Sekjur Ilmu Ekonomi UINAM Anggap HMI, PMII, dan Ormas Sudah Tidak Relevan. Berikut Tanggapan Dari Ketum Organ Eksternal!
Sekretaris Jurusan (Sekjur) Ilmu Ekonomi UIN Alauddin Makassar, Aulia Rahman B, S.E.,M.Si., diduga menganggap organisasi kemahasiswaan eksternal kampus tidak relevan lagi bagi mahasiswa hari ini.
Dalam rekaman suara yang kami dapatkan, Aulia Rahman menyampaikan bahwa organisasi eskternal kampus seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Hal itu disampaikan dihadapan mahasiswa yang ingin meminta surat rekomendasi Bakal Calon Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Ekonomi.
” Saya mau rubah ini HMJ belah. Jangan lagi Mau kesini mau kesini, tidak perlu. Mau ke PMII HMI, tidak usah itu sudah lewat itu yang begitu-begitu,”ujarnya, Selasa (24/12/2024).
Menurutnya, organisasi kemahasiswaan eksternal maupun organisasi kemasyarakatan (ormas) sudah ketinggalan.”Di luar sana orang bersaing, kalau kalian masih disini, di organisasi apa, ormas aduh ketinggalan sekali mi,” tuturnya.
Lebih lanjut, Sekjur Ilmu Ekonomi menilai bahwa HMJ Ilmu Ekonomi tidak terlepas dari intervensi alumni. Meski begitu, ia tetap menganjurkan untuk tetap menyerap saran-saran yang sifatnya positif.
“Kalaupun ada saran dari luar, dari seniormu, dari ormas apa, dengar, tidak apa-apa. Jangan itu yg kau jadikan patron, rusak ko itu,” tegasnya
Tak ayal, pernyataan Sekjur Ilmu Ekonomi yang disampaikan dihadapan mahasiswa yang ingin meminta surat rekomensasi bakal calon Ketua Umum HMJ Ilmu Ekonomi ini menuai respon dari pihak organisasi kemahasiswaan yang disebutkan di atas.
Dengan membahas organisasi eksternal kampus dan ormas, Sekjur Ilmu Ekonomi dinilai telah keluar dari konteks pembahasan dengan mahasiswa yang menghadapnya, yaitu perihal surat rekomendasi bakal calon ketua umum.
Tanggapan Ketua Umum HMI Cabang Gowa Raya
Ketua Umum HMI Cabang Gowaraya, Nawir Kalling, menyayangkan pernyataan Sekjur Ilmu Ekonomi yang menyangkutpautkan dengan organisasi lain. Padahal yang menjadi pokok pembahasan adalah terkait surat rekomendasi.
“Pihak birokrasi di FEBI profesional saja. Tidak usah bawa-bawa lembaga yang dia sebut patron dan sebagainya. Jangan sampai justru memicu kegaduhan yg tidak diinginkan,” ujarnya saat dihubungi melalui pesan whatsapp, Selasa (24/12/2024).
Tanggapan Ketua Umum HMI Komisariat FEBI
Menanggapi pernyataan Sekjur Ilmu Ekonomi, Ketua Umum HMI Komisariat FEBI, Ahmad Raihan, mengatakan bahwa organisasi eksternal kampus tidak memberikan dampak buruk bagi HMJ.
Justru menurutnya, dari rahim kaderisasi di organisasi eksternal kampus seperti HMI, PMII, dan IMM, lahir banyak pemimpin bangsa.
“Organisasi-organisasi itu banyak mencetak pemimpin bangsa. Khususnya HMI, berperan sebagai organisasi perjuangan dan mempunyai fungsi kaderisasi,”ungkapnya melalui pesan whatsapp, Selasa (24/12/2024).
Tanggapan Ketua Umum PMII Komisariat UIN Alauddin Makassar
PMII juga menjadi salah satu organisasi kemahasiswaan yang sudah tidak relevan bagi mahasiswa menurut Sekjur Ilmu Ekonomi. Ketua Umum PMII Komisariat UIN Alauddin Makassar, Muh Izhar Attar Syach, menampik pernyataan yang dilontarkan Sekjur Ilmu Ekonomi.
“Sebagai selayaknya wadah organisasi, khususnya PMII itu sendiri merupakan wadah penumbuh kembangan para mahasiswa yang bersifat eksternal yang tidak mampu mahasiswa itu dapat valeunya di tingkat internal,”ujarnya saat dihubungi melalui pesan whatsapp, Selasa (24/12/2024).
Lebih lanjut, Izhar menganggap bahwa kesimpulan dari Sekjur Ilmu Ekonomi hanya didasarkan pada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dalam organisasi dan tidak dapat dijadikan landasan dalam menilai sebuah organisasi.
“Karena selayaknya wadah organisasi itu membentuk atau meningkatkan nilai dari kadernya, bukan menghambat kader untuk menjadi berkualitas,” tutupnya.
Tanggapan Ketua Umum PMII Rayon FEBI
Ketua Umum PMII Rayon FEBI, A. Nur Salsabila, menganggap pernyataan dari Sekjur Ilmu Ekonomi seakan hanya menganggungkan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).
Olehnya itu, ia mempertanyakan posisi nilai IPK dalam mengukur tingkat kecerdasan mahasiswa.
“Haha, kurasa semua orang punya kualitas nya masing-masing dan tidak semua tentang akademik apalagi IPK. Bagaimana dengan orang yang mempunyai bakat diluar akademik? Haha, miris sekjur bicara seperti itu,” gugatnya saat dihubungi melalui pesan whatsapp, Selasa (24/12/2024).
Lebih lanjut, Salsabila menilai bahwa organisasi kemahasiswaan eksternal seperti PMII masih relevan untuk menumbuh kembangkan potensi mahasiswa, baik secara ilmu pengetahuan maupun pengalaman.
“Kurasa PMII bukan ji hal buruk dan tidak memberikan ji pengaruh buruk, banyak ji buktinya orang yang berproses di PMII menjadi orang yg hebat,”ujarnya.
Tanggapan Dari Alumni Terkait Tuduhan Mengintervensi Mahasiswa
Zulkipli, Alumni Jurusan Ilmu Ekonomi angakatan 2010 yang saat ini menjabat sebagai Ketua Ikatan Alumni (IKA), membantah bahwa alumni masih terlibat dalam kontestasi pemilihan mahasiswa.
“Sebagai alumni, saya tidak pernah melakukan intervensi,” tegasnya saat ditemui, Selasa (24/12/2024).
Ia menduga bahwa anggapan bahwa alumni mengintervensi pemilihan mahasiswa bermula sejak ia menyambangi kembali Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam untuk memenuhi undangan Wakik Dekan III.
Untuk diketahui, kasus sindikat produksi uang palsu di UIN Alauddin Makassar, sempat menjadi pendiskusian dalam grup whatsapp alumni Ilmu Ekonomi. Zulkipla menduga bahwa kasus tersebut ada kaitannya dengan berbagai aturan yang dikeluarkan kampus yang dinilai mengekang mahasiswa.
“Itu yang kami bahas dalam grup alumni. Kemudian dikomentari oleh Pak Hasbiullah (WD III) yang mengatakan bahwa jangan hanya sepihak mendengarkan dari mahasiswa, tapi juga dari pimpinan. Kemudian saya diundang ke dalam fakultas menemuinya langsung,” terangnya.
Lebih lanjut, Mantan Ketua Umum HMJ Ilmu Ekonomi ini menegaskan bahwa hanya permasalahn kampus saja yang dibahas, tidak ada maksud untuk mengintervensi HMJ Ilmu Ekonomi.
“Apa gunanya kita mengintervensi lagi hal-hal seperti itu. Bukanmi ranah ta lagi untuk ikut dalam kontestasi pemilihan begitu,”ujarnya.
Apa yang disampaikan oleh Zulkipli senada dengan yang sampaikan oleh Sulfikar, alumni Jurusan Ilmu Ekonomi angkatan 2015.
Mantan Ketua Umum Dewan Mahasiswa FEBI periode 2019 ini menegaskan bahwa Ketua IKA Ilmu Ekonomi datang ke fakultas murni untuk memenuhi undangan WD III FEBI.
“Pertemuan tersebut membahas persoalan lain, khususnya kasus uang palsu di UIN Alauddin Makassar,”tegasnya melalui pesan whatsapp, Selasa (24/12/2024).
Keterlibatan alumni di HMJ Ilmu Ekonomi hanya berperan memberi saran dan masukan jika diperlukan. Hal ini disampaikan oleh A. Ismail ZM, alumni jurusan Ilmu Ekonomi angkatan 2018.
“Saran dan masukan itu tidaklah menjadi tuntutan ataupun tekanan kepada adik-adik pengurus HMJ Ilmu Ekonomi,” ujarnya, Selasa (24/12/2024).
Klarifikasi Sekretaris Jurusan Ilmu Ekonomi
Kami mencoba mengkonfimasi langsung kepada Sekertaris Jurusan Ilmu Ekonomi, Aulia Rahman. Saat dihubungi melalui pesan whatsapp, ia pun meminta untuk bertemu langsung di ruang jurusan.
Pukul 16.00 WITA, kami menyambangi ruang jurusan Ilmu Ekonomi guna mengkonfirmasi beberapa pernyataan Sekjur Ilmu Ekonomi yang kami dapatkan.
Ia memamparkan bahwa selama sekitar seminggu di Kota Palembang, ada banyak laporan yang didapatkan terkait adanya beberapa oknum yang mencoba mengintervensi pemilihan mahasiswa.
“Ada intervensi dari mahasiswa yang mau jadi calon (Ketua Umum HMJ Ilmu Ekonomi), disuruh jangan maju,”ujarnya saat ditemui di ruang jurusan, Selasa (24/12/2024).
Oleh kerena itu, Sekjur Ilmu Ekonomi menduga proses pemilihan mahasiswa tidak sehat lagi karena intervensi beberapa pihak.
“Saya dengan Pak Baso (Katua Jurusan) tidak pernah campur aduk HMJ termasuk pemilihan (Ketua HMJ). Namun pasca mendengar laporan, saya pikir salah kalau begini ada intervensi,” ungkapnya.
Ia juga mendapatkan laporan tentang ada seseorang sempat datang ke ruang jurusan Ilmu Ekonomi.
“Kemudian ada yang melapor, ada orang datang kesini bawa nama dan segala macam. Itukan tidak enak didengar itu. Seolah-olah ini anak-anak (HMJ) dipegang sama orang lain,”ungkapnya.
Kami coba menanyakan siapa orang dimaksud. Namun, Sekjur Ilmu Ekonomi menolak menyebutkan nama orangnya. Dari informasi yang kami dapatkan, diduga orang tersebut adalah Ketua IKA Ilmu Ekonomi, Zulkipli.
Lebih lanjut, Ia juga menyayangkan selama menjabat Sekjur Ilmu Ekonomi, kurangnya partisipasi dari HMJ Ilmu Ekonomi persoalan prestasi guna menunjang borang akreditasi.
Berbeda dengan organisasi kemahasiswaan eksternal seperti Forum Kajian Ekonomi Syariah (Forkeis) yang banyak memberi kontribusi berupa sertifikat penghargaan.
“Mereka yang dari Forkeis, mereka bawa datang kesini laporannya, sertifikatnya dan itu yang kami masukkan ke borang (akreditasi),” ungkapnya.
Ia menegaskan jika tidak mau berkoordinasi dengan pihak jurusan silahkan bikin sendiri (organanisasi), apapun namanya.
Kurangnya koordinasi dan kontribusi HMJ Ilmu Ekonomi membuat Sekjur Ilmu Ekonomi menduga bahwa ada intervensi dari berbagai pihak. Ia juha mengaku mengetahui afiliasi HMJ Ilmu Ekonomi dengan organisasi kemahasiswaan eksternal.
“Muncul dugaan saya, ini biasalah, kita ini kan bukan anak SMA, masalah ada intervensi barangkali. Saya tahukah afiliasinya adik-adik ini kemana, saya sudah petakan semua itu. Kita tahulah, tidak usah kita tutuplah, saya tidak mau sebut merek,” tuturnya.
Terkait afiliasi kemana dan seperti apa bentuk afiliasinya tidak dijelaskan lebih lanjut.
“Jadi ada kecenredurannya adik-adik (HMJ Ilmu Ekonomi) selama ini itu digoreng. Mungkin masih ada intervensi dari si A si B, ormas yang saya sebut tadi, atau masuk di seniornya atau di alumni. Tidak apa-apa kalian belajar dari mereka yg positif,”tambahnya.
Menurutnya, HMJ Ilmu Ekonomi adalah milik bersama.
“Jangan kamu goreng ini HMJ Ilmu Ekonomi itu ke HMI , PMII, ke ormas tertentu, keseniormu, ke IKA, jangan!. Tampung semua mereka masuk ke HMJ, caranya dengan membawa ide-ide mereka yang positif bawa masuk, yang negatif jangan bawa masuk kesini (HMJ Ilmu Ekonomi),” sarannya.
“Jangan sampai kamu disetir oleh salah satunya di antara itu, kau tidak dengar kami di jurusan. Karena kalau kau dengar yang eksternal, hancur kau kalau begitu. Inikan lebih dominan didengar yang diluar,” tambahnya.
Ia khawatir jika HMJ Ilmu Ekonomi berada dalam satu patron.
” Tolong diakomodasi semua untuk masuk disini (HMJ Ilmu Ekonomi). Mau dia kader HMI, PMII, yang penting bukan lembaga terlarang. Tampung semua mereka jangan bikin pemetaan. Gandeng semua orang yang punya prestasi,” harapkan.
Kami kembali mencoba mempertanyakan seperti apa bentuk intervensi organisasi eksternal pada HMJ Ilmu Ekonomi. Sekjur Ilmu Ekonomi mengatakan bahwa hal itu susah untuk dibuktikan.
“Tidak enak kalau saya cerita vulgar yang seperti itu, bukan maki anak SMA mau dijelaskan begitu. Itukan memang kalau kita buktikan itu susah, ka bukanki orang baru juga ini belah,”tuturnya.
Sekjur Ilmu Ekonomi hanya mengatakan dari beberapa indikasi dan laporan yang diterima, ia menyimpulkan bahwa organisasi kemahasiswaan eksternal lebih didengarkan ketimbang pihak pimpina
“Makanya saya ambil hipotesis jangan sampai ini anana lebih banyak dengar eksternal dibanding dengan internal kita,” tutupnya.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Sekjur Ilmu Ekonomi UINAM Anggap HMI, PMII, dan Ormas Sudah Tidak Relevan. Berikut Tanggapan Dari Ketum Organ Eksternal!
RABU, 25 DESEMBER 2024
Sekretaris Jurusan (Sekjur) Ilmu Ekonomi UIN Alauddin Makassar, Aulia Rahman B, S.E.,M.Si., diduga menganggap organisasi kemahasiswaan eksternal kampus tidak relevan lagi bagi mahasiswa hari ini.
Dalam rekaman suara yang kami dapatkan, Aulia Rahman menyampaikan bahwa organisasi eskternal kampus seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Hal itu disampaikan dihadapan mahasiswa yang ingin meminta surat rekomendasi Bakal Calon Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Ekonomi.
" Saya mau rubah ini HMJ belah. Jangan lagi Mau kesini mau kesini, tidak perlu. Mau ke PMII HMI, tidak usah itu sudah lewat itu yang begitu-begitu,"ujarnya, Selasa (24/12/2024).
Menurutnya, organisasi kemahasiswaan eksternal maupun organisasi kemasyarakatan (ormas) sudah ketinggalan."Di luar sana orang bersaing, kalau kalian masih disini, di organisasi apa, ormas aduh ketinggalan sekali mi," tuturnya.
Lebih lanjut, Sekjur Ilmu Ekonomi menilai bahwa HMJ Ilmu Ekonomi tidak terlepas dari intervensi alumni. Meski begitu, ia tetap menganjurkan untuk tetap menyerap saran-saran yang sifatnya positif.
"Kalaupun ada saran dari luar, dari seniormu, dari ormas apa, dengar, tidak apa-apa. Jangan itu yg kau jadikan patron, rusak ko itu," tegasnya
Tak ayal, pernyataan Sekjur Ilmu Ekonomi yang disampaikan dihadapan mahasiswa yang ingin meminta surat rekomensasi bakal calon Ketua Umum HMJ Ilmu Ekonomi ini menuai respon dari pihak organisasi kemahasiswaan yang disebutkan di atas.
Dengan membahas organisasi eksternal kampus dan ormas, Sekjur Ilmu Ekonomi dinilai telah keluar dari konteks pembahasan dengan mahasiswa yang menghadapnya, yaitu perihal surat rekomendasi bakal calon ketua umum.
Tanggapan Ketua Umum HMI Cabang Gowa Raya
Ketua Umum HMI Cabang Gowaraya, Nawir Kalling, menyayangkan pernyataan Sekjur Ilmu Ekonomi yang menyangkutpautkan dengan organisasi lain. Padahal yang menjadi pokok pembahasan adalah terkait surat rekomendasi.
"Pihak birokrasi di FEBI profesional saja. Tidak usah bawa-bawa lembaga yang dia sebut patron dan sebagainya. Jangan sampai justru memicu kegaduhan yg tidak diinginkan," ujarnya saat dihubungi melalui pesan whatsapp, Selasa (24/12/2024).
Tanggapan Ketua Umum HMI Komisariat FEBI
Menanggapi pernyataan Sekjur Ilmu Ekonomi, Ketua Umum HMI Komisariat FEBI, Ahmad Raihan, mengatakan bahwa organisasi eksternal kampus tidak memberikan dampak buruk bagi HMJ.
Justru menurutnya, dari rahim kaderisasi di organisasi eksternal kampus seperti HMI, PMII, dan IMM, lahir banyak pemimpin bangsa.
"Organisasi-organisasi itu banyak mencetak pemimpin bangsa. Khususnya HMI, berperan sebagai organisasi perjuangan dan mempunyai fungsi kaderisasi,"ungkapnya melalui pesan whatsapp, Selasa (24/12/2024).
Tanggapan Ketua Umum PMII Komisariat UIN Alauddin Makassar
PMII juga menjadi salah satu organisasi kemahasiswaan yang sudah tidak relevan bagi mahasiswa menurut Sekjur Ilmu Ekonomi. Ketua Umum PMII Komisariat UIN Alauddin Makassar, Muh Izhar Attar Syach, menampik pernyataan yang dilontarkan Sekjur Ilmu Ekonomi.
"Sebagai selayaknya wadah organisasi, khususnya PMII itu sendiri merupakan wadah penumbuh kembangan para mahasiswa yang bersifat eksternal yang tidak mampu mahasiswa itu dapat valeunya di tingkat internal,"ujarnya saat dihubungi melalui pesan whatsapp, Selasa (24/12/2024).
Lebih lanjut, Izhar menganggap bahwa kesimpulan dari Sekjur Ilmu Ekonomi hanya didasarkan pada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dalam organisasi dan tidak dapat dijadikan landasan dalam menilai sebuah organisasi.
"Karena selayaknya wadah organisasi itu membentuk atau meningkatkan nilai dari kadernya, bukan menghambat kader untuk menjadi berkualitas," tutupnya.
Tanggapan Ketua Umum PMII Rayon FEBI
Ketua Umum PMII Rayon FEBI, A. Nur Salsabila, menganggap pernyataan dari Sekjur Ilmu Ekonomi seakan hanya menganggungkan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).
Olehnya itu, ia mempertanyakan posisi nilai IPK dalam mengukur tingkat kecerdasan mahasiswa.
"Haha, kurasa semua orang punya kualitas nya masing-masing dan tidak semua tentang akademik apalagi IPK. Bagaimana dengan orang yang mempunyai bakat diluar akademik? Haha, miris sekjur bicara seperti itu," gugatnya saat dihubungi melalui pesan whatsapp, Selasa (24/12/2024).
Lebih lanjut, Salsabila menilai bahwa organisasi kemahasiswaan eksternal seperti PMII masih relevan untuk menumbuh kembangkan potensi mahasiswa, baik secara ilmu pengetahuan maupun pengalaman.
"Kurasa PMII bukan ji hal buruk dan tidak memberikan ji pengaruh buruk, banyak ji buktinya orang yang berproses di PMII menjadi orang yg hebat,"ujarnya.
Tanggapan Dari Alumni Terkait Tuduhan Mengintervensi Mahasiswa
Zulkipli, Alumni Jurusan Ilmu Ekonomi angakatan 2010 yang saat ini menjabat sebagai Ketua Ikatan Alumni (IKA), membantah bahwa alumni masih terlibat dalam kontestasi pemilihan mahasiswa.
"Sebagai alumni, saya tidak pernah melakukan intervensi," tegasnya saat ditemui, Selasa (24/12/2024).
Ia menduga bahwa anggapan bahwa alumni mengintervensi pemilihan mahasiswa bermula sejak ia menyambangi kembali Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam untuk memenuhi undangan Wakik Dekan III.
Untuk diketahui, kasus sindikat produksi uang palsu di UIN Alauddin Makassar, sempat menjadi pendiskusian dalam grup whatsapp alumni Ilmu Ekonomi. Zulkipla menduga bahwa kasus tersebut ada kaitannya dengan berbagai aturan yang dikeluarkan kampus yang dinilai mengekang mahasiswa.
"Itu yang kami bahas dalam grup alumni. Kemudian dikomentari oleh Pak Hasbiullah (WD III) yang mengatakan bahwa jangan hanya sepihak mendengarkan dari mahasiswa, tapi juga dari pimpinan. Kemudian saya diundang ke dalam fakultas menemuinya langsung," terangnya.
Lebih lanjut, Mantan Ketua Umum HMJ Ilmu Ekonomi ini menegaskan bahwa hanya permasalahn kampus saja yang dibahas, tidak ada maksud untuk mengintervensi HMJ Ilmu Ekonomi.
"Apa gunanya kita mengintervensi lagi hal-hal seperti itu. Bukanmi ranah ta lagi untuk ikut dalam kontestasi pemilihan begitu,"ujarnya.
Apa yang disampaikan oleh Zulkipli senada dengan yang sampaikan oleh Sulfikar, alumni Jurusan Ilmu Ekonomi angkatan 2015.
Mantan Ketua Umum Dewan Mahasiswa FEBI periode 2019 ini menegaskan bahwa Ketua IKA Ilmu Ekonomi datang ke fakultas murni untuk memenuhi undangan WD III FEBI.
"Pertemuan tersebut membahas persoalan lain, khususnya kasus uang palsu di UIN Alauddin Makassar,"tegasnya melalui pesan whatsapp, Selasa (24/12/2024).
Keterlibatan alumni di HMJ Ilmu Ekonomi hanya berperan memberi saran dan masukan jika diperlukan. Hal ini disampaikan oleh A. Ismail ZM, alumni jurusan Ilmu Ekonomi angkatan 2018.
"Saran dan masukan itu tidaklah menjadi tuntutan ataupun tekanan kepada adik-adik pengurus HMJ Ilmu Ekonomi," ujarnya, Selasa (24/12/2024).
Klarifikasi Sekretaris Jurusan Ilmu Ekonomi
Kami mencoba mengkonfimasi langsung kepada Sekertaris Jurusan Ilmu Ekonomi, Aulia Rahman. Saat dihubungi melalui pesan whatsapp, ia pun meminta untuk bertemu langsung di ruang jurusan.
Pukul 16.00 WITA, kami menyambangi ruang jurusan Ilmu Ekonomi guna mengkonfirmasi beberapa pernyataan Sekjur Ilmu Ekonomi yang kami dapatkan.
Ia memamparkan bahwa selama sekitar seminggu di Kota Palembang, ada banyak laporan yang didapatkan terkait adanya beberapa oknum yang mencoba mengintervensi pemilihan mahasiswa.
"Ada intervensi dari mahasiswa yang mau jadi calon (Ketua Umum HMJ Ilmu Ekonomi), disuruh jangan maju,"ujarnya saat ditemui di ruang jurusan, Selasa (24/12/2024).
Oleh kerena itu, Sekjur Ilmu Ekonomi menduga proses pemilihan mahasiswa tidak sehat lagi karena intervensi beberapa pihak.
"Saya dengan Pak Baso (Katua Jurusan) tidak pernah campur aduk HMJ termasuk pemilihan (Ketua HMJ). Namun pasca mendengar laporan, saya pikir salah kalau begini ada intervensi," ungkapnya.
Ia juga mendapatkan laporan tentang ada seseorang sempat datang ke ruang jurusan Ilmu Ekonomi.
"Kemudian ada yang melapor, ada orang datang kesini bawa nama dan segala macam. Itukan tidak enak didengar itu. Seolah-olah ini anak-anak (HMJ) dipegang sama orang lain,"ungkapnya.
Kami coba menanyakan siapa orang dimaksud. Namun, Sekjur Ilmu Ekonomi menolak menyebutkan nama orangnya. Dari informasi yang kami dapatkan, diduga orang tersebut adalah Ketua IKA Ilmu Ekonomi, Zulkipli.
Lebih lanjut, Ia juga menyayangkan selama menjabat Sekjur Ilmu Ekonomi, kurangnya partisipasi dari HMJ Ilmu Ekonomi persoalan prestasi guna menunjang borang akreditasi.
Berbeda dengan organisasi kemahasiswaan eksternal seperti Forum Kajian Ekonomi Syariah (Forkeis) yang banyak memberi kontribusi berupa sertifikat penghargaan.
"Mereka yang dari Forkeis, mereka bawa datang kesini laporannya, sertifikatnya dan itu yang kami masukkan ke borang (akreditasi)," ungkapnya.
Ia menegaskan jika tidak mau berkoordinasi dengan pihak jurusan silahkan bikin sendiri (organanisasi), apapun namanya.
Kurangnya koordinasi dan kontribusi HMJ Ilmu Ekonomi membuat Sekjur Ilmu Ekonomi menduga bahwa ada intervensi dari berbagai pihak. Ia juha mengaku mengetahui afiliasi HMJ Ilmu Ekonomi dengan organisasi kemahasiswaan eksternal.
"Muncul dugaan saya, ini biasalah, kita ini kan bukan anak SMA, masalah ada intervensi barangkali. Saya tahukah afiliasinya adik-adik ini kemana, saya sudah petakan semua itu. Kita tahulah, tidak usah kita tutuplah, saya tidak mau sebut merek," tuturnya.
Terkait afiliasi kemana dan seperti apa bentuk afiliasinya tidak dijelaskan lebih lanjut.
"Jadi ada kecenredurannya adik-adik (HMJ Ilmu Ekonomi) selama ini itu digoreng. Mungkin masih ada intervensi dari si A si B, ormas yang saya sebut tadi, atau masuk di seniornya atau di alumni. Tidak apa-apa kalian belajar dari mereka yg positif,"tambahnya.
Menurutnya, HMJ Ilmu Ekonomi adalah milik bersama.
"Jangan kamu goreng ini HMJ Ilmu Ekonomi itu ke HMI , PMII, ke ormas tertentu, keseniormu, ke IKA, jangan!. Tampung semua mereka masuk ke HMJ, caranya dengan membawa ide-ide mereka yang positif bawa masuk, yang negatif jangan bawa masuk kesini (HMJ Ilmu Ekonomi)," sarannya.
"Jangan sampai kamu disetir oleh salah satunya di antara itu, kau tidak dengar kami di jurusan. Karena kalau kau dengar yang eksternal, hancur kau kalau begitu. Inikan lebih dominan didengar yang diluar," tambahnya.
Ia khawatir jika HMJ Ilmu Ekonomi berada dalam satu patron.
" Tolong diakomodasi semua untuk masuk disini (HMJ Ilmu Ekonomi). Mau dia kader HMI, PMII, yang penting bukan lembaga terlarang. Tampung semua mereka jangan bikin pemetaan. Gandeng semua orang yang punya prestasi," harapkan.
Kami kembali mencoba mempertanyakan seperti apa bentuk intervensi organisasi eksternal pada HMJ Ilmu Ekonomi. Sekjur Ilmu Ekonomi mengatakan bahwa hal itu susah untuk dibuktikan.
"Tidak enak kalau saya cerita vulgar yang seperti itu, bukan maki anak SMA mau dijelaskan begitu. Itukan memang kalau kita buktikan itu susah, ka bukanki orang baru juga ini belah,"tuturnya.
Sekjur Ilmu Ekonomi hanya mengatakan dari beberapa indikasi dan laporan yang diterima, ia menyimpulkan bahwa organisasi kemahasiswaan eksternal lebih didengarkan ketimbang pihak pimpina
"Makanya saya ambil hipotesis jangan sampai ini anana lebih banyak dengar eksternal dibanding dengan internal kita," tutupnya.