Jembatan baja 21 tahun keropos dan kerap dilalui muatan over kapasitas, sementara Dermaga II dinilai tak lagi memenuhi standar ASDP terpaksa alihkan seluruh Penyeberangan ke Siwa
Bone, DNID.co.id — Manajemen ASDP Indonesia Ferry Cabang Bajoe memastikan pengalihan sementara lintasan penyeberangan Bajoe–Kolaka ke Pelabuhan Siwa–Kolaka mulai 1 Mei 2026.
Kebijakan ini diambil menyusul rencana pembongkaran total movable bridge di Dermaga 1 Pelabuhan Bajoe yang dinilai sudah tidak layak secara teknis dan keselamatan.
General Manager ASDP Cabang Bajoe, Anom Sedayu melalui Head Operasional Dedi menjelaskan, komponen utama yang akan diganti adalah jembatan baja naik-turun (movable bridge) di Pelabuhan Bajoe.
“Di dermaga 1 itu ada jembatan baja yang naik turun, namanya movable bridge. Itu akan kami bongkar total dan diganti baru karena bajanya sudah korosi, keropos, dan melewati usia teknis, sudah 21 tahun,” ujar Dedi Kamis (30/04/2026).
Selain faktor usia, kapasitas jembatan juga dinilai tidak lagi sesuai dengan beban operasional saat ini. Awalnya, jembatan tersebut hanya dirancang menahan beban maksimal 30 ton, namun dalam praktiknya sering dilalui kendaraan dengan muatan melebihi kapasitas tersebut.
“Kapasitas desain awalnya 30 ton, sekarang terkadang masuk sampai di atas 30 ton. Makanya kami ganti dengan yang baru kapasitas 50 ton. Otomatis struktur, termasuk hidrolik, harus lebih besar dan lebih tebal,” jelasnya.
Perbaikan dijadwalkan mulai 1 Mei dan ditargetkan rampung pada 1 Juli 2026. Namun, pihak ASDP menyatakan akan mengoptimalkan pekerjaan agar bisa selesai lebih cepat.
“Target kami Satu bulan, tapi kami upayakan selesai dalam dua minggu dengan tetap memperhatikan kualitas, kuantitas, dan keselamatan,” tegasnya.
Dedi menambahkan, proyek ini bukan keputusan mendadak. Perencanaan sudah dilakukan sejak 2023 melalui serangkaian asesmen teknis dan proses perizinan yang cukup panjang, termasuk izin pengalihan lintasan penyeberangan.
“Perencanaan sudah lama. Yang lama itu justru proses izinnya, termasuk penentuan pemindahan layanan,” katanya.
Terkait pelaksanaan proyek, pekerjaan dilakukan oleh kontraktor dari Jakarta. Namun, pihak ASDP belum membuka nilai anggaran proyek tersebut.
Pemilihan Pelabuhan Siwa sebagai pelabuhan alternatif disebut bukan tanpa pertimbangan. Menurut Dedi, hingga saat ini belum ada pelabuhan lain di Sulawesi Selatan yang memiliki spesifikasi sandar kapal Ro-Ro seperti Bajoe.
“Di Sulsel kami belum menemukan pelabuhan yang bisa disandari kapal Ro-Ro seperti di Bajoe. Di Siwa itu sistem sandarnya sama, depan-belakang,” jelasnya.
Ia juga menyinggung opsi Pelabuhan Garongkong (Pelabuhan Andi Mattalatta), namun dinilai tidak sesuai.
“Di Garongkong sandarnya samping, sementara di Bajoe itu depan-belakang. Yang paling cocok hanya Siwa,” tambahnya.
Untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan dan penumpang di Siwa, ASDP menerapkan sistem dua sif operasional. Lintasan Siwa–Tobaku akan beroperasi pagi hingga sore, sementara Siwa–Kolaka dilayani malam hingga pagi.
“Kami juga turunkan tim ke Siwa untuk membantu kelancaran operasional di sana,” kata Dedi.
Selain itu, pengawasan muatan kendaraan akan diperketat dengan batas maksimal tetap 30 ton selama masa transisi, guna mencegah risiko keselamatan.
ASDP juga menyampaikan bahwa pengalihan ini bertujuan untuk menjaga keselamatan dan kelancaran operasional penyeberangan selama proses perbaikan berlangsung.
Adapun armada kapal yang akan melayani lintasan Siwa–Kolaka selama masa pengalihan meliputi KMP Mishima, KMP Fais, KMP Masagena, KMP Raja Dilaut, KMP Kota Bumi, dan KMP Permata NST.
Pelabuhan Bajoe sendiri memiliki dua dermaga. Namun, opsi penggunaan dermaga kedua tidak diambil karena kondisi struktur yang sudah tidak memenuhi standar.
“Dermaga kedua sudah tidak layak digunakan. Selain struktur tidak memenuhi standar, juga dangkal. Saat kapal penuh, baling-baling mengaduk lumpur dan itu sudah disaksikan masyarakat,” ungkap Dedi.
Dengan kondisi tersebut, pengalihan ke Siwa dinilai sebagai langkah paling aman dan realistis selama proses perbaikan berlangsung.
ASDP menegaskan, langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan jangka panjang operasional penyeberangan, sekaligus meningkatkan kapasitas layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan saat ini hingga kedepannya.
























