Bantaeng, DNID.co.id, – Puluhan massa yang tergabung dalam Pergerakan Demokrasi Aliansi Masyarakat (PDAM) menggelar unjuk rasa dan menyegel kantor PDAM Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Rabu (6/5/2026).
Unjuk rasa tersebut dilakukan sebagai bentuk penolakan keras atas kembalinya Suardi sebagai Direktur PDAM.
Aksi demontrasi disertai penyegelan kantor PDAM kali ini merupakan kelanjutan aksi sebelumnya.
Kordinator Lapangan (Korlap), Idris Reformasi, menilai bahwa Suardi tak layak lagi memimpin PDAM karena terjerat berbagai persoalan.
Suardi juga disebut sebagai mafia proyek bahkan tak tanggung-tanggung, Suardi rela mencatut nama Bupati Bantaeng demi kelancaran bisnisnya.
Idris pun mendesak Bupati Bantaeng untuk segera mencopot Suardi dari posisi Direktur.
“Maka dengan itu kami menolak Suardi kembali menjabat Direktur PDAM Bantaeng dan meminta Bupati komitmen dengan perkataannya yang mau memberhentikan ustad Suardi secara permanen,” ujarnya.
Adapun tuntutan massa aksi sebagai berikut:
1. Diduga terlibat mafia proyek mengatasnamakan Bupati Bantaeng.
2. Menghilangkan tempat ibadah
3. Menciptakan kesenjangan antara karyawan lama dan karyawan baru
4. Melakukan perekrutan karyawan baru sebanyak 44 orang tanpa memperhitungkan rasio jumlah pelanggan
5. Melakukan pengurangan, pemotongan bahkan menghilangkan Hak karyawan tetap
6. Melakukan pengangkatan karyawan tetap yang melebihi batas usia
7. Menjadikan ruang Direktur sebagai tempat transaksi pembayaran tagihan/Tunggakan yang mana stafnya semua adalah perempuan cantik
8. Melakukan perubahan peraturan perusahaan secara sepihak
9. Melakukan kerjasama penyusunan Randis dengan melibatkan Eksternal yang sampai hari ini belum ada kejelasan dan telah melawati batas perjanjian kerjasama.
Sementara itu, aksi unjuk rasa yang berlangsung hari ini berjalan panas. Di mana, dua kelompok saling bersitegang dilokasi, bahkan nyaris bentrok usai terlibat saling dorong antara demonstran dan aparat keamanan.
Situasi pun tambah memanas saat Suardi datang ke lokasi dengan pengawalan ketat aparat kepolisian, dan berupaya memasuki kantor untuk menjalankan tugasnya.
Kedatangannya tersebut langsung dihadang oleh massa yang telah berjaga di halaman kantor, hingga memicu ketegangan dan aksi saling dorong pun tak terhindarkan.
Beruntung, aparat kepolisian sigap mengendalikan situasi sehingga bentrokan lebih besar dapat dicegah.
Suardi juga sempat berupaya masuk ke ruang kerjanya, namun kondisi yang tidak kondusif membuat petugas segera mengamankan dan mengarahkannya menuju rumah jabatan bupati yang berada tak jauh dari lokasi kejadian.
























