Breakingnews! Polda Sulsel Tetapkan Bripda P Jadi Tersangka Kematian Bripda Dirja Pratama
Polda Sulsel gelar konferensi pers terkait kematian Bripda Dirja Pratama di Mapolres Pinrang. (Dok.Ist)
Pinrang, DNID.co.id – Duka mendalam menyelimuti kediaman almarhum Bripda Dirja Pratama (19) di Desa Pincara, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, Senin (23/2/2026) pagi. Kapolda Sulawesi Selatan (Sulsel), Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo, datang langsung melayat dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Sekitar pukul 10.40 WITA, Kapolda tiba bersama Pejabat Utama (PJU) Polda Sulsel. Di depan rumah duka, ayah korban, Aipda Muhammad Jabir, yang juga anggota Polri, langsung dipeluk Kapolda. Beberapa kali Kapolda mengelus pundaknya sebagai bentuk empati sembari menyampaikan belasungkawa.
Sementara itu, ibunda almarhum, Sumarni, tak kuasa menahan tangis. Sambil menggenggam tangan Kapolda, ia meminta agar kasus kematian putranya diusut hingga tuntas.
Satu Tersangka Diamankan
Usai melayat, Polda Sulsel menggelar konferensi pers di Mapolres Pinrang. Dalam keterangannya, Kapolda menegaskan bahwa hasil pemeriksaan awal membantah laporan pertama yang menyebut korban meninggal karena membenturkan kepala sendiri.
“Kami sampaikan bahwa telah meninggal Bripda Dirja Pratama, laporan awal yang kami terima yang bersangkutan meninggal akibat membentur-benturkan kepala. Namun kami tidak langsung percaya begitu saja. Kami langsung mengecek kebenaran tersebut. Secara scientific kami buktikan, apa yang disampaikan anggota yang melaporkan itu tidak benar,” ujar Kapolda dalam konferensi pers.
Ia menjelaskan, hasil pemeriksaan medis menemukan adanya sejumlah luka lebam pada tubuh korban yang mengarah pada dugaan penganiayaan.
“Setelah kita melaksanakan upaya pemeriksaan oleh Biddokkes, kita temukan beberapa yang lebam, kemudian kita yakini itu adalah penganiayaan, dan dengan kerja keras kami dari Bid Propam, kemudian Direktorat Kriminal Umum, kami bisa membuktikan bahwa telah terjadi penganiayaan terhadap korban,” lanjutnya.
Polda Sulsel pun menetapkan satu orang tersangka berinisial Bripda P, yang merupakan senior korban.
“Kita menetapkan satu orang tersangka atas nama P, pangkat Bripda yang merupakan senior dari korban,” tegas Kapolda.
Meski demikian, penyidikan belum berhenti. Lima anggota lainnya masih menjalani pemeriksaan intensif dan tidak menutup kemungkinan akan ada tambahan tersangka.
Kapolda memastikan bahwa institusi Polri akan bertindak tegas terhadap anggota yang melanggar hukum maupun kode etik.
“Kemudian kami, dalam hal ini Bapak Kapolri, kemudian kami di jajaran Polda Sulsel, akan terus berkomitmen memberikan penindakan tegas terhadap anggota-anggota yang melanggar pidana dan aturan. Dan kami akan transparan bahwa proses berjalan secara profesional, dan dalam waktu dekat kepada anggota yang terlibat kita akan proses secara etika,” tutupnya.
Diberitakan sebelumnya, kematian Bripda Dirja memunculkan tanda tanya besar dari pihak keluarga. Korban yang baru saja lulus pendidikan kepolisian dan bertugas di Direktorat Samapta Polda Sulsel itu ditemukan dalam kondisi mengeluarkan darah dari mulut.
“Itu yang kami pertanyakan (dugaan penganiayaan), karena ada darah keluar dari mulutnya,” kata Aipda Muhammad Jabir, Minggu (22/2/2026).
Menurut Jabir, beberapa jam sebelum kejadian, putranya masih sempat berkomunikasi dengan ibunya dan dalam kondisi sehat.
“Ini makanya saya ke mari. Karena tadi subuh, (Dirja) komunikasi sama ibunya masih baik, tidak ada mengeluh sakit,” ungkapnya.
Jenazah sempat dibawa ke RSUD Daya sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk diautopsi. Hingga kini, keluarga masih menunggu hasil autopsi guna mengetahui penyebab pasti kematian Dirja.
Kabid Propam Polda Sulsel, Kombes Pol Zulham Efendy, membenarkan bahwa pihaknya telah memeriksa enam personel terkait peristiwa tersebut.
“Lagi kita dalami ada beberapa orang kita periksa untuk memastikan. Sudah enam orang kami periksa,” ujarnya.
Ia menambahkan, korban berada di asrama setelah salat subuh sebelum akhirnya mengalami kondisi yang membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit.
“Iya di asrama habis salat subuh tiba tiba. Dia itu sama seniornya dua orang dan lettingnya satu. Tiba-tiba habis salat subuh anak ini kelihatannya kenapa begitu nanti kita dalami dulu,” pungkasnya.
Kini, publik menanti hasil autopsi dan perkembangan penyidikan lebih lanjut. Di tengah duka yang mendalam, keluarga berharap keadilan ditegakkan dan kebenaran terungkap sepenuhnya.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Breakingnews! Polda Sulsel Tetapkan Bripda P Jadi Tersangka Kematian Bripda Dirja Pratama
SENIN, 23 FEBRUARI 2026
Pinrang, DNID.co.id - Duka mendalam menyelimuti kediaman almarhum Bripda Dirja Pratama (19) di Desa Pincara, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, Senin (23/2/2026) pagi. Kapolda Sulawesi Selatan (Sulsel), Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo, datang langsung melayat dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Sekitar pukul 10.40 WITA, Kapolda tiba bersama Pejabat Utama (PJU) Polda Sulsel. Di depan rumah duka, ayah korban, Aipda Muhammad Jabir, yang juga anggota Polri, langsung dipeluk Kapolda. Beberapa kali Kapolda mengelus pundaknya sebagai bentuk empati sembari menyampaikan belasungkawa.
Sementara itu, ibunda almarhum, Sumarni, tak kuasa menahan tangis. Sambil menggenggam tangan Kapolda, ia meminta agar kasus kematian putranya diusut hingga tuntas.
Satu Tersangka Diamankan
Usai melayat, Polda Sulsel menggelar konferensi pers di Mapolres Pinrang. Dalam keterangannya, Kapolda menegaskan bahwa hasil pemeriksaan awal membantah laporan pertama yang menyebut korban meninggal karena membenturkan kepala sendiri.
"Kami sampaikan bahwa telah meninggal Bripda Dirja Pratama, laporan awal yang kami terima yang bersangkutan meninggal akibat membentur-benturkan kepala. Namun kami tidak langsung percaya begitu saja. Kami langsung mengecek kebenaran tersebut. Secara scientific kami buktikan, apa yang disampaikan anggota yang melaporkan itu tidak benar," ujar Kapolda dalam konferensi pers.
Ia menjelaskan, hasil pemeriksaan medis menemukan adanya sejumlah luka lebam pada tubuh korban yang mengarah pada dugaan penganiayaan.
"Setelah kita melaksanakan upaya pemeriksaan oleh Biddokkes, kita temukan beberapa yang lebam, kemudian kita yakini itu adalah penganiayaan, dan dengan kerja keras kami dari Bid Propam, kemudian Direktorat Kriminal Umum, kami bisa membuktikan bahwa telah terjadi penganiayaan terhadap korban," lanjutnya.
Polda Sulsel pun menetapkan satu orang tersangka berinisial Bripda P, yang merupakan senior korban.
"Kita menetapkan satu orang tersangka atas nama P, pangkat Bripda yang merupakan senior dari korban," tegas Kapolda.
Meski demikian, penyidikan belum berhenti. Lima anggota lainnya masih menjalani pemeriksaan intensif dan tidak menutup kemungkinan akan ada tambahan tersangka.
Kapolda memastikan bahwa institusi Polri akan bertindak tegas terhadap anggota yang melanggar hukum maupun kode etik.
"Kemudian kami, dalam hal ini Bapak Kapolri, kemudian kami di jajaran Polda Sulsel, akan terus berkomitmen memberikan penindakan tegas terhadap anggota-anggota yang melanggar pidana dan aturan. Dan kami akan transparan bahwa proses berjalan secara profesional, dan dalam waktu dekat kepada anggota yang terlibat kita akan proses secara etika," tutupnya.
Diberitakan sebelumnya, kematian Bripda Dirja memunculkan tanda tanya besar dari pihak keluarga. Korban yang baru saja lulus pendidikan kepolisian dan bertugas di Direktorat Samapta Polda Sulsel itu ditemukan dalam kondisi mengeluarkan darah dari mulut.
"Itu yang kami pertanyakan (dugaan penganiayaan), karena ada darah keluar dari mulutnya," kata Aipda Muhammad Jabir, Minggu (22/2/2026).
Menurut Jabir, beberapa jam sebelum kejadian, putranya masih sempat berkomunikasi dengan ibunya dan dalam kondisi sehat.
"Ini makanya saya ke mari. Karena tadi subuh, (Dirja) komunikasi sama ibunya masih baik, tidak ada mengeluh sakit," ungkapnya.
Jenazah sempat dibawa ke RSUD Daya sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk diautopsi. Hingga kini, keluarga masih menunggu hasil autopsi guna mengetahui penyebab pasti kematian Dirja.
Kabid Propam Polda Sulsel, Kombes Pol Zulham Efendy, membenarkan bahwa pihaknya telah memeriksa enam personel terkait peristiwa tersebut.
"Lagi kita dalami ada beberapa orang kita periksa untuk memastikan. Sudah enam orang kami periksa," ujarnya.
Ia menambahkan, korban berada di asrama setelah salat subuh sebelum akhirnya mengalami kondisi yang membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit.
"Iya di asrama habis salat subuh tiba tiba. Dia itu sama seniornya dua orang dan lettingnya satu. Tiba-tiba habis salat subuh anak ini kelihatannya kenapa begitu nanti kita dalami dulu," pungkasnya.
Kini, publik menanti hasil autopsi dan perkembangan penyidikan lebih lanjut. Di tengah duka yang mendalam, keluarga berharap keadilan ditegakkan dan kebenaran terungkap sepenuhnya.