LMR-RI Laporkan Disbud Bone ke Kejaksaan, Uang Gau’ Maraja Rp1,5 M Diduga Tak Jelas
LMR-RI menyoroti kejanggalan anggaran Gau’ Maraja. Rp1,5 miliar APBD dipertanyakan, sementara sejumlah pihak ketiga dikabarkan belum menerima honor. Jika LPJ sudah dibuat, bagaimana penggunaan anggaran itu dipertanggungjawabkan? Kejaksaan didesak mengungkap fakta di baliknya.
Bone, DNID.co.id – Bau busuk anggaran Festival Budaya Gau’ Maraja mulai tercium. Lembaga Missi Reclasseering Republik Indonesia (LMR-RI) Sulsel resmi menyeret Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone ke Kejaksaan Negeri Bone, Senin (26/10/2026).
Yang dilaporkan bukan kaleng-kaleng. Ada Rp1,5 Miliar uang rakyat yang diduga bermasalah dan tidak jelas peruntukannya.
Ketua Tim Investigasi LMR-RI Sulsel, Firmanlikind mengungkap, total anggaran Gau’ Maraja yang digelontorkan mencapai Rp2,2 Miliar. Rinciannya, Rp700 Juta dari APBN dan Rp1,5 Miliar dari APBD Bone.
Anehnya, kata Firman, dari total anggaran jumbo itu, yang dipakai untuk seluruh rangkaian kegiatan di 9 titik hanya Rp700 Juta yang bersumber dari APBN.
“Lalu yang Rp1,5 Miliar dari APBD itu ke mana? Itu yang kami pertanyakan. Anggaran sudah ada, LPJ-nya sudah dibuat, tapi peruntukannya tidak jelas,” tegas Firman.
Firman mengaku sudah berupaya tabayyun langsung ke Kepala Dinas Kebudayaan Bone. Namun, jawaban yang didapat justru bikin kecurigaan makin tebal.
Kadis lalu melempar ke Kepala Bidang, Andi Irfan. Naas, keduanya kompak tidak mampu menjelaskan.
“Saat saya temui, keduanya tidak mampu menjelaskan ke mana dan digunakan untuk apa anggaran tersebut, padahal sudah dianggarkan dan sudah dibuatkan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ),” ungkapnya.
Ini yang menjadi dasar LMR-RI melapor. Ada indikasi kuat LPJ asal jadi, sementara uangnya diduga menguap.
Fakta pedis lainnya terkuak di lapangan. Sejumlah pihak ketiga yang terlibat menyukseskan Gau’ Maraja di 9 titik wilayah Bone dikabarkan belum menerima honor hingga hari ini.
Padahal, festival yang mengangkat kekayaan tradisi Bugis, sejarah, dan pangan lokal itu sudah selesai beberapa waktu lalu. Berbagai pertunjukan seni, kirab, hingga ritual adat sudah digelar megah.
Ironis. Anggaran miliaran sudah cair dan di-LPJ-kan, tapi honor pekerja seni, vendor, dan pekerja lapangan yang banting tulang di 9 titik diduga belum dibayarkan.
“Ini kan lucu. Uang sudah ada, LPJ sudah beres, tapi honor pihak ketiga belum dibayar. Ada apa? Ke mana larinya Rp1,5 Miliar itu?” sentil Firman.
Hingga berita ini ditayangkan, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone Andi Murni yang dikonfirmasi DNID.co.id tidak merespon. Tidak ada klarifikasi, tidak ada penjelasan.
LMR-RI mendesak Kejaksaan Negeri Bone tidak tutup mata. Audit total anggaran Gau’ Maraja harus segera dilakukan.
“Kejaksaan harus bongkar. Periksa aliran dana Rp1,5 Miliar itu. Jangan sampai pesta budaya jadi bancakan anggaran. Kalau honor rakyat kecil saja belum dibayar, patut diduga ada yang tidak beres,” pungkasnya.
Festival Gau’ Maraja seharusnya jadi kebanggaan budaya Bugis Bone. Bukan jadi panggung dugaan korupsi anggaran.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
LMR-RI Laporkan Disbud Bone ke Kejaksaan, Uang Gau' Maraja Rp1,5 M Diduga Tak Jelas
SENIN, 26 OKTOBER 2026
LMR-RI menyoroti kejanggalan anggaran Gau' Maraja. Rp1,5 miliar APBD dipertanyakan, sementara sejumlah pihak ketiga dikabarkan belum menerima honor. Jika LPJ sudah dibuat, bagaimana penggunaan anggaran itu dipertanggungjawabkan? Kejaksaan didesak mengungkap fakta di baliknya.
Bone, DNID.co.id - Bau busuk anggaran Festival Budaya Gau' Maraja mulai tercium. Lembaga Missi Reclasseering Republik Indonesia (LMR-RI) Sulsel resmi menyeret Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone ke Kejaksaan Negeri Bone, Senin (26/10/2026).
Yang dilaporkan bukan kaleng-kaleng. Ada Rp1,5 Miliar uang rakyat yang diduga bermasalah dan tidak jelas peruntukannya.
Ketua Tim Investigasi LMR-RI Sulsel, Firmanlikind mengungkap, total anggaran Gau' Maraja yang digelontorkan mencapai Rp2,2 Miliar. Rinciannya, Rp700 Juta dari APBN dan Rp1,5 Miliar dari APBD Bone.
Anehnya, kata Firman, dari total anggaran jumbo itu, yang dipakai untuk seluruh rangkaian kegiatan di 9 titik hanya Rp700 Juta yang bersumber dari APBN.
"Lalu yang Rp1,5 Miliar dari APBD itu ke mana? Itu yang kami pertanyakan. Anggaran sudah ada, LPJ-nya sudah dibuat, tapi peruntukannya tidak jelas," tegas Firman.
Firman mengaku sudah berupaya tabayyun langsung ke Kepala Dinas Kebudayaan Bone. Namun, jawaban yang didapat justru bikin kecurigaan makin tebal.
Kadis lalu melempar ke Kepala Bidang, Andi Irfan. Naas, keduanya kompak tidak mampu menjelaskan.
"Saat saya temui, keduanya tidak mampu menjelaskan ke mana dan digunakan untuk apa anggaran tersebut, padahal sudah dianggarkan dan sudah dibuatkan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ)," ungkapnya.
Ini yang menjadi dasar LMR-RI melapor. Ada indikasi kuat LPJ asal jadi, sementara uangnya diduga menguap.
Fakta pedis lainnya terkuak di lapangan. Sejumlah pihak ketiga yang terlibat menyukseskan Gau' Maraja di 9 titik wilayah Bone dikabarkan belum menerima honor hingga hari ini.
Padahal, festival yang mengangkat kekayaan tradisi Bugis, sejarah, dan pangan lokal itu sudah selesai beberapa waktu lalu. Berbagai pertunjukan seni, kirab, hingga ritual adat sudah digelar megah.
Ironis. Anggaran miliaran sudah cair dan di-LPJ-kan, tapi honor pekerja seni, vendor, dan pekerja lapangan yang banting tulang di 9 titik diduga belum dibayarkan.
"Ini kan lucu. Uang sudah ada, LPJ sudah beres, tapi honor pihak ketiga belum dibayar. Ada apa? Ke mana larinya Rp1,5 Miliar itu?" sentil Firman.
Hingga berita ini ditayangkan, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone Andi Murni yang dikonfirmasi DNID.co.id tidak merespon. Tidak ada klarifikasi, tidak ada penjelasan.
LMR-RI mendesak Kejaksaan Negeri Bone tidak tutup mata. Audit total anggaran Gau' Maraja harus segera dilakukan.
"Kejaksaan harus bongkar. Periksa aliran dana Rp1,5 Miliar itu. Jangan sampai pesta budaya jadi bancakan anggaran. Kalau honor rakyat kecil saja belum dibayar, patut diduga ada yang tidak beres," pungkasnya.
Festival Gau' Maraja seharusnya jadi kebanggaan budaya Bugis Bone. Bukan jadi panggung dugaan korupsi anggaran.