Makassar, DNID.co.id – Aksi peringatan tiga dekade tragedi April Makassar Berdarah (Amarah) yang digelar di depan Universitas Muslim Indonesia (UMI), Jumat (24/4/2026), berujung ricuh. Ketegangan muncul setelah mahasiswa menutup akses jalan dalam waktu cukup lama, memicu protes dari pengemudi ojek online (ojol) dan warga sekitar.
Situasi yang awalnya berupa unjuk rasa damai berubah menjadi bentrokan antara mahasiswa dan ojol. Kericuhan bahkan merembet hingga ke dalam area kampus.
Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, menjelaskan pihaknya mengamankan sejumlah mahasiswa untuk meredam situasi. “Bentrok terjadi sampai di dalam kampus, total ada 108 orang mahasiswa yang kami kumpulkan,” ujarnya saat doorstop di lobi Polrestabes Makassar, Minggu (26/4/2026).
Ia menambahkan, para mahasiswa yang diamankan langsung diberikan pengarahan bersama pihak kampus.
“Saat dikumpulkan ada wakil rektor yang memberikan pengarahan dan saya juga memberikan pengarahan kepada adik-adik mahasiswa,” lanjutnya.
Terkait beredarnya video viral yang memperlihatkan seorang pria berambut cepak di dalam kampus dan diduga sebagai anggota TNI, Arya membantah tegas.
“Saya pastikan tidak ada anggota TNI ataupun oknum anggota TNI yang kami amankan,” ucapnya.
Hasil penelusuran polisi menunjukkan bahwa sosok dalam video tersebut bukanlah aparat. “Saat kami lihat videonya dan kami melakukan profiling terhadap yang bersangkutan, mereka ternyata pelajar dua-duanya,” jelasnya.
Arya juga menegaskan bahwa tidak ada keterlibatan TNI dalam insiden tersebut. “Tidak ada anggota TNI yang kami amankan dan tidak ada anggota TNI yang melakukan tindakan-tindakan negatif di lapangan terkait dengan aksi unjuk rasa kemarin,” tegasnya.
Seluruh mahasiswa yang sempat diamankan telah dipulangkan pada Sabtu (25/4/2026) pagi sekitar pukul 05.30 WITA. Polisi memastikan kondisi mereka baik.
“Semuanya dalam keadaan sehat, selama mereka di sini tidak ada intimidasi, tidak ada juga perlakuan yang tidak menyenangkan,” tutup Arya.
























