BELITUNG TIMUR, DNID.co.id – Suasana Program Golkar Menyapa di Desa Senyubuk, Kecamatan Kelapa Kampit, Minggu (14/6/2026), mendadak berubah haru. Ketua DPD II Partai Golkar Belitung Timur, Nadiarsyah, tak kuasa membendung air mata saat mengenang perjalanan panjang keluarganya yang telah puluhan tahun mengabdi membesarkan Partai Golkar.
Di hadapan ratusan warga, kader, dan pengurus partai, Nadiarsyah beberapa kali menghentikan sambutannya.
Suaranya bergetar ketika menceritakan bagaimana nilai pengabdian kepada masyarakat diwariskan orang tuanya hingga kini menjadi prinsip yang ia pegang dalam memimpin partai berlambang pohon beringin tersebut.
“Selaku Ketua Partai Golkar dan juga orang Golkar yang dilahirkan dari keluarga Golkar, bapak dan ibu saya adalah pengurus Partai Golkar. Mohon maaf, ada perasaan yang sangat mengharukan bagi saya. Dari orang tua sampai saya, terus memperjuangkan panji-panji Partai Golkar,” ujar Nadiarsyah dengan mata berkaca-kaca.
Momen emosional itu bukan sekadar luapan perasaan. Di tengah meningkatnya tuntutan publik terhadap partai politik agar hadir lebih dekat dengan masyarakat, Nadiarsyah menegaskan bahwa Golkar harus membuktikan pengabdiannya melalui kerja nyata, bukan sekadar retorika politik.
Ia mengaku telah melalui berbagai dinamika politik, termasuk beberapa kali gagal memperoleh amanah sebagai wakil rakyat. Namun, pengalaman tersebut justru memperkuat tekadnya untuk tetap berbuat bagi masyarakat Belitung Timur melalui jalur pengabdian di partai.
“Saya diberi kesempatan untuk memimpin Partai Golkar. Saya diberi kesempatan untuk berbagi melalui Partai Golkar. Jadi amanah itu akan saya jalankan dan saya laksanakan di seluruh penjuru Belitung Timur,” tegasnya.
Program Golkar Menyapa dipimpin langsung oleh Nadiarsyah bersama Sekretaris DPD II Partai Golkar Belitung Timur, Sarjana, Anggota DPRD Belitung Timur Fraksi Golkar Aprialdi Simbolon, Ketua PK Golkar Kelapa Kampit, serta jajaran pengurus dan kader partai.
Kehadiran ibunda Nadiarsyah dalam kegiatan tersebut turut memperkuat suasana emosional. Sosok yang disebutnya sebagai bagian dari sejarah perjuangan keluarga itu menyaksikan langsung putranya mengenang perjalanan panjang membesarkan Golkar di Belitung Timur.
Tak hanya menjadi panggung konsolidasi politik, Program Golkar Menyapa juga diisi berbagai kegiatan sosial. Mulai dari pembagian sembako kepada warga, pendidikan politik kepada masyarakat, hingga pertandingan sepak bola persahabatan antara Imperium Football Club melawan Qoreka Football Club.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi upaya Golkar membuka ruang komunikasi lebih luas dengan masyarakat desa sekaligus menyerap aspirasi secara langsung. Langkah ini dinilai penting di tengah meningkatnya harapan publik agar partai politik tidak hanya hadir menjelang pemilu, tetapi juga aktif menyentuh kebutuhan warga sehari-hari.
“Dulu Partai Golkar sangat menaungi masyarakat, sangat kuat dan sangat peduli dengan masyarakat. Karena itu, ketika saya diberi kesempatan memimpin Partai Golkar, saya ingin amanah ini diwujudkan melalui kerja nyata dan berbagi kepada masyarakat Belitung Timur,” pungkas Nadiarsyah.
Pernyataan itu sekaligus menjadi pesan politik bahwa kepemimpinan Golkar Belitung Timur ke depan akan diuji bukan hanya dari kekuatan elektoral, melainkan sejauh mana mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Tangis Nadiarsyah di Desa Senyubuk pun menjadi simbol bahwa politik, pada akhirnya, juga berbicara tentang pengabdian, warisan nilai, dan kepercayaan rakyat yang harus dijaga.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Golkar Menyapa, Tangis Ketua Jadi Sorotan
SENIN, 15 JUNI 2026
BELITUNG TIMUR, DNID.co.id – Suasana Program Golkar Menyapa di Desa Senyubuk, Kecamatan Kelapa Kampit, Minggu (14/6/2026), mendadak berubah haru. Ketua DPD II Partai Golkar Belitung Timur, Nadiarsyah, tak kuasa membendung air mata saat mengenang perjalanan panjang keluarganya yang telah puluhan tahun mengabdi membesarkan Partai Golkar.
Di hadapan ratusan warga, kader, dan pengurus partai, Nadiarsyah beberapa kali menghentikan sambutannya.
Suaranya bergetar ketika menceritakan bagaimana nilai pengabdian kepada masyarakat diwariskan orang tuanya hingga kini menjadi prinsip yang ia pegang dalam memimpin partai berlambang pohon beringin tersebut.
"Selaku Ketua Partai Golkar dan juga orang Golkar yang dilahirkan dari keluarga Golkar, bapak dan ibu saya adalah pengurus Partai Golkar. Mohon maaf, ada perasaan yang sangat mengharukan bagi saya. Dari orang tua sampai saya, terus memperjuangkan panji-panji Partai Golkar," ujar Nadiarsyah dengan mata berkaca-kaca.
Momen emosional itu bukan sekadar luapan perasaan. Di tengah meningkatnya tuntutan publik terhadap partai politik agar hadir lebih dekat dengan masyarakat, Nadiarsyah menegaskan bahwa Golkar harus membuktikan pengabdiannya melalui kerja nyata, bukan sekadar retorika politik.
Ia mengaku telah melalui berbagai dinamika politik, termasuk beberapa kali gagal memperoleh amanah sebagai wakil rakyat. Namun, pengalaman tersebut justru memperkuat tekadnya untuk tetap berbuat bagi masyarakat Belitung Timur melalui jalur pengabdian di partai.
"Saya diberi kesempatan untuk memimpin Partai Golkar. Saya diberi kesempatan untuk berbagi melalui Partai Golkar. Jadi amanah itu akan saya jalankan dan saya laksanakan di seluruh penjuru Belitung Timur," tegasnya.
Program Golkar Menyapa dipimpin langsung oleh Nadiarsyah bersama Sekretaris DPD II Partai Golkar Belitung Timur, Sarjana, Anggota DPRD Belitung Timur Fraksi Golkar Aprialdi Simbolon, Ketua PK Golkar Kelapa Kampit, serta jajaran pengurus dan kader partai.
Kehadiran ibunda Nadiarsyah dalam kegiatan tersebut turut memperkuat suasana emosional. Sosok yang disebutnya sebagai bagian dari sejarah perjuangan keluarga itu menyaksikan langsung putranya mengenang perjalanan panjang membesarkan Golkar di Belitung Timur.
Tak hanya menjadi panggung konsolidasi politik, Program Golkar Menyapa juga diisi berbagai kegiatan sosial. Mulai dari pembagian sembako kepada warga, pendidikan politik kepada masyarakat, hingga pertandingan sepak bola persahabatan antara Imperium Football Club melawan Qoreka Football Club.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi upaya Golkar membuka ruang komunikasi lebih luas dengan masyarakat desa sekaligus menyerap aspirasi secara langsung. Langkah ini dinilai penting di tengah meningkatnya harapan publik agar partai politik tidak hanya hadir menjelang pemilu, tetapi juga aktif menyentuh kebutuhan warga sehari-hari.
"Dulu Partai Golkar sangat menaungi masyarakat, sangat kuat dan sangat peduli dengan masyarakat. Karena itu, ketika saya diberi kesempatan memimpin Partai Golkar, saya ingin amanah ini diwujudkan melalui kerja nyata dan berbagi kepada masyarakat Belitung Timur," pungkas Nadiarsyah.
Pernyataan itu sekaligus menjadi pesan politik bahwa kepemimpinan Golkar Belitung Timur ke depan akan diuji bukan hanya dari kekuatan elektoral, melainkan sejauh mana mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Tangis Nadiarsyah di Desa Senyubuk pun menjadi simbol bahwa politik, pada akhirnya, juga berbicara tentang pengabdian, warisan nilai, dan kepercayaan rakyat yang harus dijaga.