Dari Sendangdawuhan, Konveksi Jeans Lokal Pasarkan Produk hingga Aceh

KENDAL, DNID.co.id – Industri konveksi di Desa Sendangdawuhan, Kabupaten Kendal, mampu menunjukkan daya saing produk lokal dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 3.000 celana jeans per minggu. Dengan dukungan sekitar 45 pekerja, produk konveksi tersebut dipasarkan hingga berbagai daerah di luar Pulau Jawa, termasuk Sumatera dan Aceh.

Potensi usaha tersebut diketahui dalam kunjungan mahasiswa UIN Walisongo Semarang ke salah satu industri konveksi jeans di Desa Sendangdawuhan, Kamis (3/9/2026). Kunjungan dilakukan untuk menggali informasi mengenai perjalanan usaha, kapasitas produksi, tenaga kerja, strategi pemasaran, serta tantangan yang dihadapi pelaku industri lokal.

Pemilik konveksi menuturkan, dirinya telah berkecimpung dalam produksi jeans selama sekitar 17 tahun. Sementara itu, usaha konveksi yang kini beroperasi di Desa Sendangdawuhan mulai dijalankan sejak 2017.

Seiring perkembangan usaha, jumlah tenaga kerja bertambah hingga sekitar 45 orang. Dalam satu pekan, produksi dapat mencapai 3.000 celana jeans yang kemudian didistribusikan ke berbagai wilayah, termasuk pasar di luar Pulau Jawa.

“Pengiriman rata-rata ke luar Jawa, seperti Sumatera sampai Aceh,” jelas pemilik konveksi.

Menurutnya, pemahaman terhadap karakteristik pasar menjadi salah satu kunci dalam mengembangkan usaha konveksi. Setiap daerah memiliki kebutuhan dan karakter konsumen yang berbeda sehingga pelaku usaha perlu memahami target pasar sebelum menentukan produk yang akan dipasarkan.

“Harus melihat target market sebelum memulai usaha, karena tiap daerah berbeda,” ungkapnya.

Pemahaman tersebut kemudian menjadi dasar dalam menentukan produk sekaligus strategi pemasaran. Selain mengandalkan penjualan secara langsung, konveksi tersebut mulai memanfaatkan pemasaran digital untuk memperluas jangkauan konsumen.

Produk jeans dipasarkan dengan merek Oxygess dan mulai dikembangkan melalui kanal penjualan online. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya usaha untuk mengikuti perubahan pola pemasaran sekaligus menjangkau konsumen yang lebih luas.

Perjalanan membangun usaha selama belasan tahun juga tidak terlepas dari berbagai risiko. Pemilik konveksi mengaku pernah mengalami kerugian sekitar Rp30 juta setelah menjadi korban penipuan.

Meski mengalami kerugian, peristiwa tersebut tidak menghentikan aktivitas usahanya. Pengalaman itu justru menjadi pelajaran agar lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi maupun menjalin kerja sama dengan pihak lain.

Bagi pemilik, berbagai tantangan selama menjalankan usaha merupakan bagian dari proses untuk terus belajar dan memperbaiki pengelolaan bisnis. Pengalaman tersebut turut membentuk cara dalam mengambil keputusan, membaca pasar, dan mengelola risiko usaha.

Dengan kapasitas produksi sekitar 3.000 celana setiap minggu dan jaringan pemasaran hingga luar Jawa, keberadaan industri konveksi jeans di Sendangdawuhan menunjukkan bahwa usaha lokal mampu berkembang melampaui pasar di wilayahnya sendiri.

Kunjungan tersebut juga memberikan gambaran langsung mengenai pengelolaan industri lokal, mulai dari proses produksi, pengelolaan tenaga kerja, pemetaan target pasar, pemasaran digital, hingga cara menghadapi risiko dalam berbisnis.

Keberadaan konveksi jeans di Sendangdawuhan menjadi salah satu contoh potensi industri masyarakat desa yang mampu berkembang dan menjangkau pasar antardaerah. Dari Kendal, produk jeans tersebut bahkan telah dipasarkan hingga Sumatera dan Aceh.

Simpan sebagai Kenangan

Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.

Simpan Gambar:

Jumat, 4 September 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Penulis: Imam Aqil Macca

Editor: Arya Krida

Sumber Berita: Mahasiswa KKN Posko 163 UIN Walisongo Semarang

Menghubungkan ke server...
Simpan Gambar:

Berita Terkait

Sulsel Jadi Provinsi Luar Jawa dengan Penyelenggaraan Sekolah Rakyat Terbanyak
Upacara Sumpah Pemuda di Athirah, Siswa Belajar Kepemimpinan dan Tanggung Jawab
Menelusuri Jejak Lintas Laut, Alumni FIB Unhas Bedah Hubungan Bugis Makassar–Melayu Pahang
Pimpin Upacara Hari Santri 2026, Munafri: Santri Punya Peran Strategis Bangun Negeri
Semarak Hari Santri 2026, Siswa MA YMPI Rappang Tuangkan Kreativitas Lewat Mading
Santri MAN 2 Parepare Gelar Lomba Pidato dan Cerdas Cermat Fikih, Semarakkan Hari Santri Nasional 2026
Cegah Tawuran Anak Muda, Disdik Makassar Berikan Beasiswa untuk Siswa Lanjut Sekolah
BPK Bongkar Rp2,7 Miliar KIP-Kuliah Disalurkan kepada 320 Mahasiswa yang Telah Meninggal
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:13 WITA

Sulsel Jadi Provinsi Luar Jawa dengan Penyelenggaraan Sekolah Rakyat Terbanyak

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:03 WITA

Upacara Sumpah Pemuda di Athirah, Siswa Belajar Kepemimpinan dan Tanggung Jawab

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:31 WITA

Menelusuri Jejak Lintas Laut, Alumni FIB Unhas Bedah Hubungan Bugis Makassar–Melayu Pahang

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:00 WITA

Pimpin Upacara Hari Santri 2026, Munafri: Santri Punya Peran Strategis Bangun Negeri

Kamis, 22 Oktober 2026 - 22:29 WITA

Semarak Hari Santri 2026, Siswa MA YMPI Rappang Tuangkan Kreativitas Lewat Mading

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:51 WITA

Santri MAN 2 Parepare Gelar Lomba Pidato dan Cerdas Cermat Fikih, Semarakkan Hari Santri Nasional 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:00 WITA

Cegah Tawuran Anak Muda, Disdik Makassar Berikan Beasiswa untuk Siswa Lanjut Sekolah

Rabu, 21 Oktober 2026 - 00:23 WITA

BPK Bongkar Rp2,7 Miliar KIP-Kuliah Disalurkan kepada 320 Mahasiswa yang Telah Meninggal

Berita Terbaru

Peristiwa

Polisi Hadir, Ancaman Lalu Lintas Pelajar Diantisipasi

Senin, 2 Nov 2026 - 11:16 WITA