudingan pemukulan dan mengaku hanya berupaya melindungi korban.
“Katanya sudah diperiksa penyidik. Jawabannya dia hanya melindungi saya,” tutur Sulhaji.
Korban juga mengaku mendapat informasi bahwa penyidik sempat meminta keterangan kepada Wildan mengenai identitas para pelaku pengeroyokan.
“Bahkan penyidik tanya pelaku lain kepada Wildan. Dia menyebut sekitar lima orang, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan bagaimana perkembangan kasusnya,” katanya.
Alami Luka di Kepala dan Wajah
Akibat pengeroyokan tersebut, Sulhaji mengaku mengalami sejumlah luka di bagian kepala dan wajah. Hingga kini, ia mengaku masih merasakan dampak dari luka yang dideritanya.
“Saya mengalami luka serius di kepala. Kepala sebelah kiri seperti mati rasa. Kepala sebelah kanan sobek, alis juga mengalami luka dan masih ada bekasnya sampai sekarang,” ungkapnya.
Meski laporan telah disampaikan ke Polres Jeneponto, Sulhaji mengaku belum melihat perkembangan signifikan dalam penanganan perkara tersebut.
“Dulu polisi bilang sudah ada lima orang yang diamankan, tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan bagaimana kelanjutannya,” ujarnya.
Korban Singgung Dugaan Permintaan Uang Operasional
Sulhaji juga mengungkapkan bahwa komunikasi terakhir dengan penyidik berkaitan dengan permintaan uang operasional.
“Dulu terakhir penyidik menghubungi saya minta uang operasional. Waktu itu dia chat saya, lalu saya suruh hubungi bapak saya,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber internal kepolisian, Briptu Wildan disebut merupakan sopir pribadi Wakapolres Jeneponto, Kompol Sahabuddin. Namun informasi tersebut belum mendapat konfirmasi resmi dari pihak Polres Jeneponto.
Hingga berita ini diterbitkan, Polres Jeneponto belum memberikan keterangan terkait tudingan korban mengenai dugaan keterlibatan oknum anggotanya dalam peristiwa pengeroyokan tersebut. Pihak kepolisian juga belum memberikan penjelasan mengenai perkembangan penanganan kasus maupun tudingan adanya permintaan uang operasional oleh penyidik.
Plt Kasi Humas Polres Jeneponto, Sjamsul Bachri, belum merespons permintaan konfirmasi yang telah disampaikan.