Sutan Nasomal Minta Presiden Prabowo Tinjau Juklak Perbankan

MAKASSAR.DNID.co.id–Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hari ini, Sabtu (22/2/2025) mengumumkan temuan investigasi mereka terkait dua kasus korupsi besar: skandal kredit fiktif di Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan penyalahgunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Indonesia (BI).

Kedua kasus ini telah menimbulkan kerugian negara yang signifikan, diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah.

Skandal Kredit Fiktif BRI, KPK menemukan bukti kuat adanya kredit yang disetujui tanpa melalui proses verifikasi dan validasi yang semestinya.

Modus yang digunakan meliputi pemalsuan dokumen, manipulasi data, dan penyimpangan prosedur kredit.

Sejumlah pejabat BRI dan pihak eksternal telah ditetapkan sebagai tersangka dan sedang menjalani proses hukum lebih lanjut.

KPK mendesak BRI untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan kontrol internalnya.

Penyalahgunaan Dana CSR Bank Indonesia: KPK juga tengah mengusut tuntas dugaan korupsi dana CSR BI yang nilainya mencapai triliunan rupiah. Penyelidikan mengarah pada indikasi kuat bahwa dana tersebut tidak digunakan sesuai peruntukan dan diduga disalurkan kepada pihak-pihak yang tidak berhak, termasuk anggota Komisi XI DPR RI.

Pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, termasuk pejabat BI, OJK, dan tenaga ahli DPR, telah dilakukan untuk mengungkap aliran dana dan kemungkinan penyalahgunaan.

Tanggapan Pakar Hukum Internasional Prof. Dr. Sutan Nasomal, pakar hukum mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil tindakan tegas terhadap kedua skandal ini. Ia menekankan perlunya bersih-bersih di BUMN, reformasi manajemen perbankan (baik swasta maupun BUMN), revisi regulasi, dan penataan manajemen bank daerah yang lebih ketat.

Prof. Nasomal menyebut keterlibatan pejabat bank negara dengan pihak swasta sebagai kejahatan luar biasa yang merugikan negara secara signifikan.

Sejauh ini Seruan KPK, menyerukan kepada masyarakat untuk aktif melaporkan dugaan tindak pidana korupsi. Lembaga antirasuah ini berkomitmen untuk mengusut tuntas kedua kasus ini dan membawa para pelaku ke pengadilan, serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas di sektor perbankan.

Narasumber , Prof Dr Sutan Nasomal. (MT)

Simpan Gambar:

Sabtu, 22 Februari 2025

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Penulis: Mursalim Tahir

Editor: Admin

Sumber Berita: Prof Dr Sutan Nasomal. (MT)

Menghubungkan ke server...
Simpan Gambar:

Berita Terkait

PMII Unmul Minta Evaluasi TGUPP Kaltim: Dinilai Tidak Efisien dan Rawan Konflik Kepentingan
Polda Metro Jaya Sebut Ada Perubahan Pola Aktivitas Warga di Bulan Puasa
PLTN Bangka Belitung dan pelajaran mahal tentang keputusan publik yang lahir dari ketidaktahuan
Refleksi Kritis Keberpihakan HmI : Antara Amanah Perjuangan Keummatan atau Kenyamanan Lingkaran Kekuasaan
Slovakia dan AS Kerja Sama Bangun PLTN, Indonesia Siap Menyusul?
Kebutuhan Listrik Industri Data Center Terus Melonjak, Energi Nuklir Mulai Dilirik
JALAN PINTAS DEMOKRASI: OLIGARKI DIANGKAT, DEMOKRASI HILANG DAULAT
Mengapa Dunia Kembali Memilih Nuklir?
Berita ini 39 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 7 Maret 2026 - 19:36 WITA

PMII Unmul Minta Evaluasi TGUPP Kaltim: Dinilai Tidak Efisien dan Rawan Konflik Kepentingan

Sabtu, 21 Februari 2026 - 14:17 WITA

Polda Metro Jaya Sebut Ada Perubahan Pola Aktivitas Warga di Bulan Puasa

Minggu, 8 Februari 2026 - 15:31 WITA

PLTN Bangka Belitung dan pelajaran mahal tentang keputusan publik yang lahir dari ketidaktahuan

Kamis, 5 Februari 2026 - 16:22 WITA

Refleksi Kritis Keberpihakan HmI : Antara Amanah Perjuangan Keummatan atau Kenyamanan Lingkaran Kekuasaan

Senin, 26 Januari 2026 - 14:21 WITA

Slovakia dan AS Kerja Sama Bangun PLTN, Indonesia Siap Menyusul?

Sabtu, 24 Januari 2026 - 13:27 WITA

Kebutuhan Listrik Industri Data Center Terus Melonjak, Energi Nuklir Mulai Dilirik

Jumat, 16 Januari 2026 - 00:53 WITA

JALAN PINTAS DEMOKRASI: OLIGARKI DIANGKAT, DEMOKRASI HILANG DAULAT

Jumat, 9 Januari 2026 - 12:20 WITA

Mengapa Dunia Kembali Memilih Nuklir?

Berita Terbaru