JALAN PINTAS DEMOKRASI: OLIGARKI DIANGKAT, DEMOKRASI HILANG DAULAT

Oleh : Muhammad Naufal Madani

Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Alauddin


Wacana pemilihan kepala daerah lewat DPRD menimbulkan beragam pertanyaan dan menjadi penghianatan terang-terangan terhadap demokrasi. Ini hukan solusi melainkan kemunduran politik yang dibungkus dengan narasi efisiensi, negara seolah ingin menyelesaikan masalah demokrasi dengan cara membungkam demokrasi itu sendiri.

Wacana ini sengaja dilempar saat penguasa sedang sibuk mengkonsolidasikan kekuatan, tujuannya satu untuk menarik mandat rakyat kembali ke meja makan partai politik

Pilkada yang ditentukan lewat DPR adalah sebuah langkah mundur bagi demokrasi di Indonesia. Ini adalah sebuah bentuk otoritarianisme yang dapat membatasi kebebasan berekspresi dan berpengetahuan. DPR, sebagai lembaga yang seharusnya mewakili suara rakyat, justru menjadi lembaga yang menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin daerah.

Pasal 1 Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”. Namun, dengan pilkada yang ditentukan lewat DPR, kedaulatan rakyat tersebut tidak lagi dihormati. DPR telah mengambil alih kekuasaan rakyat dan menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin daerah.

Pasal 18A Undang-Undang Dasar 1945 juga menyatakan bahwa “Pemilihan umum dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil”. Namun, dengan pilkada yang ditentukan lewat DPR, prinsip pemilihan umum yang langsung dan bebas tidak lagi dihormati.

DPR telah gagal dalam menjalankan tugas mereka sebagai wakil rakyat. Mereka telah gagal dalam mengawasi pemerintahan dan memastikan bahwa kebijakan yang diambil adalah kebijakan yang baik bagi rakyat. Mereka telah gagal dalam memperjuangkan hak-hak rakyat dan memastikan bahwa kebutuhan rakyat dipenuhi. Dan sekarang mereka ingin menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin daerah?

Ini adalah sebuah bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang tidak dapat diterima. Kita harus menolak pilkada yang ditentukan lewat DPR dan memperjuangkan pilkada yang demokratis dan langsung. Kita harus memastikan bahwa suara rakyat didengar dan dihormati.

Pilkada yang ditentukan lewat DPR adalah sebuah langkah mundur bagi demokrasi di Indonesia. Ini adalah sebuah bentuk otoritarianisme yang dapat membatasi kebebasan berekspresi dan berpengetahuan. DPR telah gagal dalam menjalankan tugas mereka sebagai wakil rakyat, dan sekarang mereka ingin menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin daerah?

DPR telah gagal dalam mengawasi pemerintahan dan memastikan bahwa kebijakan yang diambil adalah kebijakan yang baik bagi rakyat. Mereka telah gagal dalam memperjuangkan hak-hak rakyat dan memastikan bahwa kebutuhan rakyat dipenuhi. Dan sekarang mereka ingin menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin daerah?

Ini adalah sebuah bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang tidak dapat diterima. Kita harus menolak pilkada yang ditentukan lewat DPR dan memperjuangkan pilkada yang demokratis dan langsung. Kita harus memastikan bahwa suara rakyat didengar dan dihormati.

Kita harus memperjuangkan demokrasi yang sebenarnya, bukan demokrasi yang dipalsukan. Kita harus memastikan bahwa suara rakyat didengar dan dihormati. Kita harus memperjuangkan pilkada yang demokratis dan langsung, bukan pilkada yang ditentukan lewat DPR.

Kita harus bersatu dalam memperjuangkan demokrasi dan hak-hak rakyat. Kita harus menolak pilkada yang ditentukan lewat DPR dan memperjuangkan pilkada yang demokratis dan langsung. Kita harus memastikan bahwa suara rakyat didengar dan dihormati.

Demokrasi adalah hak kita, dan kita harus memperjuangkannya. Kita harus menolak pilkada yang ditentukan lewat DPR dan memperjuangkan pilkada yang demokratis dan langsung. Kita harus memastikan bahwa suara rakyat didengar dan dihormati.

Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa pilkada yang ditentukan lewat DPR adalah sebuah ancaman bagi demokrasi di Indonesia. Kita harus menolak pilkada yang ditentukan lewat DPR dan memperjuangkan pilkada yang demokratis dan langsung. Kita harus memastikan bahwa suara rakyat didengar dan dihormati.

Simpan sebagai Kenangan

Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.

Simpan Gambar:

Jumat, 16 Januari 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Editor: Kingzhie

Menghubungkan ke server...
Simpan Gambar:

Berita Terkait

Dua Tahun Prabowo–Gibran: Mengapresiasi Capaian, Menguatkan Koreksi untuk Pembangunan yang Berkeadilan
Dilema Penegakan Hukum : Antara Disiplin Edukatif, Hak Imunitas Guru dan Perlindungan Anak
Kurikulum Bahasa Indonesia di Era Digital: Mampukah Literasi Media Membentengi Siswa dari Disinformasi?
Optimisme Akademisi: Negara Jaga Kecerdasan Anak Bangsa Melalui Makan Bergizi
Menambang Emas Mendulang Bencana: SOS Sungai Suso Luwu
Puluhan Anggota DPRD Jeneponto Diduga Menginap Fiktif, Lebih Bayar Perjalanan Dinas Rp221 Juta
RUU Perampasan Aset dan Janji 15 Desember: Saat DPR Mempertaruhkan Marwahnya
Tin Slag Akan “Kabur” Saat 17 Agustus? Semoga Bukan Sekadar Ngerameng
Berita ini 108 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 23:00 WITA

Dua Tahun Prabowo–Gibran: Mengapresiasi Capaian, Menguatkan Koreksi untuk Pembangunan yang Berkeadilan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 05:51 WITA

Dilema Penegakan Hukum : Antara Disiplin Edukatif, Hak Imunitas Guru dan Perlindungan Anak

Senin, 5 Oktober 2026 - 17:36 WITA

Kurikulum Bahasa Indonesia di Era Digital: Mampukah Literasi Media Membentengi Siswa dari Disinformasi?

Senin, 21 September 2026 - 22:00 WITA

Optimisme Akademisi: Negara Jaga Kecerdasan Anak Bangsa Melalui Makan Bergizi

Sabtu, 19 September 2026 - 05:26 WITA

Menambang Emas Mendulang Bencana: SOS Sungai Suso Luwu

Minggu, 13 September 2026 - 10:46 WITA

Puluhan Anggota DPRD Jeneponto Diduga Menginap Fiktif, Lebih Bayar Perjalanan Dinas Rp221 Juta

Jumat, 28 Agustus 2026 - 13:14 WITA

RUU Perampasan Aset dan Janji 15 Desember: Saat DPR Mempertaruhkan Marwahnya

Minggu, 16 Agustus 2026 - 22:10 WITA

Tin Slag Akan “Kabur” Saat 17 Agustus? Semoga Bukan Sekadar Ngerameng

Berita Terbaru