Breaking News

Radio Player

Loading...

JALAN PINTAS DEMOKRASI: OLIGARKI DIANGKAT, DEMOKRASI HILANG DAULAT

Jumat, 16 Januari 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Oleh : Muhammad Naufal Madani

Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Alauddin


Wacana pemilihan kepala daerah lewat DPRD menimbulkan beragam pertanyaan dan menjadi penghianatan terang-terangan terhadap demokrasi. Ini hukan solusi melainkan kemunduran politik yang dibungkus dengan narasi efisiensi, negara seolah ingin menyelesaikan masalah demokrasi dengan cara membungkam demokrasi itu sendiri.

ads

Wacana ini sengaja dilempar saat penguasa sedang sibuk mengkonsolidasikan kekuatan, tujuannya satu untuk menarik mandat rakyat kembali ke meja makan partai politik

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pilkada yang ditentukan lewat DPR adalah sebuah langkah mundur bagi demokrasi di Indonesia. Ini adalah sebuah bentuk otoritarianisme yang dapat membatasi kebebasan berekspresi dan berpengetahuan. DPR, sebagai lembaga yang seharusnya mewakili suara rakyat, justru menjadi lembaga yang menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin daerah.

Pasal 1 Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”. Namun, dengan pilkada yang ditentukan lewat DPR, kedaulatan rakyat tersebut tidak lagi dihormati. DPR telah mengambil alih kekuasaan rakyat dan menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin daerah.

Pasal 18A Undang-Undang Dasar 1945 juga menyatakan bahwa “Pemilihan umum dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil”. Namun, dengan pilkada yang ditentukan lewat DPR, prinsip pemilihan umum yang langsung dan bebas tidak lagi dihormati.

DPR telah gagal dalam menjalankan tugas mereka sebagai wakil rakyat. Mereka telah gagal dalam mengawasi pemerintahan dan memastikan bahwa kebijakan yang diambil adalah kebijakan yang baik bagi rakyat. Mereka telah gagal dalam memperjuangkan hak-hak rakyat dan memastikan bahwa kebutuhan rakyat dipenuhi. Dan sekarang mereka ingin menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin daerah?

Ini adalah sebuah bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang tidak dapat diterima. Kita harus menolak pilkada yang ditentukan lewat DPR dan memperjuangkan pilkada yang demokratis dan langsung. Kita harus memastikan bahwa suara rakyat didengar dan dihormati.

Pilkada yang ditentukan lewat DPR adalah sebuah langkah mundur bagi demokrasi di Indonesia. Ini adalah sebuah bentuk otoritarianisme yang dapat membatasi kebebasan berekspresi dan berpengetahuan. DPR telah gagal dalam menjalankan tugas mereka sebagai wakil rakyat, dan sekarang mereka ingin menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin daerah?

DPR telah gagal dalam mengawasi pemerintahan dan memastikan bahwa kebijakan yang diambil adalah kebijakan yang baik bagi rakyat. Mereka telah gagal dalam memperjuangkan hak-hak rakyat dan memastikan bahwa kebutuhan rakyat dipenuhi. Dan sekarang mereka ingin menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin daerah?

Ini adalah sebuah bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang tidak dapat diterima. Kita harus menolak pilkada yang ditentukan lewat DPR dan memperjuangkan pilkada yang demokratis dan langsung. Kita harus memastikan bahwa suara rakyat didengar dan dihormati.

Kita harus memperjuangkan demokrasi yang sebenarnya, bukan demokrasi yang dipalsukan. Kita harus memastikan bahwa suara rakyat didengar dan dihormati. Kita harus memperjuangkan pilkada yang demokratis dan langsung, bukan pilkada yang ditentukan lewat DPR.

Kita harus bersatu dalam memperjuangkan demokrasi dan hak-hak rakyat. Kita harus menolak pilkada yang ditentukan lewat DPR dan memperjuangkan pilkada yang demokratis dan langsung. Kita harus memastikan bahwa suara rakyat didengar dan dihormati.

Demokrasi adalah hak kita, dan kita harus memperjuangkannya. Kita harus menolak pilkada yang ditentukan lewat DPR dan memperjuangkan pilkada yang demokratis dan langsung. Kita harus memastikan bahwa suara rakyat didengar dan dihormati.

Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa pilkada yang ditentukan lewat DPR adalah sebuah ancaman bagi demokrasi di Indonesia. Kita harus menolak pilkada yang ditentukan lewat DPR dan memperjuangkan pilkada yang demokratis dan langsung. Kita harus memastikan bahwa suara rakyat didengar dan dihormati.

Simpan Gambar:

Editor : Kingzhie

Berita Terkait

Kebutuhan Listrik Industri Data Center Terus Melonjak, Energi Nuklir Mulai Dilirik
Mengapa Dunia Kembali Memilih Nuklir?
Pemanfaatan Teknologi Nuklir dalam Upcycling Mikroplastik
PLTN Pertama Indonesia: Antara Bangka, Kalbar, dan Jalan Menuju Listrik Murah Nasional
Kekuatan yang Pernah Ditakuti, Kini Menjadi Harapan Dunia
Ketika Dunia Berinvestasi di Nuklir, Haruskah Indonesia Terus Takut pada Masa Depan
MENJAGA HUTAN DIUJUNG TAHUN: REFLEKSI KEHUTANAN DAN TANGGUNGJAWAB BERSAMA
Rehabilitasi dan Penghijauan Hutan Gowa: Kepemimpinan Hijau dan Tanggung Jawab Kolektif Pemuda
Berita ini 84 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 13:27 WITA

Kebutuhan Listrik Industri Data Center Terus Melonjak, Energi Nuklir Mulai Dilirik

Jumat, 16 Januari 2026 - 00:53 WITA

JALAN PINTAS DEMOKRASI: OLIGARKI DIANGKAT, DEMOKRASI HILANG DAULAT

Jumat, 9 Januari 2026 - 12:20 WITA

Mengapa Dunia Kembali Memilih Nuklir?

Jumat, 9 Januari 2026 - 12:08 WITA

Pemanfaatan Teknologi Nuklir dalam Upcycling Mikroplastik

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:43 WITA

PLTN Pertama Indonesia: Antara Bangka, Kalbar, dan Jalan Menuju Listrik Murah Nasional

Senin, 5 Januari 2026 - 16:42 WITA

Kekuatan yang Pernah Ditakuti, Kini Menjadi Harapan Dunia

Senin, 5 Januari 2026 - 11:44 WITA

Ketika Dunia Berinvestasi di Nuklir, Haruskah Indonesia Terus Takut pada Masa Depan

Jumat, 2 Januari 2026 - 19:47 WITA

MENJAGA HUTAN DIUJUNG TAHUN: REFLEKSI KEHUTANAN DAN TANGGUNGJAWAB BERSAMA

Berita Terbaru

Serba-Serbi

Presiden Prabowo Siap Hadir di HPN 2026

Sabtu, 24 Jan 2026 - 16:05 WITA