Pencurian Sistematis Berbulan-bulan Terbongkar, Pelaku Akui Motif Bertahan Hidup Sehari-hari Pahit
Pangkalpinang, DNID.co.id — Aroma besi, debu kardus, dan derit pintu gudang masih terasa di lorong Gedung Nasional, Jalan Jenderal Sudirman, Pangkalpinang. Namun Kamis (26/2/2026) pagi itu, suasana berubah tegang. Tim Buser Naga Satreskrim Polresta Pangkalpinang menyergap enam pria—bukan perampok profesional, melainkan karyawan yang diam-diam membobol tempat kerja mereka sendiri.
Kasus pencurian yang sebelumnya tak masuk target operasi (Non T.O) dalam Operasi Pekat Menumbing 2026 itu akhirnya terbongkar. Polisi mengungkap praktik pengambilan barang secara bertahap yang berlangsung nyaris setengah tahun tanpa terendus publik.
Peristiwa bermula Sabtu, 7 Februari 2026 sekitar pukul 13.30 WIB. Ahmad Latif (58), Deputy Store Manager yang datang dari Batam, mendapati keganjilan di gudang milik PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk di kawasan Gedung Nasional, Kecamatan Taman Sari. Seorang petugas keamanan melapor melihat seseorang membawa kardus dari dalam area penyimpanan.
“Awalnya kami kira hanya salah prosedur. Tapi setelah cek CCTV, terlihat jelas barang dibawa keluar tanpa izin,” ujar sumber internal yang terlibat dalam audit awal perusahaan.
Audit cepat dilakukan. Hasilnya mencengangkan: puluhan unit barang hilang, dari alat pertukangan, elektronik kecil, hingga perlengkapan outdoor. Kerugian ditaksir mencapai Rp19,7 juta. Laporan resmi langsung dilayangkan ke polisi.
Namun yang terungkap kemudian lebih mengejutkan dari sekadar angka kerugian.
Dalam penyelidikan yang berujung penggerebekan Kamis siang, tim opsnal menemukan fakta: pencurian bukan aksi spontan, melainkan kebiasaan berulang. Enam pelaku—Willy Gibsen (24), Muhammad Nur (29), Doli (29), Yolan Setiawan (28), Mardiansyah (28), dan Risdianto (33)—ternyata karyawan di pusat perbelanjaan tersebut.
Mereka mengaku mengambil barang sedikit demi sedikit sejak September 2025.
“Pelaku mengambil secara berangsur-angsur, disesuaikan kebutuhan. Ada yang dipakai sendiri, ada yang dijual,” kata penyidik dalam keterangan resmi.
Motifnya bukan gaya hidup mewah, melainkan tekanan ekonomi yang mereka klaim menghimpit. Dari pengakuan polisi, sebagian barang digunakan langsung: jas hujan, sepatu kerja, kipas angin, hingga peralatan rumah tangga.
Namun tidak semua berhenti di sana. Doli, salah satu pelaku, mengaku menjual sebagian barang seperti mesin bor, gerinda, dan polisher seharga Rp1,5 juta kepada seseorang berinisial Dedi. Uang itu, katanya, habis untuk kebutuhan sehari-hari.
Pengakuan itu membuka sisi human interest yang pahit: pelaku adalah pekerja retail kelas bawah yang hidup di tengah inflasi kebutuhan dasar. Namun di mata hukum, motif tidak menghapus tindak pidana.
Saat diamankan di kawasan Sudirman sekitar pukul 11.00 WIB, keenamnya tak melawan. Polisi menyita puluhan barang bukti dari tangan masing-masing pelaku: dari obeng dan lampu kerja, jet cleaner, hingga sleeping bag dan alat listrik.
Tumpukan barang sitaan memenuhi meja penyidik—membentuk potret sunyi tentang bagaimana pencurian kecil, jika dibiarkan, berubah menjadi pola sistematis.
“Ini bukan aksi sekali dua kali. Ada pola, ada keberanian, dan ada celah pengawasan,” ujar sumber kepolisian.
Kasus ini kini masuk tahap penyidikan lanjutan. Polisi mendalami kemungkinan penadah lain dan menelusuri apakah praktik serupa terjadi di lokasi berbeda.
Di sisi lain, kasus ini memantik pertanyaan lebih luas: bagaimana sistem pengawasan internal perusahaan bisa ditembus begitu lama? Dan sejauh mana tekanan ekonomi mendorong kriminalitas sunyi di balik etalase ritel modern?
Lorong gudang kini kembali sunyi. Tapi kisah di baliknya meninggalkan gema panjang—tentang kepercayaan yang runtuh pelan-pelan, diambil sedikit demi sedikit, hingga akhirnya ambruk sekaligus.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Pencurian Sistematis Berbulan-bulan Terbongkar, Pelaku Akui Motif Bertahan Hidup Sehari-hari Pahit
JUMAT, 27 FEBRUARI 2026
Pangkalpinang, DNID.co.id — Aroma besi, debu kardus, dan derit pintu gudang masih terasa di lorong Gedung Nasional, Jalan Jenderal Sudirman, Pangkalpinang. Namun Kamis (26/2/2026) pagi itu, suasana berubah tegang. Tim Buser Naga Satreskrim Polresta Pangkalpinang menyergap enam pria—bukan perampok profesional, melainkan karyawan yang diam-diam membobol tempat kerja mereka sendiri.
Kasus pencurian yang sebelumnya tak masuk target operasi (Non T.O) dalam Operasi Pekat Menumbing 2026 itu akhirnya terbongkar. Polisi mengungkap praktik pengambilan barang secara bertahap yang berlangsung nyaris setengah tahun tanpa terendus publik.
Peristiwa bermula Sabtu, 7 Februari 2026 sekitar pukul 13.30 WIB. Ahmad Latif (58), Deputy Store Manager yang datang dari Batam, mendapati keganjilan di gudang milik PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk di kawasan Gedung Nasional, Kecamatan Taman Sari. Seorang petugas keamanan melapor melihat seseorang membawa kardus dari dalam area penyimpanan.
“Awalnya kami kira hanya salah prosedur. Tapi setelah cek CCTV, terlihat jelas barang dibawa keluar tanpa izin,” ujar sumber internal yang terlibat dalam audit awal perusahaan.
Audit cepat dilakukan. Hasilnya mencengangkan: puluhan unit barang hilang, dari alat pertukangan, elektronik kecil, hingga perlengkapan outdoor. Kerugian ditaksir mencapai Rp19,7 juta. Laporan resmi langsung dilayangkan ke polisi.
Namun yang terungkap kemudian lebih mengejutkan dari sekadar angka kerugian.
Dalam penyelidikan yang berujung penggerebekan Kamis siang, tim opsnal menemukan fakta: pencurian bukan aksi spontan, melainkan kebiasaan berulang. Enam pelaku—Willy Gibsen (24), Muhammad Nur (29), Doli (29), Yolan Setiawan (28), Mardiansyah (28), dan Risdianto (33)—ternyata karyawan di pusat perbelanjaan tersebut.
Mereka mengaku mengambil barang sedikit demi sedikit sejak September 2025.
“Pelaku mengambil secara berangsur-angsur, disesuaikan kebutuhan. Ada yang dipakai sendiri, ada yang dijual,” kata penyidik dalam keterangan resmi.
Motifnya bukan gaya hidup mewah, melainkan tekanan ekonomi yang mereka klaim menghimpit. Dari pengakuan polisi, sebagian barang digunakan langsung: jas hujan, sepatu kerja, kipas angin, hingga peralatan rumah tangga.
Namun tidak semua berhenti di sana. Doli, salah satu pelaku, mengaku menjual sebagian barang seperti mesin bor, gerinda, dan polisher seharga Rp1,5 juta kepada seseorang berinisial Dedi. Uang itu, katanya, habis untuk kebutuhan sehari-hari.
Pengakuan itu membuka sisi human interest yang pahit: pelaku adalah pekerja retail kelas bawah yang hidup di tengah inflasi kebutuhan dasar. Namun di mata hukum, motif tidak menghapus tindak pidana.
Saat diamankan di kawasan Sudirman sekitar pukul 11.00 WIB, keenamnya tak melawan. Polisi menyita puluhan barang bukti dari tangan masing-masing pelaku: dari obeng dan lampu kerja, jet cleaner, hingga sleeping bag dan alat listrik.
Tumpukan barang sitaan memenuhi meja penyidik—membentuk potret sunyi tentang bagaimana pencurian kecil, jika dibiarkan, berubah menjadi pola sistematis.
“Ini bukan aksi sekali dua kali. Ada pola, ada keberanian, dan ada celah pengawasan,” ujar sumber kepolisian.
Kasus ini kini masuk tahap penyidikan lanjutan. Polisi mendalami kemungkinan penadah lain dan menelusuri apakah praktik serupa terjadi di lokasi berbeda.
Di sisi lain, kasus ini memantik pertanyaan lebih luas: bagaimana sistem pengawasan internal perusahaan bisa ditembus begitu lama? Dan sejauh mana tekanan ekonomi mendorong kriminalitas sunyi di balik etalase ritel modern?
Lorong gudang kini kembali sunyi. Tapi kisah di baliknya meninggalkan gema panjang—tentang kepercayaan yang runtuh pelan-pelan, diambil sedikit demi sedikit, hingga akhirnya ambruk sekaligus.