Yayasan Sulapa Eppae Gelar Seminar Kebudayaan, Dorong Evaluasi dan Pemajuan Budaya Sulsel
Yayasan Sulapa Eppae menggelar Seminar Kebudayaan di gedung Mulo Makassar. (dok:Arief)
Makassar, DNID.co.id – Yayasan Sulapa Eppae menggelar Seminar Kebudayaan Sulawesi Selatan 2026 bertema “Gerakan Pemajuan Kebudayaan Melalui Pembelajaran Budaya Bugis” di Gedung Mulo Makassar, Sabtu (20/6/2026).
Kegiatan yang dihadiri pegiat seni, budayawan, akademisi, perwakilan kampus, perwakilan sekolah budaya, hingga peserta dari berbagai daerah ini menjadi ruang diskusi untuk mengevaluasi pelaksanaan program kebudayaan sekaligus merumuskan langkah strategis dalam pemajuan budaya Bugis dan kebudayaan Sulawesi Selatan secara umum.
Seminar dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan, Andi Mirna. Sebanyak enam narasumber turut hadir membawakan materi terkait pengembangan dan pelestarian kebudayaan.
Ketua Panitia Pelaksana, Jamal Andi, mengatakan kegiatan tersebut terlaksana berkat dukungan Dana Indonesiana melalui program bantuan kelembagaan. Menurutnya, seminar ini diharapkan mampu melahirkan gagasan baru sekaligus menjadi sarana evaluasi terhadap berbagai kegiatan kebudayaan yang telah berlangsung.
“Tujuan seminar ini untuk mengevaluasi kegiatan-kegiatan Kebudayaan yang berlangsung selama setahun sebelumnya,” kata Jamal Andi.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel, Andi Mirna, mengapresiasi konsistensi Yayasan Sulapa Eppae dalam menggelar kegiatan yang berorientasi pada pelestarian budaya daerah.
“Saya mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan Yayasan Sulapa Eppae, dan harus dilakukan terus menerus, karena sejarah dan budaya tidak boleh hilang,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Mirna mengungkapkan bahwa pemerintah provinsi terus berupaya mendorong pemajuan kebudayaan meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran.
“Selama 4 bulan, kami telah menandatangani 32 rekomendasi terkait pemajuan Kebudayaan Sulawesi Selatan walaupun kami harus mengakui memiliki keterbatasan anggaran dalam pelaksanaan kegiatan Kebudayaan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan pelestarian sejarah, tetapi juga menjadi fondasi pembangunan daerah di masa depan.
Menurutnya, terdapat empat strategi utama dalam pemajuan kebudayaan, yakni perlindungan, pengembangan, pelestarian, dan pembinaan.
Di sisi lain, Ketua Dewan Pembina Yayasan Sulapa Eppae, Ajiep Padindang, menyoroti perkembangan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pemajuan Kebudayaan Sulawesi Selatan. Ia menyebut lahirnya Ranperda tersebut tidak lepas dari peran para budayawan dan pegiat seni di Sulawesi Selatan.
“Kami bersama seluruh budayawan dan pegiat seni, telah menginisiasi hingga lahirnya Ranperda Pemajuan Kebudayaan,” ungkapnya.
Ajiep menilai kebudayaan merupakan sumber nilai sekaligus identitas yang membedakan suatu daerah dengan daerah lainnya, suatu bangsa denga bangsa lainnya.
“Budaya kita memiliki nilai luhur dan menjadi identitas kedaerahan yang melekat,” pungkasnya.
Seminar berlangsung dengan antusiasme tinggi dari peserta. Melalui forum tersebut, para pemangku kepentingan berharap lahir rekomendasi dan konsep baru yang dapat memperkuat upaya pemajuan kebudayaan di Sulawesi Selatan.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Yayasan Sulapa Eppae Gelar Seminar Kebudayaan, Dorong Evaluasi dan Pemajuan Budaya Sulsel
SENIN, 22 JUNI 2026
Makassar, DNID.co.id – Yayasan Sulapa Eppae menggelar Seminar Kebudayaan Sulawesi Selatan 2026 bertema “Gerakan Pemajuan Kebudayaan Melalui Pembelajaran Budaya Bugis” di Gedung Mulo Makassar, Sabtu (20/6/2026).
Kegiatan yang dihadiri pegiat seni, budayawan, akademisi, perwakilan kampus, perwakilan sekolah budaya, hingga peserta dari berbagai daerah ini menjadi ruang diskusi untuk mengevaluasi pelaksanaan program kebudayaan sekaligus merumuskan langkah strategis dalam pemajuan budaya Bugis dan kebudayaan Sulawesi Selatan secara umum.
Seminar dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan, Andi Mirna. Sebanyak enam narasumber turut hadir membawakan materi terkait pengembangan dan pelestarian kebudayaan.
Ketua Panitia Pelaksana, Jamal Andi, mengatakan kegiatan tersebut terlaksana berkat dukungan Dana Indonesiana melalui program bantuan kelembagaan. Menurutnya, seminar ini diharapkan mampu melahirkan gagasan baru sekaligus menjadi sarana evaluasi terhadap berbagai kegiatan kebudayaan yang telah berlangsung.
“Tujuan seminar ini untuk mengevaluasi kegiatan-kegiatan Kebudayaan yang berlangsung selama setahun sebelumnya,” kata Jamal Andi.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel, Andi Mirna, mengapresiasi konsistensi Yayasan Sulapa Eppae dalam menggelar kegiatan yang berorientasi pada pelestarian budaya daerah.
“Saya mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan Yayasan Sulapa Eppae, dan harus dilakukan terus menerus, karena sejarah dan budaya tidak boleh hilang,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Mirna mengungkapkan bahwa pemerintah provinsi terus berupaya mendorong pemajuan kebudayaan meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran.
“Selama 4 bulan, kami telah menandatangani 32 rekomendasi terkait pemajuan Kebudayaan Sulawesi Selatan walaupun kami harus mengakui memiliki keterbatasan anggaran dalam pelaksanaan kegiatan Kebudayaan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan pelestarian sejarah, tetapi juga menjadi fondasi pembangunan daerah di masa depan.
Menurutnya, terdapat empat strategi utama dalam pemajuan kebudayaan, yakni perlindungan, pengembangan, pelestarian, dan pembinaan.
Di sisi lain, Ketua Dewan Pembina Yayasan Sulapa Eppae, Ajiep Padindang, menyoroti perkembangan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pemajuan Kebudayaan Sulawesi Selatan. Ia menyebut lahirnya Ranperda tersebut tidak lepas dari peran para budayawan dan pegiat seni di Sulawesi Selatan.
“Kami bersama seluruh budayawan dan pegiat seni, telah menginisiasi hingga lahirnya Ranperda Pemajuan Kebudayaan,” ungkapnya.
Ajiep menilai kebudayaan merupakan sumber nilai sekaligus identitas yang membedakan suatu daerah dengan daerah lainnya, suatu bangsa denga bangsa lainnya.
“Budaya kita memiliki nilai luhur dan menjadi identitas kedaerahan yang melekat,” pungkasnya.
Seminar berlangsung dengan antusiasme tinggi dari peserta. Melalui forum tersebut, para pemangku kepentingan berharap lahir rekomendasi dan konsep baru yang dapat memperkuat upaya pemajuan kebudayaan di Sulawesi Selatan.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.