Kejang-kejang Hingga Kritis, Dokter di RS Tadjuddin Baru Datang Setelah Korban Meninggal
Makassar,DNID.co.id – Seorang bocah perempuan berusia 4 tahun 8 bulan bernama Aurelia Amaseira meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUP Dr. Tadjuddin Chalid Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (25/10/2026).
Pihak keluarga menduga adanya persoalan dalam penanganan medis yang diterima korban dan meminta kepolisian turun tangan menyelidiki kejadian tersebut.
Tante korban, Febi Mustika, mengungkapkan bahwa Aurelia awalnya dibawa ke rumah sakit karena mengalami demam tinggi. Menurutnya, kondisi keponakannya masih relatif baik ketika pertama kali masuk untuk mendapatkan perawatan.
Namun, keluarga mengaku panik setelah Aurelia mengalami kejang-kejang usai mendapatkan obat yang diberikan melalui tenaga perawat sekitar pukul 06.00 WITA.
Keluarga mengaku tidak mengetahui jenis obat yang diberikan maupun penyebab pasti kejang yang dialami korban. Mereka berharap dokter segera memeriksa kondisi Aurelia dan memberikan penanganan medis yang diperlukan.
Kondisinya baik-baik saja saat masuk karena demam tinggi. Setelah diberikan obat, langsung kejang-kejang. Kami tidak tahu obat apa yang diberikan,” ungkap Febi.
Setelah Aurelia mengalami kejang-kejang, keluarga berupaya meminta bantuan agar dokter yang bertanggung jawab segera dihubungi.
Namun, berdasarkan pengakuan Febi, keluarga justru mendapat jawaban bahwa dokter tidak bisa diganggu ketika mereka meminta dokter segera datang untuk memeriksa kondisi pasien.
Febi juga mengungkapkan bahwa saat keluarga kembali berupaya menghubungi tenaga perawat, mereka mendapat jawaban bahwa perawat tersebut sedang sibuk.
Kondisi itu membuat keluarga semakin khawatir. Mereka menilai Aurelia membutuhkan penanganan segera karena mengalami kejang-kejang setelah sebelumnya dirawat akibat demam tinggi.
Keluarga mempertanyakan respons pelayanan medis yang mereka alami, terutama ketika kondisi pasien anak dilaporkan semakin memburuk.
Bagi keluarga, kehadiran dokter sangat diharapkan untuk memastikan kondisi Aurelia, mengetahui penyebab kejang, dan menentukan tindakan medis yang diperlukan.
Kekecewaan keluarga semakin mendalam setelah Aurelia dilaporkan meninggal dunia sekitar pukul 18.00 WITA.
Febi menyebut dokter yang mereka harapkan menangani keponakannya baru datang setelah Aurelia meninggal dunia.
Pengakuan tersebut menjadi salah satu hal yang dipertanyakan keluarga. Mereka ingin mengetahui mengapa dokter yang diharapkan dapat memberikan penanganan belum datang ketika Aurelia mengalami kondisi yang mereka nilai kritis.
Keluarga juga mempertanyakan langkah-langkah medis yang dilakukan sejak pasien pertama kali masuk rumah sakit, menerima obat, mengalami kejang-kejang, hingga akhirnya meninggal dunia.
Menurut keluarga, Aurelia awalnya dibawa ke rumah sakit dengan harapan mendapatkan perawatan atas demam tinggi yang dialaminya. Mereka tidak menyangka kondisi tersebut berakhir dengan kehilangan nyawa.
Hingga saat ini pihak RS Tadjuddin belum memberikan keterangan resmi terkait kasus tersebut.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Kejang-kejang Hingga Kritis, Dokter di RS Tadjuddin Baru Datang Setelah Korban Meninggal
MINGGU, 25 OKTOBER 2026
Makassar,DNID.co.id - Seorang bocah perempuan berusia 4 tahun 8 bulan bernama Aurelia Amaseira meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUP Dr. Tadjuddin Chalid Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (25/10/2026).
Pihak keluarga menduga adanya persoalan dalam penanganan medis yang diterima korban dan meminta kepolisian turun tangan menyelidiki kejadian tersebut.
Tante korban, Febi Mustika, mengungkapkan bahwa Aurelia awalnya dibawa ke rumah sakit karena mengalami demam tinggi. Menurutnya, kondisi keponakannya masih relatif baik ketika pertama kali masuk untuk mendapatkan perawatan.
Namun, keluarga mengaku panik setelah Aurelia mengalami kejang-kejang usai mendapatkan obat yang diberikan melalui tenaga perawat sekitar pukul 06.00 WITA.
Keluarga mengaku tidak mengetahui jenis obat yang diberikan maupun penyebab pasti kejang yang dialami korban. Mereka berharap dokter segera memeriksa kondisi Aurelia dan memberikan penanganan medis yang diperlukan.
Kondisinya baik-baik saja saat masuk karena demam tinggi. Setelah diberikan obat, langsung kejang-kejang. Kami tidak tahu obat apa yang diberikan," ungkap Febi.
Setelah Aurelia mengalami kejang-kejang, keluarga berupaya meminta bantuan agar dokter yang bertanggung jawab segera dihubungi.
Namun, berdasarkan pengakuan Febi, keluarga justru mendapat jawaban bahwa dokter tidak bisa diganggu ketika mereka meminta dokter segera datang untuk memeriksa kondisi pasien.
Febi juga mengungkapkan bahwa saat keluarga kembali berupaya menghubungi tenaga perawat, mereka mendapat jawaban bahwa perawat tersebut sedang sibuk.
Kondisi itu membuat keluarga semakin khawatir. Mereka menilai Aurelia membutuhkan penanganan segera karena mengalami kejang-kejang setelah sebelumnya dirawat akibat demam tinggi.
Keluarga mempertanyakan respons pelayanan medis yang mereka alami, terutama ketika kondisi pasien anak dilaporkan semakin memburuk.
Bagi keluarga, kehadiran dokter sangat diharapkan untuk memastikan kondisi Aurelia, mengetahui penyebab kejang, dan menentukan tindakan medis yang diperlukan.
Kekecewaan keluarga semakin mendalam setelah Aurelia dilaporkan meninggal dunia sekitar pukul 18.00 WITA.
Febi menyebut dokter yang mereka harapkan menangani keponakannya baru datang setelah Aurelia meninggal dunia.
Pengakuan tersebut menjadi salah satu hal yang dipertanyakan keluarga. Mereka ingin mengetahui mengapa dokter yang diharapkan dapat memberikan penanganan belum datang ketika Aurelia mengalami kondisi yang mereka nilai kritis.
Keluarga juga mempertanyakan langkah-langkah medis yang dilakukan sejak pasien pertama kali masuk rumah sakit, menerima obat, mengalami kejang-kejang, hingga akhirnya meninggal dunia.
Menurut keluarga, Aurelia awalnya dibawa ke rumah sakit dengan harapan mendapatkan perawatan atas demam tinggi yang dialaminya. Mereka tidak menyangka kondisi tersebut berakhir dengan kehilangan nyawa.
Hingga saat ini pihak RS Tadjuddin belum memberikan keterangan resmi terkait kasus tersebut.