Pesta Rakyat 5 Ribu Penonton! Pacuan Kuda BerAmal di Panyula Meledak, Warga: Terimakasih BerAmal Sudah Obati Kerinduan
Diikuti 50 kuda pacu dari sejumlah daerah di Sulsel, arena Panyula dipadati sekitar 5.000 penonton. Sebanyak 52 UMKM ikut merasakan dampak ekonomi, sementara warga berharap pesta rakyat di era BerAmal terus berlanjut.
Bone, DNID.co.id – Tanah lapang di Kelurahan Panyula, Kecamatan Tanete Riattang Timur, berubah jadi lautan manusia. Selama tiga hari, sejak 23 sampai 25 Oktober 2026, dentuman kaki kuda, teriakan joki, dan sorak 5 ribu penonton pecah di Pacuan Kuda BerAmal.
Sebanyak 50 kuda pacu terbaik dari Bone, Bulukumba, Jeneponto, Bantaeng, Maros, Pangkep, hingga Soppeng turun bertarung. Ada Kelas A, Kelas B, Kelas C, sampai Open Race yang paling panas. Kuda-kuda besar adu kecepatan, adu strategi joki, adu napas sampai garis finish.
Hadiahnya Piala, Sertifikat, dan uang pembinaan. Tapi gengsinya jauh lebih besar dari itu. Gengsi daerah.
Penutupan hari terakhir paling meledak. Diperkirakan 5 ribu penonton sesaki arena. Parkiran di setiap sudut penuh. Dari anak kecil sampai orang tua tumpah ruah.
Suasana memperlihatkan penonton membeludak
Hadir langsung Camat Tanete Riattang Timur, Kepala Bapenda, Danramil, Kapolsek, dan Lurah Panyula. Kehadiran mereka jadi bukti, pacuan ini bukan acara main-main.
Camat Tanete Riattang Timur Andi Habibie menegaskan, Pacuan Kuda BerAmal punya tiga nyawa sekaligus.
“Ini adalah sport, edukasi pertarungan, dan pesta rakyat. Sport-nya jelas, kita bina atlet berkuda kita. Edukasi pertarungannya ada, bagaimana joki membaca lintasan, menjaga stamina kuda, sportivitas menang kalah. Dan yang paling penting, ini pesta rakyat yang menghidupkan UMKM,” tegas Camat Andi Habibie di hadapan ribuan penonton.
Menurutnya, keberhasilan acara tidak lepas dari kerja sama semua pihak di lapangan.
“Kegiatan ini bisa tertib dan damai karena kolaborasi. Panitia, Pemerintah Kecamatan, Kelurahan Panyula, TNI/Polri, tenaga kesehatan, semua turun tangan. Ini contoh bagaimana pesta rakyat harus dikelola,” tambahnya.
Dampak paling terasa ada di perut rakyat kecil. Sebanyak 52 UMKM yang berjualan di sekitar lokasi panen besar. Dari penjual es, bakso, gorengan, sampai sovenir kuda.
“Alhamdulillah, tiga hari ini pemasukan luar biasa. Biasanya jualan sehari dapat segini, ini tiga kali lipat. Kalau tiap bulan ada pacuan begini, UMKM hidup semua,” ujar Haslinda salah satu penjual di lokasi.
Panitia mencatat, rata-rata pemasukan UMKM naik drastis selama pacuan. Pesta pacuan kuda ternyata juga jadi pesta ekonomi.
Suara paling jujur datang dari masyarakat Bone Hj Jume. Mereka berterimakasih kepada Pemerintahan BerAmal.
“Terimakasih banyak kepada pemerintahan BerAmal. Selama ini hiburan pesta rakyat seperti ini yang kami rindukan di Bone. Bukan cuma soal kuda, tapi kami bisa liburan sama keluarga di sini,” ujarnya.
Kebahagiaan itu bukan hanya soal tontonan, tapi juga soal bertemunya kembali keluarga yang lama terpisah.
“Ini sekaligus ajang silaturahmi. Kerabat jauh pada datang semua karena dengar ada pesta hiburan di Bone. Ada yang dari Bulukumba, Jeneponto, Soppeng datang karena dapat informasi ada pacuan. Jadi bukan cuma nonton kuda, tapi ketemu keluarga yang lama tidak ketemu,” kata warga lainnya.
Harapan warga sederhana, agar pesta rakyat seperti ini tidak berhenti sekali saja.
“Dulu Bone sepi hiburan, sekarang hidup lagi. Anak-anak senang, UMKM laris, keluarga bisa kumpul. Kami berharap kegiatan seperti ini terus ada,” tambah seorang ibu yang berjualan di lokasi.
Warga menilai, di tangan Pemerintahan BerAmal, Bone tidak hanya dibangun jalannya, tapi juga dihidupkan pestanya. Liburan tidak perlu jauh-jauh keluar daerah, cukup di kampung sendiri sudah bisa rasa pesta rakyat sesungguhnya.
Kuda berpacu, penonton bersorak, kerabat jauh bertemu. Pacuan Kuda BerAmal membuktikan, hiburan rakyat bisa jadi pengikat silaturahmi dan penggerak ekonomi.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Pesta Rakyat 5 Ribu Penonton! Pacuan Kuda BerAmal di Panyula Meledak, Warga: Terimakasih BerAmal Sudah Obati Kerinduan
MINGGU, 25 OKTOBER 2026
Diikuti 50 kuda pacu dari sejumlah daerah di Sulsel, arena Panyula dipadati sekitar 5.000 penonton. Sebanyak 52 UMKM ikut merasakan dampak ekonomi, sementara warga berharap pesta rakyat di era BerAmal terus berlanjut.
Bone, DNID.co.id - Tanah lapang di Kelurahan Panyula, Kecamatan Tanete Riattang Timur, berubah jadi lautan manusia. Selama tiga hari, sejak 23 sampai 25 Oktober 2026, dentuman kaki kuda, teriakan joki, dan sorak 5 ribu penonton pecah di Pacuan Kuda BerAmal.
Sebanyak 50 kuda pacu terbaik dari Bone, Bulukumba, Jeneponto, Bantaeng, Maros, Pangkep, hingga Soppeng turun bertarung. Ada Kelas A, Kelas B, Kelas C, sampai Open Race yang paling panas. Kuda-kuda besar adu kecepatan, adu strategi joki, adu napas sampai garis finish.
Hadiahnya Piala, Sertifikat, dan uang pembinaan. Tapi gengsinya jauh lebih besar dari itu. Gengsi daerah.
Penutupan hari terakhir paling meledak. Diperkirakan 5 ribu penonton sesaki arena. Parkiran di setiap sudut penuh. Dari anak kecil sampai orang tua tumpah ruah.
Hadir langsung Camat Tanete Riattang Timur, Kepala Bapenda, Danramil, Kapolsek, dan Lurah Panyula. Kehadiran mereka jadi bukti, pacuan ini bukan acara main-main.
Camat Tanete Riattang Timur Andi Habibie menegaskan, Pacuan Kuda BerAmal punya tiga nyawa sekaligus.
"Ini adalah sport, edukasi pertarungan, dan pesta rakyat. Sport-nya jelas, kita bina atlet berkuda kita. Edukasi pertarungannya ada, bagaimana joki membaca lintasan, menjaga stamina kuda, sportivitas menang kalah. Dan yang paling penting, ini pesta rakyat yang menghidupkan UMKM," tegas Camat Andi Habibie di hadapan ribuan penonton.
Menurutnya, keberhasilan acara tidak lepas dari kerja sama semua pihak di lapangan.
"Kegiatan ini bisa tertib dan damai karena kolaborasi. Panitia, Pemerintah Kecamatan, Kelurahan Panyula, TNI/Polri, tenaga kesehatan, semua turun tangan. Ini contoh bagaimana pesta rakyat harus dikelola," tambahnya.
Dampak paling terasa ada di perut rakyat kecil. Sebanyak 52 UMKM yang berjualan di sekitar lokasi panen besar. Dari penjual es, bakso, gorengan, sampai sovenir kuda.
"Alhamdulillah, tiga hari ini pemasukan luar biasa. Biasanya jualan sehari dapat segini, ini tiga kali lipat. Kalau tiap bulan ada pacuan begini, UMKM hidup semua," ujar Haslinda salah satu penjual di lokasi.
Panitia mencatat, rata-rata pemasukan UMKM naik drastis selama pacuan. Pesta pacuan kuda ternyata juga jadi pesta ekonomi.
Suara paling jujur datang dari masyarakat Bone Hj Jume. Mereka berterimakasih kepada Pemerintahan BerAmal.
"Terimakasih banyak kepada pemerintahan BerAmal. Selama ini hiburan pesta rakyat seperti ini yang kami rindukan di Bone. Bukan cuma soal kuda, tapi kami bisa liburan sama keluarga di sini," ujarnya.
Kebahagiaan itu bukan hanya soal tontonan, tapi juga soal bertemunya kembali keluarga yang lama terpisah.
"Ini sekaligus ajang silaturahmi. Kerabat jauh pada datang semua karena dengar ada pesta hiburan di Bone. Ada yang dari Bulukumba, Jeneponto, Soppeng datang karena dapat informasi ada pacuan. Jadi bukan cuma nonton kuda, tapi ketemu keluarga yang lama tidak ketemu," kata warga lainnya.
Harapan warga sederhana, agar pesta rakyat seperti ini tidak berhenti sekali saja.
"Dulu Bone sepi hiburan, sekarang hidup lagi. Anak-anak senang, UMKM laris, keluarga bisa kumpul. Kami berharap kegiatan seperti ini terus ada," tambah seorang ibu yang berjualan di lokasi.
Warga menilai, di tangan Pemerintahan BerAmal, Bone tidak hanya dibangun jalannya, tapi juga dihidupkan pestanya. Liburan tidak perlu jauh-jauh keluar daerah, cukup di kampung sendiri sudah bisa rasa pesta rakyat sesungguhnya.
Kuda berpacu, penonton bersorak, kerabat jauh bertemu. Pacuan Kuda BerAmal membuktikan, hiburan rakyat bisa jadi pengikat silaturahmi dan penggerak ekonomi.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.