Apel Brimob Makassar: Dari Ancaman Dolar hingga BBM Naik, Dansat Ingatkan Semua Harus Siaga
Apel yang diikuti personel Makosat Brimob, Detasemen Gegana, dan Batalyon A Pelopor ini digelar untuk memastikan kesiapan personel serta sarana prasarana dalam menghadapi berbagai potensi dinamika keamanan dan dampak kondisi global.
Kombes Pol Muhammad Ridwan soroti dampak ekonomi global terhadap Indonesia, sekaligus memberi peringatan keras soal disiplin personel, narkoba, hingga pinjaman online.
Makassar, DNID.co.id — Pagi di halaman markas Detasemen Gegana di Jalan Sultan Alauddin, Kota Makassar, Rabu (11/03/2026), tidak sekadar menjadi rutinitas barisan polisi berseragam loreng. Di balik apel kesiapsiagaan itu, terselip pesan serius. Ancaman ekonomi global kini ikut masuk ke radar keamanan dalam negeri.
Satuan Brimob Polda Sulawesi Selatan menggelar apel besar yang melibatkan personel Makosat Brimob, Detasemen Gegana, hingga Batalyon A Pelopor. Apel ini dipimpin langsung Komandan Satuan Brimob Polda Sulsel, Kombes Pol Muhammad Ridwan.
Komandan Satuan Brimob Polda Sulawesi Selatan, Kombes Pol Muhammad Ridwan, memimpin apel kesiapsiagaan personel di Mako Detasemen Gegana Brimob Polda Sulsel, Jalan Sultan Alauddin, Kota Makassar
Dari podium komando, Ridwan tidak hanya berbicara soal kesiapan personel. Ia membuka gambaran yang lebih luas—bahwa perubahan ekonomi dunia bisa memicu efek domino yang sampai ke dapur masyarakat.
Dalam arahannya, Dansat Brimob mengingatkan bahwa kondisi global saat ini tidak bisa dianggap sepele.
Ia menyebut beberapa indikator yang perlu diwaspadai:
Kenaikan nilai Dolar AS
Lonjakan harga barang di pasar
Gejolak pasar modal
Dampak konflik dan perang di luar negeri
Semua faktor itu, kata Ridwan, berpotensi memberikan tekanan serius terhadap ekonomi Indonesia.
Di titik inilah pesan keamanan berubah menjadi sentilan ekonomi, ketika harga global bergerak naik, rakyat di dalam negeri yang pertama merasakan dampaknya.
Salah satu skenario yang diantisipasi adalah kemungkinan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM).
Ridwan mengingatkan bahwa perubahan harga energi sering memicu efek berantai—dari inflasi hingga potensi gejolak sosial.
Karena itu seluruh unit Brimob diminta memastikan kesiapan penuh.
“Selalu siap menghadapi lonjakan harga BBM yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Semua unit harus siap siaga ketika diminta, baik personel, sarana prasarana maupun regulasi yang berkaitan dengan tugas pokok,” tegasnya.
Pesan ini seolah menjadi pengingat bahwa setiap krisis ekonomi hampir selalu berujung pada satu pertanyaan klasik, siapa yang harus menjaga stabilitas ketika masyarakat mulai resah?
Jawabannya kembali ke aparat keamanan.
Namun apel ini tidak hanya bicara soal ancaman eksternal.
Di hadapan seluruh personel, Dansat Brimob juga menegaskan bahwa pelanggaran internal tidak akan ditoleransi.
Beberapa hal yang disorot secara khusus antara lain:
Penyalahgunaan narkoba
Perilaku menyimpang
Penyalahgunaan senjata
Jeratan pinjaman online
Ridwan mengingatkan bahwa integritas dan disiplin adalah fondasi utama institusi.
Dalam bahasa komando yang tegas, pesan itu jelas, aparat yang menjaga hukum tidak boleh tersandung oleh pelanggaran hukum itu sendiri.
Apel kesiapsiagaan yang digelar di Markas Detasemen Gegana ini pada dasarnya adalah kegiatan rutin. Namun isi arahannya menunjukkan satu hal penting, keamanan tidak lagi hanya soal ancaman fisik.
Kini faktor ekonomi global dari dolar hingga harga energi ikut masuk dalam perhitungan stabilitas nasional.
Dan ketika ekonomi dunia bergejolak, efeknya bukan hanya terasa di bursa saham.
Ia bisa sampai ke pasar tradisional, harga bahan pokok, hingga kantong rakyat.
Sementara aparat keamanan diminta tetap siaga, publik pun kembali diingatkan pada satu realitas lama, setiap krisis ekonomi hampir selalu meninggalkan pertanyaan yang sama siapa yang paling dulu merasakan dampaknya?
Jawabannya sering kali tetap sama, rakyat.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Apel Brimob Makassar: Dari Ancaman Dolar hingga BBM Naik, Dansat Ingatkan Semua Harus Siaga
RABU, 11 MARET 2026
Kombes Pol Muhammad Ridwan soroti dampak ekonomi global terhadap Indonesia, sekaligus memberi peringatan keras soal disiplin personel, narkoba, hingga pinjaman online.
Makassar, DNID.co.id — Pagi di halaman markas Detasemen Gegana di Jalan Sultan Alauddin, Kota Makassar, Rabu (11/03/2026), tidak sekadar menjadi rutinitas barisan polisi berseragam loreng. Di balik apel kesiapsiagaan itu, terselip pesan serius. Ancaman ekonomi global kini ikut masuk ke radar keamanan dalam negeri.
Satuan Brimob Polda Sulawesi Selatan menggelar apel besar yang melibatkan personel Makosat Brimob, Detasemen Gegana, hingga Batalyon A Pelopor. Apel ini dipimpin langsung Komandan Satuan Brimob Polda Sulsel, Kombes Pol Muhammad Ridwan.
Dari podium komando, Ridwan tidak hanya berbicara soal kesiapan personel. Ia membuka gambaran yang lebih luas—bahwa perubahan ekonomi dunia bisa memicu efek domino yang sampai ke dapur masyarakat.
Dalam arahannya, Dansat Brimob mengingatkan bahwa kondisi global saat ini tidak bisa dianggap sepele.
Ia menyebut beberapa indikator yang perlu diwaspadai:
Kenaikan nilai Dolar AS
Lonjakan harga barang di pasar
Gejolak pasar modal
Dampak konflik dan perang di luar negeri
Semua faktor itu, kata Ridwan, berpotensi memberikan tekanan serius terhadap ekonomi Indonesia.
Di titik inilah pesan keamanan berubah menjadi sentilan ekonomi, ketika harga global bergerak naik, rakyat di dalam negeri yang pertama merasakan dampaknya.
Salah satu skenario yang diantisipasi adalah kemungkinan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM).
Ridwan mengingatkan bahwa perubahan harga energi sering memicu efek berantai—dari inflasi hingga potensi gejolak sosial.
Karena itu seluruh unit Brimob diminta memastikan kesiapan penuh.
“Selalu siap menghadapi lonjakan harga BBM yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Semua unit harus siap siaga ketika diminta, baik personel, sarana prasarana maupun regulasi yang berkaitan dengan tugas pokok,” tegasnya.
Pesan ini seolah menjadi pengingat bahwa setiap krisis ekonomi hampir selalu berujung pada satu pertanyaan klasik, siapa yang harus menjaga stabilitas ketika masyarakat mulai resah?
Jawabannya kembali ke aparat keamanan.
Namun apel ini tidak hanya bicara soal ancaman eksternal.
Di hadapan seluruh personel, Dansat Brimob juga menegaskan bahwa pelanggaran internal tidak akan ditoleransi.
Beberapa hal yang disorot secara khusus antara lain:
Penyalahgunaan narkoba
Perilaku menyimpang
Penyalahgunaan senjata
Jeratan pinjaman online
Ridwan mengingatkan bahwa integritas dan disiplin adalah fondasi utama institusi.
Dalam bahasa komando yang tegas, pesan itu jelas, aparat yang menjaga hukum tidak boleh tersandung oleh pelanggaran hukum itu sendiri.
Apel kesiapsiagaan yang digelar di Markas Detasemen Gegana ini pada dasarnya adalah kegiatan rutin. Namun isi arahannya menunjukkan satu hal penting, keamanan tidak lagi hanya soal ancaman fisik.
Kini faktor ekonomi global dari dolar hingga harga energi ikut masuk dalam perhitungan stabilitas nasional.
Dan ketika ekonomi dunia bergejolak, efeknya bukan hanya terasa di bursa saham.
Ia bisa sampai ke pasar tradisional, harga bahan pokok, hingga kantong rakyat.
Sementara aparat keamanan diminta tetap siaga, publik pun kembali diingatkan pada satu realitas lama, setiap krisis ekonomi hampir selalu meninggalkan pertanyaan yang sama siapa yang paling dulu merasakan dampaknya?
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.