Aktivitas malam hari di jalur muara disebut sudah lama berlangsung, polisi kini mulai bergerak melakukan pengawasan intensif.
Bone, DNID.co.id – Aparat kepolisian memperketat pengawasan di kawasan muara Larokka, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menyusul dugaan penyelundupan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar melalui jalur laut, Rabu (29/04/2026).
Kapolsek Awangpone, AKP Supriyadi, membenarkan pihaknya telah memerintahkan jajarannya untuk melakukan pemantauan intensif di lokasi yang dimaksud.
“Kemarin saya perintahkan Pak Kanit untuk memantau terus lokasi yang dimaksud agar dilakukan pengawasan,” ujarnya saat dikonfirmasi awak media, Rabu (29/04/2026).
Informasi yang beredar menyebutkan aparat mulai melakukan penelusuran lebih lanjut atas dugaan praktik ilegal tersebut.
Muara Larokka yang diduga menjadi jalur utama keluar-masuk solar subsidi yang dikirim ke luar daerah, khususnya ke wilayah Sulawesi Tenggara.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, praktik pengiriman solar subsidi ini diduga dikendalikan oleh seorang warga berinisial ML. Sementara aktivitas pelangsiran dan distribusi lapangan disebut melibatkan pria berinisial SL.
Menurut sumber setempat yang enggan disebutkan namanya, solar subsidi dikumpulkan dari para pelangsir dalam jumlah besar sebelum diberangkatkan menggunakan kapal melalui jalur muara.
“Pelemparannya ke Sulawesi Tenggara menggunakan kapal dalam jumlah besar,” ujar sumber tersebut.
Sumber itu juga mengungkapkan adanya dugaan permainan harga dalam praktik tersebut. ML disebut membeli solar dari pelangsir dengan harga sekitar Rp270 ribu per jeriken, kemudian menjual kembali dengan harga Rp380 ribu hingga Rp400 ribu per jeriken kepada pembeli di Sulawesi Tenggara.
Selisih harga yang signifikan itu diduga menjadi pemicu utama maraknya penyelundupan BBM subsidi melalui jalur laut.
Aktivitas ini disebut telah berlangsung cukup lama dan berjalan secara terstruktur, mulai dari pengumpulan solar dari sejumlah SPBU melalui pelangsir, penampungan sementara, hingga pengiriman menggunakan kapal pada malam hari guna menghindari perhatian aparat.
Saat awak media mencoba mengonfirmasi kepada ML, nomor telepon yang bersangkutan sudah tidak dapat dihubungi.
























