Teknologi Pengemasan Dorong Kuliner Belitung Menjadi Produk UMKM Bernilai Tambah Berdaya Saing
BELITUNG, DNID.co.id — Gangan tumis khas Belitung mulai didorong keluar dari dapur rumah tangga menuju produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bernilai tambah. Melalui Program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) IPB University 2026, sekitar 30 pelaku UMKM dan masyarakat Desa Lassar, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung, diperkenalkan teknologi pengolahan ikan menggunakan kemasan pouch tahan panas, Rabu (26/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Desa Lassar itu dipimpin Dr. Ir. Bustami Ibrahim, M.Sc., dosen IPB University sekaligus putra asli Belitung. Program tersebut membawa teknologi dan pengetahuan perguruan tinggi langsung ke masyarakat untuk mengembangkan potensi hasil perikanan lokal.
Tidak sekadar mengajarkan cara memasak, pelatihan diarahkan pada bagaimana makanan tradisional dapat diolah menjadi produk yang lebih praktis, konsisten, dan memiliki peluang pasar lebih luas.
Gangan tumis menjadi salah satu produk yang dipraktikkan. Peserta mengikuti tahapan pengolahan mulai dari persiapan bahan baku, pembuatan bumbu, proses pemasakan, pengisian ke dalam pouch, penyegelan menggunakan vacuum sealer hingga pemanasan bertekanan.
Perubahan paling mencolok terletak pada bentuk produk. Gangan yang selama ini identik dengan sajian rumah tangga diperkenalkan dalam kemasan modern yang lebih ringan dan praktis untuk dibawa maupun didistribusikan.
Bustami menegaskan, inovasi tidak harus menghapus identitas kuliner lokal. Justru teknologi dapat digunakan untuk memperkuat nilai ekonomi makanan tradisional.
“Inovasi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat Desa Lassar untuk mengembangkan produk olahan ikan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” kata Bustami.
Namun, peluang bisnis tersebut tidak otomatis membuat produk siap dilempar ke pasar. Aspek keamanan pangan dan umur simpan menjadi pekerjaan penting yang harus dibuktikan melalui pengujian dan validasi lebih lanjut sebelum produksi komersial dilakukan secara luas.
Peserta juga dibekali pemahaman mengenai mutu bahan baku, higiene dan sanitasi, konsistensi proses produksi, kualitas penyegelan, serta tampilan kemasan. Faktor-faktor tersebut menjadi titik krusial bagi UMKM yang ingin mengubah produk rumahan menjadi komoditas yang mampu bertahan di pasar.
Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai. Teknologi pouch hanya menjadi alat. Keberhasilan pengembangan produk tetap bergantung pada kemampuan masyarakat menjaga standar produksi, memastikan keamanan pangan, menghitung biaya, membangun kemasan yang menarik, dan menciptakan pasar.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan Dinas Perikanan Kabupaten Belitung dan Pemerintah Desa Lassar. Pembukaan kegiatan dilakukan Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Belitung yang diwakili Kepala Bidang Usaha Perikanan, Susanto, S.Pi., M.Si.
Kepala Desa Lassar, Triska Arafad, S.Ag., turut mendukung program tersebut. Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dinilai penting agar inovasi tidak berhenti ketika pelatihan selesai.
Antusiasme peserta terlihat selama praktik berlangsung. Mereka terlibat langsung dalam proses pengolahan hingga pengemasan gangan tumis.
Bustami berharap pengetahuan yang dibawa melalui Dospulkam dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
“Ilmu pengetahuan akan lebih berarti ketika dapat kembali memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Program ini pada akhirnya menempatkan Desa Lassar di persimpangan penting: mempertahankan gangan sebagai warisan kuliner atau mendorongnya menjadi produk ekonomi baru. Jika pendampingan, pengujian keamanan, standar produksi, dan pemasaran dapat berjalan beriringan, gangan tumis bukan hanya makanan khas Belitung, tetapi berpeluang menjadi produk UMKM yang mampu menembus pasar lebih luas.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Teknologi Pengemasan Dorong Kuliner Belitung Menjadi Produk UMKM Bernilai Tambah Berdaya Saing
KAMIS, 27 AGUSTUS 2026
BELITUNG, DNID.co.id — Gangan tumis khas Belitung mulai didorong keluar dari dapur rumah tangga menuju produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bernilai tambah. Melalui Program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) IPB University 2026, sekitar 30 pelaku UMKM dan masyarakat Desa Lassar, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung, diperkenalkan teknologi pengolahan ikan menggunakan kemasan pouch tahan panas, Rabu (26/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Desa Lassar itu dipimpin Dr. Ir. Bustami Ibrahim, M.Sc., dosen IPB University sekaligus putra asli Belitung. Program tersebut membawa teknologi dan pengetahuan perguruan tinggi langsung ke masyarakat untuk mengembangkan potensi hasil perikanan lokal.
Tidak sekadar mengajarkan cara memasak, pelatihan diarahkan pada bagaimana makanan tradisional dapat diolah menjadi produk yang lebih praktis, konsisten, dan memiliki peluang pasar lebih luas.
Gangan tumis menjadi salah satu produk yang dipraktikkan. Peserta mengikuti tahapan pengolahan mulai dari persiapan bahan baku, pembuatan bumbu, proses pemasakan, pengisian ke dalam pouch, penyegelan menggunakan vacuum sealer hingga pemanasan bertekanan.
Perubahan paling mencolok terletak pada bentuk produk. Gangan yang selama ini identik dengan sajian rumah tangga diperkenalkan dalam kemasan modern yang lebih ringan dan praktis untuk dibawa maupun didistribusikan.
Bustami menegaskan, inovasi tidak harus menghapus identitas kuliner lokal. Justru teknologi dapat digunakan untuk memperkuat nilai ekonomi makanan tradisional.
“Inovasi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat Desa Lassar untuk mengembangkan produk olahan ikan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” kata Bustami.
Namun, peluang bisnis tersebut tidak otomatis membuat produk siap dilempar ke pasar. Aspek keamanan pangan dan umur simpan menjadi pekerjaan penting yang harus dibuktikan melalui pengujian dan validasi lebih lanjut sebelum produksi komersial dilakukan secara luas.
Peserta juga dibekali pemahaman mengenai mutu bahan baku, higiene dan sanitasi, konsistensi proses produksi, kualitas penyegelan, serta tampilan kemasan. Faktor-faktor tersebut menjadi titik krusial bagi UMKM yang ingin mengubah produk rumahan menjadi komoditas yang mampu bertahan di pasar.
Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai. Teknologi pouch hanya menjadi alat. Keberhasilan pengembangan produk tetap bergantung pada kemampuan masyarakat menjaga standar produksi, memastikan keamanan pangan, menghitung biaya, membangun kemasan yang menarik, dan menciptakan pasar.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan Dinas Perikanan Kabupaten Belitung dan Pemerintah Desa Lassar. Pembukaan kegiatan dilakukan Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Belitung yang diwakili Kepala Bidang Usaha Perikanan, Susanto, S.Pi., M.Si.
Kepala Desa Lassar, Triska Arafad, S.Ag., turut mendukung program tersebut. Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dinilai penting agar inovasi tidak berhenti ketika pelatihan selesai.
Antusiasme peserta terlihat selama praktik berlangsung. Mereka terlibat langsung dalam proses pengolahan hingga pengemasan gangan tumis.
Bustami berharap pengetahuan yang dibawa melalui Dospulkam dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
“Ilmu pengetahuan akan lebih berarti ketika dapat kembali memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Program ini pada akhirnya menempatkan Desa Lassar di persimpangan penting: mempertahankan gangan sebagai warisan kuliner atau mendorongnya menjadi produk ekonomi baru. Jika pendampingan, pengujian keamanan, standar produksi, dan pemasaran dapat berjalan beriringan, gangan tumis bukan hanya makanan khas Belitung, tetapi berpeluang menjadi produk UMKM yang mampu menembus pasar lebih luas.