Breaking News

Radio Player

Loading...

Slovakia dan AS Kerja Sama Bangun PLTN, Indonesia Siap Menyusul?

Senin, 26 Januari 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Oleh : Adinda Putri Nabiilah,. SH. C.IJ (Editor Jejaring Media KBO Babel)

Bangka Belitung – Peta energi global kembali bergerak menuju satu kesimpulan yang semakin sulit dibantah: tenaga nuklir kembali menempati posisi strategis sebagai tulang punggung transisi energi. Pada 16 Januari 2026, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright dan Perdana Menteri Slovakia Robert Fico menandatangani intergovernmental agreement (IGA) untuk memperkuat kerja sama pengembangan program tenaga nuklir sipil Slovakia. Inti kesepakatan tersebut adalah rencana pembangunan reaktor nuklir komersial berkapasitas 1.200 megawatt listrik (MWe) di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bohunice, menggunakan teknologi asal Amerika Serikat.

Kesepakatan ini tidak hanya menandai babak baru bagi sistem energi Slovakia, tetapi juga menjadi sinyal global menguatnya kembali peran PLTN sebagai sumber listrik rendah karbon yang andal, stabil, dan berkelanjutan. Di tengah ketidakpastian pasokan energi dunia dan tekanan dekarbonisasi, nuklir kembali diposisikan sebagai solusi struktural jangka panjang.

ads

Departemen Energi Amerika Serikat (U.S. Department of Energy/DOE) menyebut perjanjian tersebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat keamanan energi Eropa dan Amerika Serikat secara simultan. Dari sisi ekonomi, proyek ini diproyeksikan menciptakan lapangan kerja luas di sektor teknik, manufaktur maju, konstruksi, layanan bahan bakar nuklir, hingga manajemen proyek.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Keterlibatan industri Amerika dalam proyek ini akan memperkuat rantai pasok domestik sekaligus memperluas pasar internasional bagi teknologi nuklir buatan Amerika,” demikian pernyataan resmi DOE yang dikutip Nuclear Newswire.

Bagi Slovakia, kerja sama ini menjadi jalur transisi dari ketergantungan historis pada teknologi reaktor rancangan Rusia menuju teknologi baru yang dinilai lebih sesuai dengan standar keselamatan, keamanan, dan keberlanjutan energi modern. DOE menegaskan bahwa langkah tersebut juga akan mendukung stabilitas keamanan energi kawasan Eropa Tengah secara lebih luas.

IGA antara Amerika Serikat dan Slovakia tidak berhenti pada pembangunan reaktor baru. DOE menekankan bahwa ruang lingkup kerja sama mencakup pengembangan rantai pasok nuklir, penerapan praktik terbaik keselamatan dan keamanan, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta perencanaan proyek jangka panjang.

Menanggapi penandatanganan kesepakatan tersebut, Menteri Energi AS Chris Wright menegaskan dimensi strategis kerja sama ini.
“Perjanjian nuklir sipil hari ini mencerminkan komitmen bersama kami untuk memperkuat keamanan dan kedaulatan energi Eropa selama beberapa dekade ke depan,” ujar Wright.

Pernyataan ini mempertegas posisi nuklir bukan sebagai solusi sementara, melainkan fondasi jangka panjang dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan di tengah meningkatnya penetrasi energi terbarukan yang bersifat intermiten.

Slovakia bukan negara baru dalam pemanfaatan tenaga nuklir. Sejarah operasi nuklir komersialnya dimulai sejak 1972 melalui Bohunice A1 berkapasitas 104 MWe. Pada dekade berikutnya, Bohunice-1 dan Bohunice-2 mulai beroperasi, disusul Bohunice-3 dan Bohunice-4 yang hingga kini masih aktif.

Selain Bohunice, Slovakia juga mengoperasikan PLTN Mochovce, yang mulai beroperasi pada 1998. Saat ini, tiga unit reaktor di Mochovce telah beroperasi penuh, dengan satu unit tambahan dalam tahap akhir persetujuan administratif.

Menurut data International Energy Agency (IEA), energi nuklir menyumbang sekitar 65,2 persen dari total produksi listrik domestik Slovakia. Angka ini menempatkan Slovakia sebagai salah satu negara dengan ketergantungan tertinggi terhadap PLTN di Eropa, sekaligus menegaskan peran krusial nuklir dalam menjaga stabilitas pasokan listrik nasional.

Dengan latar tersebut, pembangunan reaktor baru berkapasitas 1.200 MWe di Bohunice dipandang sebagai langkah strategis untuk memperbarui basis teknologi sekaligus memastikan kesinambungan pasokan listrik jangka panjang.

Adopsi teknologi nuklir Amerika oleh Slovakia menandai pergeseran penting dalam lanskap energi nasionalnya. Perdana Menteri Slovakia Robert Fico menyebut kesepakatan ini sebagai tonggak penting dalam hubungan bilateral kedua negara.

“Saya melihat momen ini sebagai tonggak penting dalam hubungan bilateral kami, sekaligus sebagai sinyal jelas bahwa Slovakia dan Amerika Serikat dipersatukan oleh pemikiran strategis yang sama tentang masa depan energi—tentang keselamatan, keberlanjutan, dan kematangan teknologi,” ujar Fico.

Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan baru bahwa PLTN modern bukan semata soal kapasitas besar, tetapi juga integrasi teknologi, keselamatan tingkat tinggi, dan kesiapan industri nasional.

Perkembangan di Eropa ini relevan bagi Indonesia yang tengah mempersiapkan pembangunan PLTN pertama sebagai bagian dari transisi energi nasional dan komitmen penurunan emisi.
Keputusan Slovakia menunjukkan bahwa nuklir tidak diposisikan sebagai teknologi masa lalu, melainkan solusi masa depan untuk menjawab tantangan elektrifikasi, industrialisasi, dan dekarbonisasi secara bersamaan.

Indonesia menghadapi dilema struktural yang serupa: kebutuhan listrik terus meningkat seiring target pertumbuhan ekonomi agresif, sementara ketergantungan pada batu bara harus dikurangi untuk memenuhi target iklim dan net zero emissions. Dalam dokumen RUPTL 2025–2034, pemerintah secara resmi menetapkan kebijakan phase down batu bara, yang berarti kebutuhan akan sumber baseload bersih menjadi semakin mendesak.

Dalam konteks inilah, berbagai model dan pendekatan PLTN global menjadi bahan pembelajaran penting. Salah satunya adalah pendekatan reaktor generasi baru yang lebih modular, bertekanan rendah, dan berorientasi pada kecepatan konstruksi serta kepastian biaya.

Sejalan dengan dinamika global tersebut, PT Thorcon Power Indonesia menjadi salah satu entitas yang kerap disebut dalam diskursus pengembangan PLTN nasional. Thorcon mengusung desain reaktor garam cair (molten salt reactor/MSR) berkapasitas menengah 500 MW (2 x 250 MW), dengan pendekatan manufaktur galangan kapal sebagai strategi utama efisiensi waktu dan biaya.

Pendekatan ini sejalan dengan tren global yang menekankan kecepatan pembangunan, kepastian biaya, dan keselamatan inheren. CEO Thorcon International, Matt Wilkinson, pernah menegaskan tantangan utama industri nuklir modern:
“If you can build me a gigawatt for the same price and speed as coal, we’ll talk,” ujar Wilkinson.

Teknologi MSR sendiri bukan konsep eksperimental baru. Reaktor jenis ini telah dikembangkan dan divalidasi oleh Oak Ridge National Laboratory milik DOE pada 1960-an. Keunggulannya terletak pada operasi bertekanan rendah, efisiensi termal lebih tinggi, serta karakter keselamatan inheren yang mengurangi risiko kegagalan sistem bertekanan tinggi.

Sebagaimana dilaporkan recessary.com, Thorcon mengombinasikan teknologi MSR dengan metode konstruksi galangan kapal modern. Pendekatan ini menggeser paradigma pembangunan PLTN dari proyek konstruksi sipil jangka panjang menjadi produk manufaktur berulang, dengan kualitas terkontrol dan jadwal yang lebih pasti. Rilis, Kompas.com.

Sejak 2021, PT Thorcon Power Indonesia telah memulai proses perizinan di Indonesia. Pada 2025, perusahaan ini memperoleh Persetujuan Evaluasi Tapak dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) untuk rencana lokasi PLTN Thorcon 500 di Pulau Kelasa, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Persetujuan tersebut menjadi dasar bagi studi lanjutan, termasuk penelitian tapak mendalam, penyusunan AMDAL, dan pemenuhan kesesuaian tata ruang. Secara regulasi, tahapan ini merupakan fase awal sebelum pengajuan izin konstruksi dan operasi, sesuai kerangka perizinan PLTN nasional.

Dalam berbagai kesempatan, Thorcon menegaskan komitmennya untuk mematuhi seluruh regulasi Indonesia dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Proyek ini diproyeksikan tidak hanya berkontribusi pada penurunan emisi karbon, tetapi juga memperkuat ketahanan energi regional, khususnya di Bangka Belitung yang masih menghadapi keterbatasan pasokan listrik baseload.

Salah satu tantangan utama pengembangan PLTN adalah persepsi publik. Padahal, data global menunjukkan gambaran yang berbeda. Statistik Our World in Data mencatat tingkat kematian energi nuklir sekitar 0,03 per terawatt hour, lebih rendah dibanding batu bara, minyak, gas, bahkan setara dengan energi angin dan surya.

Fakta ini memperkuat argumentasi bahwa nuklir modern merupakan salah satu sumber energi paling aman secara statistik, meskipun kerap tertutupi oleh narasi ketakutan yang tidak berbasis data.

Kerja sama Amerika Serikat dan Slovakia menjadi sinyal kuat bahwa dunia tengah memasuki fase baru kebangkitan energi nuklir—bukan sebagai alternatif, melainkan sebagai fondasi sistem energi masa depan. Bagi Indonesia, momentum global ini membuka ruang refleksi strategis: bahwa pembangunan PLTN membutuhkan visi jangka panjang, kerangka regulasi yang matang, serta pilihan teknologi yang realistis dan adaptif.

Dalam pusaran transisi energi global, nuklir kembali menemukan relevansinya. Pertanyaannya bukan lagi apakah nuklir diperlukan, melainkan seberapa siap Indonesia memanfaatkannya sebagai instrumen kedaulatan energi dan pembangunan berkelanjutan. (*)

Simpan Gambar:

Berita Terkait

Kebutuhan Listrik Industri Data Center Terus Melonjak, Energi Nuklir Mulai Dilirik
JALAN PINTAS DEMOKRASI: OLIGARKI DIANGKAT, DEMOKRASI HILANG DAULAT
Mengapa Dunia Kembali Memilih Nuklir?
Pemanfaatan Teknologi Nuklir dalam Upcycling Mikroplastik
PLTN Pertama Indonesia: Antara Bangka, Kalbar, dan Jalan Menuju Listrik Murah Nasional
Kekuatan yang Pernah Ditakuti, Kini Menjadi Harapan Dunia
Ketika Dunia Berinvestasi di Nuklir, Haruskah Indonesia Terus Takut pada Masa Depan
MENJAGA HUTAN DIUJUNG TAHUN: REFLEKSI KEHUTANAN DAN TANGGUNGJAWAB BERSAMA
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 14:21 WITA

Slovakia dan AS Kerja Sama Bangun PLTN, Indonesia Siap Menyusul?

Sabtu, 24 Januari 2026 - 13:27 WITA

Kebutuhan Listrik Industri Data Center Terus Melonjak, Energi Nuklir Mulai Dilirik

Jumat, 16 Januari 2026 - 00:53 WITA

JALAN PINTAS DEMOKRASI: OLIGARKI DIANGKAT, DEMOKRASI HILANG DAULAT

Jumat, 9 Januari 2026 - 12:20 WITA

Mengapa Dunia Kembali Memilih Nuklir?

Jumat, 9 Januari 2026 - 12:08 WITA

Pemanfaatan Teknologi Nuklir dalam Upcycling Mikroplastik

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:43 WITA

PLTN Pertama Indonesia: Antara Bangka, Kalbar, dan Jalan Menuju Listrik Murah Nasional

Senin, 5 Januari 2026 - 16:42 WITA

Kekuatan yang Pernah Ditakuti, Kini Menjadi Harapan Dunia

Senin, 5 Januari 2026 - 11:44 WITA

Ketika Dunia Berinvestasi di Nuklir, Haruskah Indonesia Terus Takut pada Masa Depan

Berita Terbaru

Kriminal Hukum

Nekat Bawa Senjata Tajam Dini Hari, Dua Pengendara Motor Diciduk Polisi

Senin, 26 Jan 2026 - 14:35 WITA

Sosial Politik

KNTI dan Pemerintah Bersinergi, Indonesia Emas 2045 Menanti!

Senin, 26 Jan 2026 - 13:52 WITA

Kriminal Hukum

Parah, Diduga Oknum Polisi di Makassar Jadi Penadah Mobil Bodong

Senin, 26 Jan 2026 - 13:48 WITA