KKN MIT Posko 111 Kenalkan UMKM Cincau Botorejo Lewat Media Digital
Mahasiswa KKN MIT Posko 111 UIN Walisongo sedang membantu proses pembersihan cincau dari buih
DEMAK – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT Posko 111 melakukan kunjungan ke rumah produksi cincau hitam milik warga Desa Botorejo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, Rabu (19/8/2026). Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya mengenal potensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal sekaligus mendorong promosi produk melalui pemanfaatan media digital.
Kunjungan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB itu menjadi bagian dari program mahasiswa KKN dalam menggali potensi ekonomi masyarakat desa. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa melihat secara langsung proses produksi cincau hitam serta berdiskusi mengenai perjalanan usaha yang telah berjalan secara turun-temurun.
Rumah produksi cincau yang dikunjungi merupakan milik Ali Sofyan. Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Saefwo memberikan penjelasan kepada mahasiswa mengenai tahapan pembuatan cincau hitam, mulai dari proses pengolahan bahan baku hingga produk siap dipasarkan.
Ahmad menjelaskan, proses pembuatan cincau diawali dengan penimbangan daun cincau kering yang kemudian direbus untuk memperoleh ekstrak alami. Air hasil rebusan tersebut selanjutnya diolah dengan tambahan soda dan tepung tapioka hingga menghasilkan tekstur cincau yang khas.
Keunikan produk cincau tersebut terletak pada penggunaan bahan alami tanpa tambahan pewarna kimia. Warna hitam pada cincau diperoleh dari ekstrak daun cincau yang menjadi bahan utama dalam proses produksi.
“Proses produksi membutuhkan waktu beberapa jam, terutama pada tahap perebusan. Setelah selesai diolah, cincau didiamkan hingga mengeras sebelum dipotong dan siap dipasarkan. Produksi dilakukan sesuai pesanan, dengan jumlah sekitar 20–30 kilogram dalam sekali produksi,” ujar Ahmad Saefwo.
Selain mempelajari proses produksi, mahasiswa juga menggali informasi mengenai perkembangan usaha cincau tersebut. Berdasarkan penuturan Ahmad, usaha ini telah diwariskan antar-generasi dan masih bertahan hingga saat ini dengan pelanggan tetap yang melakukan pemesanan secara berkala.
Koordinator Ekonomi Kreatif KKN MIT Posko 111, Tuta Putra W, mengatakan kunjungan tersebut menjadi langkah mahasiswa untuk mengenalkan potensi UMKM Desa Botorejo kepada masyarakat yang lebih luas.
“Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya belajar mengenai proses produksi cincau, tetapi juga berupaya membantu memperkenalkan produk lokal melalui media sosial. Harapannya, video promosi yang dibuat dapat menjadi media untuk mengenalkan UMKM Desa Botorejo,” ungkap Tuta.
Hasil dokumentasi berupa foto dan video selama kunjungan akan dikemas menjadi konten promosi digital yang rencananya dipublikasikan melalui akun media sosial KKN MIT Posko 111.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berharap produk cincau hitam khas Desa Botorejo semakin dikenal dan memiliki peluang pemasaran yang lebih luas. Selain mendukung pengembangan UMKM, kegiatan ini juga menjadi pengalaman bagi mahasiswa untuk memahami potensi ekonomi lokal serta inovasi pemasaran berbasis digital.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
KKN MIT Posko 111 Kenalkan UMKM Cincau Botorejo Lewat Media Digital
KAMIS, 20 AGUSTUS 2026
DEMAK – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT Posko 111 melakukan kunjungan ke rumah produksi cincau hitam milik warga Desa Botorejo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, Rabu (19/8/2026). Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya mengenal potensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal sekaligus mendorong promosi produk melalui pemanfaatan media digital.
Kunjungan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB itu menjadi bagian dari program mahasiswa KKN dalam menggali potensi ekonomi masyarakat desa. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa melihat secara langsung proses produksi cincau hitam serta berdiskusi mengenai perjalanan usaha yang telah berjalan secara turun-temurun.
Rumah produksi cincau yang dikunjungi merupakan milik Ali Sofyan. Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Saefwo memberikan penjelasan kepada mahasiswa mengenai tahapan pembuatan cincau hitam, mulai dari proses pengolahan bahan baku hingga produk siap dipasarkan.
Ahmad menjelaskan, proses pembuatan cincau diawali dengan penimbangan daun cincau kering yang kemudian direbus untuk memperoleh ekstrak alami. Air hasil rebusan tersebut selanjutnya diolah dengan tambahan soda dan tepung tapioka hingga menghasilkan tekstur cincau yang khas.
Keunikan produk cincau tersebut terletak pada penggunaan bahan alami tanpa tambahan pewarna kimia. Warna hitam pada cincau diperoleh dari ekstrak daun cincau yang menjadi bahan utama dalam proses produksi.
“Proses produksi membutuhkan waktu beberapa jam, terutama pada tahap perebusan. Setelah selesai diolah, cincau didiamkan hingga mengeras sebelum dipotong dan siap dipasarkan. Produksi dilakukan sesuai pesanan, dengan jumlah sekitar 20–30 kilogram dalam sekali produksi,” ujar Ahmad Saefwo.
Selain mempelajari proses produksi, mahasiswa juga menggali informasi mengenai perkembangan usaha cincau tersebut. Berdasarkan penuturan Ahmad, usaha ini telah diwariskan antar-generasi dan masih bertahan hingga saat ini dengan pelanggan tetap yang melakukan pemesanan secara berkala.
Koordinator Ekonomi Kreatif KKN MIT Posko 111, Tuta Putra W, mengatakan kunjungan tersebut menjadi langkah mahasiswa untuk mengenalkan potensi UMKM Desa Botorejo kepada masyarakat yang lebih luas.
“Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya belajar mengenai proses produksi cincau, tetapi juga berupaya membantu memperkenalkan produk lokal melalui media sosial. Harapannya, video promosi yang dibuat dapat menjadi media untuk mengenalkan UMKM Desa Botorejo,” ungkap Tuta.
Hasil dokumentasi berupa foto dan video selama kunjungan akan dikemas menjadi konten promosi digital yang rencananya dipublikasikan melalui akun media sosial KKN MIT Posko 111.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berharap produk cincau hitam khas Desa Botorejo semakin dikenal dan memiliki peluang pemasaran yang lebih luas. Selain mendukung pengembangan UMKM, kegiatan ini juga menjadi pengalaman bagi mahasiswa untuk memahami potensi ekonomi lokal serta inovasi pemasaran berbasis digital.