Pengembangan Kasus Tiga Perempuan Menyeret Pemasok Utama Sabu Mentok
Mentok, DNID.co.id — Jejak peredaran sabu di pesisir barat Pulau Bangka kian terang. Setelah tiga perempuan digulung dalam penggerebekan di Kampung Senang Hati, aparat kembali bergerak. Seorang pria berinisial RA, yang diduga sebagai pemasok utama, ditangkap di rumahnya di Kampung Keranggan Atas, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Mentok, Sabtu (28/2/2026) sekitar pukul 00.30 WIB.
Penangkapan RA menjadi babak baru pengembangan kasus yang dibongkar jajaran Polres Bangka Barat. Aparat Satresnarkoba bersama Unit Res-Intel Polsek Mentok mendatangi rumah bercat kusam di lorong sempit yang hanya diterangi lampu jalan temaram. Di sanalah, polisi menduga alur sabu yang beredar di tangan tiga perempuan itu bermula.
“Dari hasil pemeriksaan awal terhadap tiga tersangka sebelumnya, sabu yang mereka kuasai mengarah pada RA sebagai pemasok,” ujar Kasi Humas Polres Bangka Barat, Yos Sudarso, mewakili Kapolres Bangka Barat AKBP Pradana Aditya Nugraha, dalam keterangan resmi.
Dalam penggeledahan yang disaksikan Ketua RT setempat, polisi menemukan dua paket kecil sabu seberat bruto 0,66 gram yang disembunyikan di dalam kotak pensil. Selain itu, turut diamankan satu unit timbangan digital, potongan pipet dan plastik bening, dua bungkus sedotan besar, satu unit telepon genggam, serta sepeda motor yang diduga digunakan untuk menunjang distribusi.
Bagi warga Keranggan Atas, penangkapan itu seperti tamparan dini hari. “Kami tidak menyangka. Selama ini terlihat biasa saja,” kata seorang warga yang meminta namanya dirahasiakan. Ia mengaku kerap melihat lalu-lalang tamu di rumah tersebut, namun tak pernah menduga aktivitas di balik pintu yang selalu tertutup rapat.
Polisi menduga RA bukan sekadar pengguna. Indikasi alat takar digital dan kemasan siap edar mengarah pada peran lebih tinggi dalam rantai distribusi. Aparat kini mendalami apakah RA berdiri sendiri atau menjadi simpul dari jaringan yang lebih besar di Mentok dan sekitarnya.
“Kami tidak berhenti pada pengedar di lapangan. Setiap kasus akan kami kembangkan untuk mengungkap siapa yang berada di belakangnya. Ini bagian dari komitmen kami memberantas narkoba sampai ke akarnya,” ujar Yos.
Siapa RA? Pria itu ditangkap di kediamannya sendiri, pada jam ketika sebagian besar warga terlelap. Apa yang terjadi? Pengembangan kasus dari penggerebekan sebelumnya mengarah pada dugaan peran sebagai pemasok sabu. Di mana? Kampung Keranggan Atas, Mentok. Kapan? Sabtu dini hari, 28 Februari 2026. Mengapa? Polisi menduga ia menjadi sumber pasokan bagi pengedar di lapangan. Bagaimana? Melalui serangkaian pemeriksaan, pengintaian, dan penggeledahan yang melibatkan unsur Satresnarkoba dan Res-Intel.
Pengungkapan beruntun dalam waktu singkat ini, menurut polisi, tak lepas dari informasi masyarakat. Sinergi itu disebut menjadi kunci memutus mata rantai peredaran narkotika yang menyusup hingga ke lorong-lorong kampung.
Namun, pertanyaan lebih besar menggantung: seberapa dalam akar jaringan ini mencengkeram Mentok? Wilayah pesisir yang sibuk oleh aktivitas pelabuhan dan perdagangan kerap menjadi titik rawan peredaran barang terlarang. Aparat kini menelusuri kemungkinan adanya pemasok di atas RA, termasuk jalur masuk sabu ke Bangka Barat.
RA beserta seluruh barang bukti kini diamankan di Mapolsek Mentok untuk proses penyidikan lebih lanjut. Polisi memastikan penyidikan tak akan berhenti pada satu nama.
“Ini bukan akhir. Kami masih mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain. Tidak ada ruang aman bagi pelaku peredaran narkotika di Bangka Barat,” kata Yos.
Di tengah dingin dini hari Mentok, penangkapan itu menjadi pesan keras: perang melawan sabu belum usai. Dan bagi warga yang rumahnya bersebelahan dengan lokasi penangkapan, suara ketukan pintu aparat dini hari tadi mungkin akan lama terngiang—sebagai pengingat bahwa bahaya bisa bersembunyi di balik dinding yang tampak biasa saja.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Pengembangan Kasus Tiga Perempuan Menyeret Pemasok Utama Sabu Mentok
MINGGU, 1 MARET 2026
Mentok, DNID.co.id — Jejak peredaran sabu di pesisir barat Pulau Bangka kian terang. Setelah tiga perempuan digulung dalam penggerebekan di Kampung Senang Hati, aparat kembali bergerak. Seorang pria berinisial RA, yang diduga sebagai pemasok utama, ditangkap di rumahnya di Kampung Keranggan Atas, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Mentok, Sabtu (28/2/2026) sekitar pukul 00.30 WIB.
Penangkapan RA menjadi babak baru pengembangan kasus yang dibongkar jajaran Polres Bangka Barat. Aparat Satresnarkoba bersama Unit Res-Intel Polsek Mentok mendatangi rumah bercat kusam di lorong sempit yang hanya diterangi lampu jalan temaram. Di sanalah, polisi menduga alur sabu yang beredar di tangan tiga perempuan itu bermula.
“Dari hasil pemeriksaan awal terhadap tiga tersangka sebelumnya, sabu yang mereka kuasai mengarah pada RA sebagai pemasok,” ujar Kasi Humas Polres Bangka Barat, Yos Sudarso, mewakili Kapolres Bangka Barat AKBP Pradana Aditya Nugraha, dalam keterangan resmi.
Dalam penggeledahan yang disaksikan Ketua RT setempat, polisi menemukan dua paket kecil sabu seberat bruto 0,66 gram yang disembunyikan di dalam kotak pensil. Selain itu, turut diamankan satu unit timbangan digital, potongan pipet dan plastik bening, dua bungkus sedotan besar, satu unit telepon genggam, serta sepeda motor yang diduga digunakan untuk menunjang distribusi.
Bagi warga Keranggan Atas, penangkapan itu seperti tamparan dini hari. “Kami tidak menyangka. Selama ini terlihat biasa saja,” kata seorang warga yang meminta namanya dirahasiakan. Ia mengaku kerap melihat lalu-lalang tamu di rumah tersebut, namun tak pernah menduga aktivitas di balik pintu yang selalu tertutup rapat.
Polisi menduga RA bukan sekadar pengguna. Indikasi alat takar digital dan kemasan siap edar mengarah pada peran lebih tinggi dalam rantai distribusi. Aparat kini mendalami apakah RA berdiri sendiri atau menjadi simpul dari jaringan yang lebih besar di Mentok dan sekitarnya.
“Kami tidak berhenti pada pengedar di lapangan. Setiap kasus akan kami kembangkan untuk mengungkap siapa yang berada di belakangnya. Ini bagian dari komitmen kami memberantas narkoba sampai ke akarnya,” ujar Yos.
Siapa RA? Pria itu ditangkap di kediamannya sendiri, pada jam ketika sebagian besar warga terlelap. Apa yang terjadi? Pengembangan kasus dari penggerebekan sebelumnya mengarah pada dugaan peran sebagai pemasok sabu. Di mana? Kampung Keranggan Atas, Mentok. Kapan? Sabtu dini hari, 28 Februari 2026. Mengapa? Polisi menduga ia menjadi sumber pasokan bagi pengedar di lapangan. Bagaimana? Melalui serangkaian pemeriksaan, pengintaian, dan penggeledahan yang melibatkan unsur Satresnarkoba dan Res-Intel.
Pengungkapan beruntun dalam waktu singkat ini, menurut polisi, tak lepas dari informasi masyarakat. Sinergi itu disebut menjadi kunci memutus mata rantai peredaran narkotika yang menyusup hingga ke lorong-lorong kampung.
Namun, pertanyaan lebih besar menggantung: seberapa dalam akar jaringan ini mencengkeram Mentok? Wilayah pesisir yang sibuk oleh aktivitas pelabuhan dan perdagangan kerap menjadi titik rawan peredaran barang terlarang. Aparat kini menelusuri kemungkinan adanya pemasok di atas RA, termasuk jalur masuk sabu ke Bangka Barat.
RA beserta seluruh barang bukti kini diamankan di Mapolsek Mentok untuk proses penyidikan lebih lanjut. Polisi memastikan penyidikan tak akan berhenti pada satu nama.
“Ini bukan akhir. Kami masih mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain. Tidak ada ruang aman bagi pelaku peredaran narkotika di Bangka Barat,” kata Yos.
Di tengah dingin dini hari Mentok, penangkapan itu menjadi pesan keras: perang melawan sabu belum usai. Dan bagi warga yang rumahnya bersebelahan dengan lokasi penangkapan, suara ketukan pintu aparat dini hari tadi mungkin akan lama terngiang—sebagai pengingat bahwa bahaya bisa bersembunyi di balik dinding yang tampak biasa saja.