Jeneponto, dnid.co.id – Satuan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontomanai akhirnya angkat bicara terkait dugaan kasus keracunan yang menimpa puluhan siswa SDN 7 Kambutta Toa, Desa Ujung Bulu, Kecamatan Rumbia, Kabupaten JENEPONTO, pada Rabu (22/4/2026).
Peristiwa tersebut sempat menghebohkan warga setelah puluhan siswa mengalami gejala kesehatan usai mengonsumsi makanan yang disediakan. Sejumlah siswa bahkan harus dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.
Salah satu pengelola SPPG Bontomanai menjelaskan bahwa bahan makanan berupa ikan yang digunakan dalam menu saat itu dalam kondisi segar saat tiba di dapur.
“Ikan sebanyak 2.230 potong masuk ke dapur dalam keadaan tertutup plastik, kemudian langsung diproses di bagian persiapan sebelum diolah,” jelasnya saat dikonfirmasi.
Ia juga menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam pasca kejadian tersebut. SPPG telah melakukan berbagai langkah, termasuk menjenguk para siswa yang dirawat di rumah sakit dan puskesmas, serta terus berkoordinasi dengan pihak sekolah.
“Kami sudah ke rumah sakit dan puskesmas untuk menjenguk pasien. Sampai sekarang kami masih berkoordinasi dengan pihak sekolah terkait kondisi siswa yang sudah diperbolehkan pulang,” tambahnya.
Selain itu, SPPG juga telah melaporkan secara khusus kejadian tersebut kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bentuk tanggung jawab dan evaluasi.
Sebagai langkah lanjutan, pihak SPPG turut melakukan koordinasi dengan orang tua siswa dan pihak pemasok bahan makanan. Disebutkan bahwa pihak supplier bersedia menanggung biaya pengobatan siswa yang terdampak.
“Langkah yang kami ambil adalah koordinasi dengan orang tua siswa dan pihak supplier, termasuk kesediaan mereka menanggung biaya rumah sakit,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Tompobulu, Sudarmi Salawaty, S.ST, memaparkan jumlah siswa yang mendapatkan penanganan medis akibat kejadian tersebut.
“Total ada 28 siswa yang masuk hingga malam hari. Sebanyak 14 orang dirawat dengan infus, sementara 14 lainnya menjalani rawat jalan dan observasi,” jelasnya.
Dari jumlah tersebut, delapan siswa yang kondisinya lebih serius harus dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lanjutan.
Sudarmi mengungkapkan, para siswa mengalami berbagai gejala, di antaranya lemas akibat diare berulang, demam, hingga sesak napas. Bahkan, berdasarkan keterangan keluarga, ada siswa yang mengalami muntah.
Meski demikian, pihak puskesmas belum dapat memastikan penyebab pasti dari kejadian tersebut.
“Kami belum bisa menyimpulkan ini keracunan tanpa hasil pemeriksaan laboratorium. Saat ini, pihak kepolisian juga sudah mengambil sampel makanan untuk diuji,” tegasnya.
Ia menambahkan, penanganan medis yang diberikan disesuaikan dengan keluhan masing-masing pasien serta berdasarkan informasi yang dihimpun dari orang tua maupun keluarga siswa.
Hingga saat ini, pihak terkait masih menunggu hasil uji laboratorium guna memastikan penyebab pasti insiden tersebut, sekaligus sebagai dasar untuk langkah penanganan dan pencegahan ke depan.
























