Tim KKN MIT-22 UIN Walisongo Dampingi UMKM Olah Daun Lokal Menjadi Keripik Bernilai Ekonomis
Semarang – Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 26 berkolaborasi dengan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Dusun Tugusari, Desa Kandangan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, dalam mengembangkan olahan pangan lokal menjadi produk bernilai ekonomis. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada selasa (11/8/2026).
Kolaborasi tersebut dilakukan bersama Ibu Warliyah, salah satu pelaku UMKM di Dusun Tugusari. Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN turut mendampingi proses pengolahan daun lokal seperti daun bayam, daun kenikir, serta daun glandir atau daun ubi jalar menjadi keripik.
UMKM yang dijalankan Ibu Warliyah tidak hanya memproduksi keripik berbahan daun. Beragam produk olahan lainnya juga dibuat, seperti keripik tempe, keripik gembus, peyek kacang, peyek rebon, peyek kacang hijau, akar kelapa, dan keripik pisang. Beragam produk tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan bahan pangan yang tersedia di lingkungan masyarakat menjadi makanan yang memiliki nilai jual.
Proses pembuatan keripik daun diawali dengan mencuci daun hingga bersih. Selanjutnya, bumbu disiapkan dan dihaluskan untuk dicampurkan ke dalam adonan tepung. Tepung kemudian dicampur dengan bumbu hingga merata.
Daun yang telah dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam adonan tepung hingga seluruh permukaannya terlapisi. Setelah itu, daun digoreng dalam minyak panas selama kurang lebih satu hingga dua menit hingga matang dan renyah. Keripik yang telah matang kemudian diangkat dan ditiriskan untuk mengurangi kandungan minyak sebelum siap disantap atau dikemas.
Pemanfaatan daun sebagai bahan keripik menjadi salah satu inovasi sederhana dalam mengolah bahan pangan lokal. Daun yang umumnya dimanfaatkan sebagai sayuran dapat dikembangkan menjadi makanan ringan dengan bentuk dan cita rasa berbeda sehingga memiliki peluang untuk dipasarkan sebagai produk UMKM.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Tim KKN MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 26 dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan potensi UMKM. Selain ikut dalam proses produksi, mahasiswa juga membangun komunikasi dengan pelaku usaha untuk mengetahui potensi dan kendala yang dihadapi dalam mengembangkan produk UMKM.
Ibu Warliyah selaku pelaku UMKM sekaligus istri Kepala Dusun Tugusari menyambut baik kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKN. Ia mengaku senang karena mahasiswa hadir dan ikut membantu kegiatan masyarakat di dusunnya.
“Senang banget, ada yang datang, ada yang bantuin. Mudah-mudahan bisa berlanjut, kapan bisa main ke sini lagi, jangan sungkan-sungkan,” ujar Warliyah.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKN memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berinteraksi dan membangun kerja sama. Ia berharap hubungan tersebut dapat terus terjalin meskipun masa pelaksanaan KKN telah selesai.
Ketua KKN MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 26, Adnan, mengatakan bahwa kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu memperkenalkan UMKM yang ada di Dusun Tugusari kepada masyarakat yang lebih luas.
“Saya berharap UMKM di Dusun Tugusari bisa lebih dikenal, baik oleh masyarakat sekitar maupun masyarakat di luar dusun. Dengan adanya kolaborasi ini, semoga produk-produk UMKM yang ada bisa semakin berkembang dan memiliki peluang untuk dipasarkan lebih luas,” ujar Adnan.
Menurut Adnan, keberadaan UMKM dengan beragam produk olahan menunjukkan bahwa masyarakat memiliki potensi yang dapat terus dikembangkan. Karena itu, kolaborasi mahasiswa dan masyarakat diharapkan dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkenalkan potensi tersebut kepada khalayak yang lebih luas.
Selain menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat, kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Mahasiswa dapat melihat bagaimana bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Kolaborasi antara Tim KKN dan pelaku UMKM tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan selama pelaksanaan KKN. Pengembangan produk, peningkatan kualitas, dan pemasaran yang lebih luas diharapkan dapat membantu UMKM Ibu Warliyah semakin berkembang.
Melalui kegiatan tersebut, Tim KKN MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 26 berupaya mendorong pemanfaatan potensi lokal sekaligus memperkuat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat. Keberagaman produk UMKM di Dusun Tugusari diharapkan dapat menjadi potensi ekonomi yang terus dikembangkan dan dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Tim KKN MIT-22 UIN Walisongo Dampingi UMKM Olah Daun Lokal Menjadi Keripik Bernilai Ekonomis
RABU, 12 AGUSTUS 2026
Semarang – Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 26 berkolaborasi dengan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Dusun Tugusari, Desa Kandangan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, dalam mengembangkan olahan pangan lokal menjadi produk bernilai ekonomis. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada selasa (11/8/2026).
Kolaborasi tersebut dilakukan bersama Ibu Warliyah, salah satu pelaku UMKM di Dusun Tugusari. Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN turut mendampingi proses pengolahan daun lokal seperti daun bayam, daun kenikir, serta daun glandir atau daun ubi jalar menjadi keripik.
UMKM yang dijalankan Ibu Warliyah tidak hanya memproduksi keripik berbahan daun. Beragam produk olahan lainnya juga dibuat, seperti keripik tempe, keripik gembus, peyek kacang, peyek rebon, peyek kacang hijau, akar kelapa, dan keripik pisang. Beragam produk tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan bahan pangan yang tersedia di lingkungan masyarakat menjadi makanan yang memiliki nilai jual.
Proses pembuatan keripik daun diawali dengan mencuci daun hingga bersih. Selanjutnya, bumbu disiapkan dan dihaluskan untuk dicampurkan ke dalam adonan tepung. Tepung kemudian dicampur dengan bumbu hingga merata.
Daun yang telah dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam adonan tepung hingga seluruh permukaannya terlapisi. Setelah itu, daun digoreng dalam minyak panas selama kurang lebih satu hingga dua menit hingga matang dan renyah. Keripik yang telah matang kemudian diangkat dan ditiriskan untuk mengurangi kandungan minyak sebelum siap disantap atau dikemas.
Pemanfaatan daun sebagai bahan keripik menjadi salah satu inovasi sederhana dalam mengolah bahan pangan lokal. Daun yang umumnya dimanfaatkan sebagai sayuran dapat dikembangkan menjadi makanan ringan dengan bentuk dan cita rasa berbeda sehingga memiliki peluang untuk dipasarkan sebagai produk UMKM.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Tim KKN MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 26 dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan potensi UMKM. Selain ikut dalam proses produksi, mahasiswa juga membangun komunikasi dengan pelaku usaha untuk mengetahui potensi dan kendala yang dihadapi dalam mengembangkan produk UMKM.
Ibu Warliyah selaku pelaku UMKM sekaligus istri Kepala Dusun Tugusari menyambut baik kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKN. Ia mengaku senang karena mahasiswa hadir dan ikut membantu kegiatan masyarakat di dusunnya.
“Senang banget, ada yang datang, ada yang bantuin. Mudah-mudahan bisa berlanjut, kapan bisa main ke sini lagi, jangan sungkan-sungkan,” ujar Warliyah.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKN memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berinteraksi dan membangun kerja sama. Ia berharap hubungan tersebut dapat terus terjalin meskipun masa pelaksanaan KKN telah selesai.
Ketua KKN MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 26, Adnan, mengatakan bahwa kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu memperkenalkan UMKM yang ada di Dusun Tugusari kepada masyarakat yang lebih luas.
“Saya berharap UMKM di Dusun Tugusari bisa lebih dikenal, baik oleh masyarakat sekitar maupun masyarakat di luar dusun. Dengan adanya kolaborasi ini, semoga produk-produk UMKM yang ada bisa semakin berkembang dan memiliki peluang untuk dipasarkan lebih luas,” ujar Adnan.
Menurut Adnan, keberadaan UMKM dengan beragam produk olahan menunjukkan bahwa masyarakat memiliki potensi yang dapat terus dikembangkan. Karena itu, kolaborasi mahasiswa dan masyarakat diharapkan dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkenalkan potensi tersebut kepada khalayak yang lebih luas.
Selain menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat, kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Mahasiswa dapat melihat bagaimana bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Kolaborasi antara Tim KKN dan pelaku UMKM tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan selama pelaksanaan KKN. Pengembangan produk, peningkatan kualitas, dan pemasaran yang lebih luas diharapkan dapat membantu UMKM Ibu Warliyah semakin berkembang.
Melalui kegiatan tersebut, Tim KKN MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 26 berupaya mendorong pemanfaatan potensi lokal sekaligus memperkuat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat. Keberagaman produk UMKM di Dusun Tugusari diharapkan dapat menjadi potensi ekonomi yang terus dikembangkan dan dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.
Penulis: Lubab Jamaludin Arrumi
Sumber: Tim KKN MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 26