Dugaan Mafia Solar Tokaseng, AT Disorot Hingga Kapolres Bone Didesak Usut Distribusi hingga ke Wajo
Foto ilustrasi. Doc, Ricky. DNID.co.id
Petani dan nelayan mengeluhkan sulitnya mendapatkan solar subsidi, sementara distribusi jeriken diduga terus berlangsung. Polres Bone didesak menelusuri dugaan pengiriman solar ke Wajo dan mengusut pihak-pihak yang terlibat.
Bone, DNID.co.id – Skandal solar subsidi di SPBU Tokaseng, Tellu Siattinge ternyata lebih biadab dari yang dibayangkan. Bukan hanya soal mafia yang menyedot 90 persen jatah rakyat, tapi ada dugaan penguasaan 1 dispenser pompa secara eksklusif oleh jaringan AT, sementara petani dan nelayan asli Bone dibiarkan menderita dibatasi.
Informasi dari narasumber yang kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan yang dihimpun DNID.co.id menyebutkan, AT diduga menguasai satu dispenser pompa di SPBU tersebut. Dispenser itu seolah menjadi milik pribadinya.
Akibatnya, petani yang mau turun ke sawah dan nelayan yang mau melaut, jatahnya dibatasi dengan alasan stok menipis. Sementara orang-orangnya AT dan AT sendiri, bebas mengisi tanpa batas dari pagi hingga siang.
Penderitaan itu sempat memuncak hingga para petani berencana bersatu dan mendatangi Rujab Bupati Bone untuk mengadukan nasib mereka.
“Petani mau bersatu ke Rujab ketemu Bupati untuk menyampaikan keluhannya karena mereka turun ke sawah tidak bisa dapat solar, mau panen tidak bisa dapat juga solar, begitupun nelayan dibatasi sementara orangnya AT dan AT sendiri tidak dibatasi,” ungkap sumber tersebut dengan nada geram, Sabtu (10/10/2026).
Kini, petani sudah panen sehingga gejolak disana mungkin sedikit mereda. Tapi yang masih menjerit adalah para nelayan di pesisir Tellu Siattinge yang hingga hari ini masih dibatasi, sementara truk-truk haram terus mengangkut solar.
Seperti diberitakan sebelumnya, modus yang digunakan adalah memanfaatkan barcode dan surat rekomendasi dari Dinas Pertanian dan Perikanan. Surat yang seharusnya untuk rakyat, diduga jadi alat untuk menguras.
Ratusan jeriken dikumpulkan oleh pelangsir yang bergiliran masuk SPBU menggunakan pikap dan motor dari pagi hingga sore. Solar juga diduga dikumpulkan dari kendaraan ‘pa’ sedot‘.
Ironisnya, solar subsidi yang seharusnya beredar di Kabupaten Bone, diduga kuat justru dialirkan keluar daerah.
“AT solar subsidi yang ditampung dengan ratusan jerigen dikirim ke ALN, daerah Siwa Wajo, bahkan truk yang digunakan mengirim itu diduga milik ALN,” beber sumber tersebut.
Truk bermuatan solar haram itu dikabarkan rutin berangkat sekitar pukul 15.00 WITA dari penampungan rahasia di Bone menuju Siwa, tempat bos besar berinisial AI dan ALN berkuasa.
Sangat disayangkan, BBM subsidi yang dibayar dari uang rakyat, yang seharusnya membantu petani dan nelayan Bone, malah diduga disalurkan untuk memperkaya mafia lintas kabupaten.
Kini, bola panas ada di tangan penegak hukum.
Skandal ini menjadi tugas terberat bagi Kapolres Bone yang baru dan Kasat Reskrim yang baru. Publik menanti, mampukah mereka memutuskan mata rantai mafia BBM subsidi yang sudah mengakar ini?
Atau praktik lancung ini akan terus dibiarkan, sementara nelayan terus melaut dengan Persaan was was karena isi tangki BBM Tipis?
DNID.co.id masih terus menelusuri lokasi penampungan dan berupaya mengonfirmasi pihak SPBU Tokaseng, Dinas Pertanian dan Perikanan, serta AT dan LN. Hingga berita ini dimuat, belum ada keterangan resmi.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Dugaan Mafia Solar Tokaseng, AT Disorot Hingga Kapolres Bone Didesak Usut Distribusi hingga ke Wajo
MINGGU, 11 OKTOBER 2026
Petani dan nelayan mengeluhkan sulitnya mendapatkan solar subsidi, sementara distribusi jeriken diduga terus berlangsung. Polres Bone didesak menelusuri dugaan pengiriman solar ke Wajo dan mengusut pihak-pihak yang terlibat.
Bone, DNID.co.id – Skandal solar subsidi di SPBU Tokaseng, Tellu Siattinge ternyata lebih biadab dari yang dibayangkan. Bukan hanya soal mafia yang menyedot 90 persen jatah rakyat, tapi ada dugaan penguasaan 1 dispenser pompa secara eksklusif oleh jaringan AT, sementara petani dan nelayan asli Bone dibiarkan menderita dibatasi.
Informasi dari narasumber yang kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan yang dihimpun DNID.co.id menyebutkan, AT diduga menguasai satu dispenser pompa di SPBU tersebut. Dispenser itu seolah menjadi milik pribadinya.
Akibatnya, petani yang mau turun ke sawah dan nelayan yang mau melaut, jatahnya dibatasi dengan alasan stok menipis. Sementara orang-orangnya AT dan AT sendiri, bebas mengisi tanpa batas dari pagi hingga siang.
Penderitaan itu sempat memuncak hingga para petani berencana bersatu dan mendatangi Rujab Bupati Bone untuk mengadukan nasib mereka.
"Petani mau bersatu ke Rujab ketemu Bupati untuk menyampaikan keluhannya karena mereka turun ke sawah tidak bisa dapat solar, mau panen tidak bisa dapat juga solar, begitupun nelayan dibatasi sementara orangnya AT dan AT sendiri tidak dibatasi," ungkap sumber tersebut dengan nada geram, Sabtu (10/10/2026).
Kini, petani sudah panen sehingga gejolak disana mungkin sedikit mereda. Tapi yang masih menjerit adalah para nelayan di pesisir Tellu Siattinge yang hingga hari ini masih dibatasi, sementara truk-truk haram terus mengangkut solar.
Seperti diberitakan sebelumnya, modus yang digunakan adalah memanfaatkan barcode dan surat rekomendasi dari Dinas Pertanian dan Perikanan. Surat yang seharusnya untuk rakyat, diduga jadi alat untuk menguras.
Ratusan jeriken dikumpulkan oleh pelangsir yang bergiliran masuk SPBU menggunakan pikap dan motor dari pagi hingga sore. Solar juga diduga dikumpulkan dari kendaraan 'pa' sedot'.
Ironisnya, solar subsidi yang seharusnya beredar di Kabupaten Bone, diduga kuat justru dialirkan keluar daerah.
"AT solar subsidi yang ditampung dengan ratusan jerigen dikirim ke ALN, daerah Siwa Wajo, bahkan truk yang digunakan mengirim itu diduga milik ALN," beber sumber tersebut.
Truk bermuatan solar haram itu dikabarkan rutin berangkat sekitar pukul 15.00 WITA dari penampungan rahasia di Bone menuju Siwa, tempat bos besar berinisial AI dan ALN berkuasa.
Sangat disayangkan, BBM subsidi yang dibayar dari uang rakyat, yang seharusnya membantu petani dan nelayan Bone, malah diduga disalurkan untuk memperkaya mafia lintas kabupaten.
Kini, bola panas ada di tangan penegak hukum.
Skandal ini menjadi tugas terberat bagi Kapolres Bone yang baru dan Kasat Reskrim yang baru. Publik menanti, mampukah mereka memutuskan mata rantai mafia BBM subsidi yang sudah mengakar ini?
Atau praktik lancung ini akan terus dibiarkan, sementara nelayan terus melaut dengan Persaan was was karena isi tangki BBM Tipis?
DNID.co.id masih terus menelusuri lokasi penampungan dan berupaya mengonfirmasi pihak SPBU Tokaseng, Dinas Pertanian dan Perikanan, serta AT dan LN. Hingga berita ini dimuat, belum ada keterangan resmi.