Bone Memanggil Pulang: Dari Usaha Besar di Papua, Rahmat Hidayat Rintis Industri Kelapa di Tanah Kelahiran
Bone, DNID.co.id – Tidak semua orang berani meninggalkan usaha besar yang sudah mapan di tanah rantau. Rahmat Hidayat berani.
Pria kelahiran 28 Juni 2002 ini memilih lipat koper dari Papua, tempat ia bertahun-tahun ditempa kerasnya pedalaman dengan bisnis yang sarat risiko, untuk pulang ke Bone. Bukan karena gagal, tapi karena panggilan hati.
“Intinya, saya pulang karena merasa damai dan nyaman di Bone. Di sini ada keluarga dan orang-orang terdekat yang menjadi support system terbaik bagi saya. Di Papua saya belajar bertahan hidup, di Bone saya ingin belajar menghidupi orang lain,” ujar Rahmat kepada, Minggu (25/10/2026).
Perjalanan Rahmat bukan instan. Di usia yang masih sangat muda, ia sudah merantau jauh ke pedalaman Papua. Di sana ia belajar arti memimpin tim dalam tekanan, mengelola usaha dalam keterbatasan, dan mengambil keputusan di tengah risiko.
Modal itu yang kini ia bawa pulang. Bukan uang semata, tapi mental pejuang.
“Pengalaman di Papua akan saya terapkan di sini, tetapi setiap daerah punya cara memimpin tim yang berbeda. Kalau perlu penyesuaian, tentu akan kami lakukan. Saya tidak datang sebagai bos, saya datang sebagai teman yang ingin tumbuh bersama,” katanya.
Dan ia membuktikan ucapannya. Usaha barunya, CV Arbon Utama 77 yang bergerak di kopra dan arang batok kelapa, ia rintis dengan mengajak teman-teman masa sekolahnya sendiri. Ia ingin lapangan kerja itu tumbuh dari lingkar pertemanan, dari tanah kelahirannya sendiri.
Pilihan jatuh ke kelapa bukan kebetulan. Bagi Rahmat, kelapa adalah jembatan antara perjuangan petani dan masa depan industri.
Langkahnya sejalan dengan program hilirisasi kelapa nasional yang digaungkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Pemerintah menargetkan 151.554 hektare kawasan hilirisasi kelapa pada 2026 dan ingin Indonesia berhenti ekspor mentah. Harga kelapa bulat bahkan sudah naik dari Rp600 menjadi Rp3.500 per butir sejak program ini berjalan.
“Kelapa sejalan dengan program hilirisasi pemerintah. Saya ingin hadir membangun industri di sekitar petani agar nilai tambahnya dirasakan langsung oleh mereka, bukan oleh tengkulak luar. Petani Bone harus sejahtera di tanahnya sendiri,” tegas Rahmat.
Melalui CV Arbon Utama 77, ia ingin hasil kebun petani Bone diolah menjadi kopra dan arang batok bernilai ekspor, sehingga uangnya berputar di Bone, pekerjanya orang Bone.
Di balik keputusan besar itu, ada dukungan yang tak ternilai. Orang tua, pasangan, dan sahabat menjadi alasan utamanya untuk yakin.
“Dukungan mereka membuat saya lebih percaya diri menjalankan usaha ini. Bone memanggil saya pulang bukan untuk istirahat, tapi untuk bekerja lebih keras lagi, kali ini untuk kampung halaman,” tutupnya.
Dari Papua ia belajar bertahan, di Bone ia ingin belajar memberi arti.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Bone Memanggil Pulang: Dari Usaha Besar di Papua, Rahmat Hidayat Rintis Industri Kelapa di Tanah Kelahiran
MINGGU, 25 OKTOBER 2026
Bone, DNID.co.id - Tidak semua orang berani meninggalkan usaha besar yang sudah mapan di tanah rantau. Rahmat Hidayat berani.
Pria kelahiran 28 Juni 2002 ini memilih lipat koper dari Papua, tempat ia bertahun-tahun ditempa kerasnya pedalaman dengan bisnis yang sarat risiko, untuk pulang ke Bone. Bukan karena gagal, tapi karena panggilan hati.
"Intinya, saya pulang karena merasa damai dan nyaman di Bone. Di sini ada keluarga dan orang-orang terdekat yang menjadi support system terbaik bagi saya. Di Papua saya belajar bertahan hidup, di Bone saya ingin belajar menghidupi orang lain," ujar Rahmat kepada, Minggu (25/10/2026).
Perjalanan Rahmat bukan instan. Di usia yang masih sangat muda, ia sudah merantau jauh ke pedalaman Papua. Di sana ia belajar arti memimpin tim dalam tekanan, mengelola usaha dalam keterbatasan, dan mengambil keputusan di tengah risiko.
Modal itu yang kini ia bawa pulang. Bukan uang semata, tapi mental pejuang.
"Pengalaman di Papua akan saya terapkan di sini, tetapi setiap daerah punya cara memimpin tim yang berbeda. Kalau perlu penyesuaian, tentu akan kami lakukan. Saya tidak datang sebagai bos, saya datang sebagai teman yang ingin tumbuh bersama," katanya.
Dan ia membuktikan ucapannya. Usaha barunya, CV Arbon Utama 77 yang bergerak di kopra dan arang batok kelapa, ia rintis dengan mengajak teman-teman masa sekolahnya sendiri. Ia ingin lapangan kerja itu tumbuh dari lingkar pertemanan, dari tanah kelahirannya sendiri.
Pilihan jatuh ke kelapa bukan kebetulan. Bagi Rahmat, kelapa adalah jembatan antara perjuangan petani dan masa depan industri.
Langkahnya sejalan dengan program hilirisasi kelapa nasional yang digaungkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Pemerintah menargetkan 151.554 hektare kawasan hilirisasi kelapa pada 2026 dan ingin Indonesia berhenti ekspor mentah. Harga kelapa bulat bahkan sudah naik dari Rp600 menjadi Rp3.500 per butir sejak program ini berjalan.
"Kelapa sejalan dengan program hilirisasi pemerintah. Saya ingin hadir membangun industri di sekitar petani agar nilai tambahnya dirasakan langsung oleh mereka, bukan oleh tengkulak luar. Petani Bone harus sejahtera di tanahnya sendiri," tegas Rahmat.
Melalui CV Arbon Utama 77, ia ingin hasil kebun petani Bone diolah menjadi kopra dan arang batok bernilai ekspor, sehingga uangnya berputar di Bone, pekerjanya orang Bone.
Di balik keputusan besar itu, ada dukungan yang tak ternilai. Orang tua, pasangan, dan sahabat menjadi alasan utamanya untuk yakin.
"Dukungan mereka membuat saya lebih percaya diri menjalankan usaha ini. Bone memanggil saya pulang bukan untuk istirahat, tapi untuk bekerja lebih keras lagi, kali ini untuk kampung halaman," tutupnya.
Dari Papua ia belajar bertahan, di Bone ia ingin belajar memberi arti.